Bayam duri (kiri) dan sambiloto, dua tanaman herbal bersinergi untuk lawan malaria

Bayam duri (kiri) dan sambiloto, dua tanaman herbal bersinergi untuk lawan malaria

Bayam duri dan sambiloto berpotensi sembuhkan malaria.

Faris Rama tidak akan pernah melupakan kunjungan pertamanya ke wilayah paling timur Indonesia. Pada Agustus 2011 lalu, ia beserta tujuh rekan di Jurusan Geologi sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung, melakukan eksplorasi batubara ke pedalaman Timika, Papua. Lokasi eksplorasi yang jauh dari pusat kota mengharuskan ia tinggal di dalam hutan selama sebulan.

Setelah kembali ke kota Timika, ia demam hebat dan tubuhnya menggigil dan ngilu. Padahal, pagi hari kondisi tubuhnya sehat dan suhu badannya normal. Demam berlangsung 2 jam pada sore lalu reda. Pada tengah malam, ia kembali demam sampai terjaga dari tidur. Demam itu berlangsung selama seminggu. “Panas tertinggi pernah mencapai 41,40C,” kata Faris.

Lapisan baju, sweater, jaket, dan selimut tebal pun tidak mampu menahan dingin yang ia rasakan ketika menggigil. Hasil tes menunjukkan ia terinfeksi malaria tertiana yang disebabkan Plasmodium vivax sekaligus malaria tropika yang disebabkan Plasmodium falciparum.

Pencegahan gagal

Sejatinya seluruh anggota rombongan mengantisipasi serangan malaria dengan mengonsumsi obat antimalaria. Nyatanya, gigitan nyamuk mampu menembus pertahanan tubuh hampir seluruh anggota tim. Tujuh dari delapan anggota tim terkena malaria termasuk Faris. Menurut Lenny Lia Ekawati SSi MKes, dari Yayasan Paritrana Asia, Jakarta, kemoprofilaksis—obat pencegah malaria—efektif bila dikonsumsi sesuai dosis, jenis, dan waktu yang telah ditentukan. Bila wilayah dinyatakan resisten maka obatnya juga harus disesuaikan.

Kementerian Kesehatan merekomendasikan dosis kemoprofilaksis sebanyak 5 mg klorokuin per kg bobot tubuh per minggu. Orang yang akan memasuki daerah endemik malaria dianjurkan mengonsumsi obat antimalaria itu seminggu sebelumnya dan selama berada di sana. Alternatifnya, menggunakan doksisiklin yang diminum 1—2 hari sebelum kunjungan, dilanjutkan setiap hari selama kunjungan sampai 4 minggu sesudah meninggalkan tempat. Faris mengakui ia lalai dengan jadwal minum obat lantaran kesibukan di lapangan. Obat pencegah tidak sepenuhnya menjamin bebas malaria. Pencegahan gigitan menggunakan kelambu tidur, cairan penolak nyamuk, dan aplikasi insektisida juga diperlukan.

Sambiloto mengandung andrografolid yang bersifat antiplasmodial

Sambiloto mengandung andrografolid yang bersifat antiplasmodial

Bahaya resistensi

Baca juga:  Rangkaian Bunga Pembawa Pesan

Dr J Kevin Baird, peneliti malaria, melaporkan bahwa tablet klorokuin 300 mg yang menjadi standar pencegahan malaria selama lebih dari 40 tahun kini dinyatakan tidak efektif melawan P. vivax di Irian Jaya—kini Papua dan Papua Barat. Riset Prof. Nicholas J White, dari Fakultas Pengobatan Tropika, Universitas Mahidol, Thailand. Dalam “The Journal of Clinical Investigation” menyebutkan resistensi mungkin terjadi sebagai akibat dari pengobatan malaria yang tidak tuntas, tidak lengkap, tidak mencukupi sesuai dosis, dan penggunaan hanya satu dari kombinasi obat yang disarankan termasuk rendahnya kualitas obat. Banyaknya obat malaria yang beredar bebas di pasaran dan berkualitas rendah pun turut berpotensi memunculkan resistensi.

Resistensi terhadap obat malaria klorokuin menjadi dasar dilakukannya riset-riset pencarian bahan obat malaria baru termasuk dari tanaman herbal. Herbal yang berpotensi antara lain bayam duri Amaranthus spinosus dan sambiloto Andrographis paniculata.

Duo herbal

Potensi keduanya menarik Tiwuk Susantiningsih dari Studi Pascasarjana Program Ilmu Biomedis Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, meriset dua tanaman obat itu bersama timnya yakni Rahmawati Ridwan, Ani R Prijanti, Mohammad Sadikin, dan Hans-Joachim Freisleben. Uji dilakukan pada 20 mencit jantan umur 7—8 minggu dan berbobot 28—30 g/ekor. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing terdiri dari 4 mencit.

Satu kelompok menjadi kontrol negatif: tidak memperoleh perlakuan apa pun. Tiga kelompok lainnya diberi perlakuan ekstrak satu kali sehari selama 7 hari. Kelompok B memperoleh ekstrak bayam duri 10 mg/kg bobot tubuh, kelompok C ekstrak sambiloto 2 mg/kg bobot tubuh, dan kelompok D kombinasi ekstrak bayam 10 mg/kg bobot tubuh dan sambiloto 2 mg/kg bobot tubuh. Yang terakhir, kelompok E diberi klorokuin 10 mg/kg bobot tubuh sekali sehari selama 3 hari.

Usai pengujian, terjadi peningkatan signifikan kadar hemoglobin di semua kelompok perlakuan dibandingkan kontrol. Lazimnya, penderita malaria mengalami penurunan hemoglobin yang menyebabkan anemia. Pemberian ekstrak bayam duri kepada mencit menghambat aktivitas P. berghei sebesar 39,42%, sedangkan penghambatan sambiloto mencapai 48,19%.

Baca juga:  Sisir Bulu Kucing

Ketika keduanya disatukan, aktivitas meningkat hingga 88,17%. Angka itu mendekati aktivitas penghambatan klorokuin yang mencapai 89,