Gendola, tanaman murah berkhasiat menyembuhkan penyakit gawat.

Ismoyo Prawirodirjo termangu di meja makan. Lauk dan sayur yang terhidang tidak menggugah selera makannya. Padahal sang istri memasak sayur bening kesukaannya. Ketimbang tidak makan, Ismoyo membeli lauk dari warung makan di dekat tempat tinggalnya di Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

Kehilangan selera makan hanya salah satu gejala yang Ismoyo rasakan 2 tahun terakhir. Selain itu ia sering tiba-tiba merasa mual. Atas saran putra bungsunya, ia memeriksakan diri ke rumah sakit. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) menunjukkan gumpalan kecil dalam empedunya.

Dokter juga mendiagnosis pembentukan jaringan lemak di sekitar hati. Padahal mantan dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta itu juga mengidap tukak lambung. Itu sebabnya ia mengira kondisi yang ia alami sekadar gejala gangguan lambung.

Bambang Sudewo: campuran daun dan batang meningkatkan daya penyembuhan
Bambang Sudewo: campuran daun dan batang meningkatkan daya penyembuhan

Homeostasis

“Tukak lambung, pelemakan hati, dan batu empedu sama-sama mengganggu nafsu makan,” kata Dr dr H Arijanto Jonosewojo SpPD, ahli penyakit dalam dari Universitas Airlangga, Surabaya. Sejatinya, kehadiran jaringan lemak kurang dari 5% dalam kelenjar di hati terbilang normal.

Yang jadi masalah kalau jumlahnya terlalu banyak sehingga mengganggu kinerja hati. Padahal, kelenjar hati berfungsi menetralkan racun, membongkar sel darah, serta merakit zat hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen dalam darah.

Jika dibiarkan hingga kronis, fungsi hati lama-kelamaan terganggu. Dalam jangka panjang kinerja organ itu bakal menurun. “Sel-sel hati rusak membentuk jaringan parut, kondisi yang disebut sirosis. Jika itu terjadi, tubuh penderita menjadi lemah lantaran racun dalam darah tidak ternetralisir,” kata Arijanto.

Dalam jangka panjang, penderita bisa menderita kegagalan fungsi hati sampai menemui ajal. Bersama paru-paru, jantung, ginjal, hati dan pankreas membentuk sistem homeostasis tubuh. Sistem itu mengatur agar konsentrasi cairan, kadar pH dan tingkat oksigen darah, gula darah, serta suhu tubuh tetap ajek dalam kondisi apa pun. Jika salah satu mengalami gangguan, kesehatan penderita terganggu.

Baca juga:  Khasiat Mujarab Daun Tin

Empedu adalah kantung penyimpan cairan “buangan” hati. Fungsi empedu membantu pencernaan dan penyerapan lipid dan membantu pembuangan sisa-sisa sel darah. Empedu mengandung garam-garam elektrolit yang melarutkan lipid. Setelah larut, lipid tinggal dibawa oleh aliran darah untuk dipecah sebagai energi. Menurut Arijanto, ada 3 jenis pembentuk batu empedu: kolesterol, pigmen hitam, dan pigmen cokelat.

Buah dan biji pun berkhasiat
Buah dan biji pun berkhasiat

Kemungkinan terbentuk batu akibat kolesterol biasanya terkait dengan gula darah tinggi atau terapi hormonal. Penyebab lain penurunan bobot tubuh yang terlalu cepat menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Efeknya hormon-hormon itu “dibuang” di empedu.

Sementara pigmen hitam memicu pembentukan batu empedu kalau terjadi kerusakan besar-besaran sel darah merah. Biasanya itu terjadi ketika penderita mengalami penyakit berat, seperti berbagai jenis kanker.

Sementara gangguan lambung juga tidak bisa dianggap remeh. Menurut Valentina Indrajati, praktikus pengobatan herbal di Bogor, Jawa Barat, gangguan lambung bisa memicu gangguan organ lain. “Yang pertama terkena biasanya jantung karena tertekan ketika lambung membengkak,” kata Valentina. Setelah itu akan merembet ke paru-paru, ginjal, sampai hati.

Sejatinya pemicu gangguan fungsi organ berasal dari faktor pikiran. Menurut dr Fetty Amalita Madjid, dokter penganjur herbal di Cibubur, Jakarta Timur, tubuh manusia mempunyai fungsi memperbaiki diri sendiri. Namun, ketika pikiran tegang, fungsi-fungsi itu “terkompromikan” lantaran aliran energi difokuskan ke otak untuk membantu proses berpikir.

Pemicu lain, faktor makanan dan pola hidup. Makanan berkolesterol tinggi memicu pelemakan hati dan pembentukan batu empedu. Sementara tukak lambung dipicu oleh makanan bercita rasa tajam, terlalu asam, pedas, atau asin.

Ismoyo Prawirodirjo: Nafsu makan kembali normal
Ismoyo Prawirodirjo: Nafsu makan kembali normal

Pengujung Desember 2013, Ismoyo bertemu Bambang Sudewo, produsen herbal yang tinggal di Yogyakarta. Dewo memberikan sebotol kapsul daun gendola Basella alba. Ismoyo meminum 2 kali sehari masing-masing 2 kapsul: setelah makan pagi dan makan malam. Selang 10 hari, ia tidak lagi merasakan mual. Nafsu makannya pun kembali normal. Sayang, Ismoyo belum kembali memeriksakan diri ke dokter.

Baca juga:  Jamur Dewa Untuk Hipertensi

Pelindung hati

Gendola alias genjerot alias gandola itu berasal dari India. Namun, tanaman itu adaptif di tanah air dan tersebar luas di Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi. Dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia, K Heyne menulis gandola ditanam di istana-istana raja lantaran khasiat yang beragam dan aman untuk perempuan hamil.

Tak cuma daun, batang, buah, hingga biji pun berkhasiat. Itu sebabnya Dewo mencampurkan batang dan daun dalam kapsul. “Dengan demikian daya penyembuhan meningkat,” kata penerima penghargaan Pelaku Agrobisnis Hortikultura di Bidang Biofarmaka dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006 itu.

Pengalaman Valentina, gendola bahkan ampuh untuk meredakan kanker. Ia pernah meresepkan untuk penderita kanker paru-paru, nasofaring, dan penderita kanker usus. Tanaman mongtoi—nama gendola di Vietnam—itu bahkan tergolong herbal utama lantaran Valentina memberikan sebanyak 15 g dalam 150 g racikan herbal.

Kapsul daun gendola, lebih praktis
Kapsul daun gendola, lebih praktis

Riset Bamidele Olubayude dari Departemen Fisiologi Universitas Bowen Nigeria membuktikan bahwa ekstrak air daun gendola bersifat hepatoprotektif alias melindungi hati. Ia menguji terhadap 6 kelompok tikus putih wistar. Hasilnya, kelompok tikus yang diberi ekstrak air daun gendola menunjukkan peningkatan jumlah dan kualitas sel darah merah dan sel darah putih.

Selain itu, konsumsi daun gendola menurunkan kadar enzim alkalin fosfatase (ALP), alanin aminotransferase (ALT), dan aspartat aminotransaminase (AST) dalam darah. Enzim-enzim itu menjadi penanda terjadinya gangguan hati. Artinya, penurunan kadar enzim itu menandakan perbaikan fungsi hati. Itu persis yang dialami Ismoyo Prawirodirjo.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d