Mandai Berbiji Kempis 1
Cempedak milik Hendro berbiji kempis dengan warna daging buah jingga

Cempedak milik Hendro berbiji kempis dengan warna daging buah jingga

Cempedak biji kempis, rasa manis, warna jingga, dan berserat lembut.

Bagi Hendro Suparman cempedak bukan buah favorit. Ia tak menyukai buah anggota famili Moraceae itu. “Seratnya kuat sehingga sulit ditelan,” katanya. Namun, semuanya berubah ketika Hendro mencicip buah itu pada 2010 dengan sensasi rasa yang berbeda. “Serat daging buahnya lembut sehingga gigi mudah memotong, manisnya pas, dan yang lebih istimewa bijinya kempis,” kata Hendro.

Hendro pun tak harus membeli mandai—sebutan cempedak di masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, di toko-toko buah atau pasar tradisional. Cempedak yang mengubah persepsinya itu berasal dari kebunnya sendiri di Ambarawa, Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat. Hendro menanam 6 pohon cempedak di lahan 2 hektar bersama buah-buahan lain seperti lengkeng, matoa, dan durian.

Per buah 15-an nyamplung

Per buah 15-an nyamplung

Tanpa perawatan

Hendro mendapatkan tanaman itu pada 2008 dari sesama penangkar buah di Pontianak. Kemudian bibit okulasi setinggi 0,5 m itu ditanam dengan lubang tanam ukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m. Saat memasukkan bibit, Hendro menambahkan 15 kg pupuk kandang sapi beserta tanah hasil kerukan lubang tanam yang telah merata. Sejak penanaman, Hendro tak melakukan perawatan lagi. “Cempedak termasuk buah yang kurang populer dan kurang bernilai ekonomi di Pontianak sehingga saya abaikan. Apalagi saat itu saya masih belum suka cempedak,” kata Hendro.

Seingat Hendro hanya sekali saja ia memberikan pupuk susulan saat umur tanaman sekitar 2 tahun. “Itu pun cuma pupuk kandang sapi,” ujar Hendro. Bahkan, karena kurang terawatnya pohon cempedak itu, gulma merambati batangnya. Pada umur 3 tahun pascatanam, cempedak itu mulai berbuah. Satu pohon menghasilkan 12 buah berbobot masing-masing sekitar 1,5 kg. Hendro pun penasaran untuk mencicipinya. Ia memetik satu buah lalu memeram selama 3 hari. Buah telah matang dan aroma harum menyeruak.

Dr Lutfi Bansir, "Cempedak berbiji kempis karena faktor genetik seperti pada durian monthong

Dr Lutfi Bansir, “Cempedak berbiji kempis karena faktor genetik seperti pada durian monthong

Saat itulah ia membelah kulit dan mengambil 1 nyamplung baru kemudian memakannya. “Rasanya berbeda sekali dengan cempedak yang pernah saya makan. Rasa manisnya pas, seratnya lembut sekali sehingga saya mudah menelannya. Dan yang aneh, bijinya kempis seluruhnya,” kata Hendro. Namun, ayah 3 anak itu masih menganggap biasa dan mengabaikan tanaman cempedaknya. “Mungkin kebetulan saja tidak terserbuki secara sempurna sehingga bijinya kempis,” kata Hendro.

Baca juga:  Bisnis Besar Betta

Tiga tahun

Selang setahun sejak panen perdana, cempedak itu berbuah lagi. Jumlah buah meningkat menjadi 17 buah. Sosok buah sama dengan panen perdana. Lagi-lagi buah cempedak itu seluruhnya berbiji kempis. “Paling hanya satu biji saja yang masih sempurna dalam satu buah, lainnya kempis. Tak jarang pula semua biji kempis,” kata Hendro.

Pada panen ke-3 saat umur tanaman 5 tahun, Hendro sekali lagi terpukau. Tiga puluh buah yang ia panen lagi-lagi berbiji kempis. Ia bertanya-tanya, apakah cempedak miliknya termasuk jenis unggul atau biasa saja. Ia pun mencoba membagi-bagikan seluruh buah kepada tetangga dan penangkar buah kenalannya. Salah satu penangkar buah yang mendapat kiriman cempedak dari Hendro Suparman adalah Nodi Fajar. Penangkar buah di Balikpapan, Kalimantan Timur, itu mendapat kiriman 2 buah cempedak.

Cempedak mudah terserbuki meski tanpa bantuan manusia

Cempedak mudah terserbuki meski tanpa bantuan manusia

Nodi Fajar sempat heran menemukan cempedak berbiji kempis. “Kalau durian sudah lazim,” kata anggota komunitas Maniak Durian itu. Dari dua buah cempedak yang diterima, Nodi hanya mendapati dua biji utuh. Padahal dari 1 buah, ada 15—20 nyamplung, artinya ada 19 nyamplung berbiji kempis. “Selain biji kempis rasanya juga manis dan teksturnya lembut, warna daging buah juga menarik, jingga kemerahan,” kata Nodi.

Malaysia

Menurut Ir AF Margianasari, ahli buah di Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Kabupaten Bogor, ada dua kemungkinan cempedak itu berbuah kempis. Pertama, karena penyerbukan tidak sempurna dan memang dari faktor bibitnya. Namun, melihat stabilitas cempedak milik Hendro yang terus-menerus berbiji kempis, Margianasari menduga karena faktor genetis bibit. Hal senada diungkapkan Dr Lutfi Bansir SP MP, peneliti buah dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Cempedak milik Hendro berbiji kempis lantaran memiliki faktor genetis berbiji kempis seperti durian monthong.

Baca juga:  Belalang Janur

Lutfi juga mengoleksi 1 pohon cempedak berbiji kempis di Bulungan. Ia mendapatkan pohon itu dari nurseri Taman Buah Bunton di Wagir, Kabupaten Malang. Cahyani Tri Gunastri, pengelola nurseri itu menuturkan, pihaknya mendatangkan cempedak biji kempis pada akhir 2004 dari Malaysia. Saat itu Nana—sapaan akrabnya—mendapatkan 10 bibit sambung susu setinggi 0,5 meter.

Pada kondisi normal, buah cempedak berbiji

Pada kondisi normal, buah cempedak berbiji

Menurut Lutfi cempedak miliknya juga tak berbiji seperti informasi yang ia dapatkan dari Nana. Pada panen pertama ada sekitar 10 buah, dengan bobot 1,5—2 kg. Semua nyamplung, sekitar 20—25 berbiji kempis. Namun, karena kurang terawat, cempedak itu kini mogok berbuah.

Menurut ahli Fisiologi Tumbuhan, Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MS, buah cempedak tanpa biji milik Hendro yang terus-menerus tanpa biji diakibatkan karena mutasi. Untuk perbanyakannya dapat dilakukan secara vegetatif agar karakter keturunannya menyerupai tanaman induk. “Jika dari biji, masih ada peluang dominan kepada cempedak normal,” kata Edhi.

Sejak panen ke-3, Hendro tak lagi mengabaikan cempedak itu. Kini ia mulai merawatnya secara intensif. Hendro memberikan pupuk NPK 0,5 kg dan pupuk kandang sebanyak 30—an kg dan dilakukan dua kali setahun. Menurut Lutfi, cempedak biji kempis layak dikembangkan secara komersial. Selain warnanya menarik dan berbiji kempis, dari segi ukuran cempedak itu proporsional untuk sekali santap dan habis. “Porsinya pas untuk satu orang dan habis,” kata Lutfi. Melihat beragam keunggulan itu, kini Hendro sudah menyiapkan 1.000 batang bawah cempedak lokal yang  akan disambung dengan cempedak biji kempis sebagai batang atas. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *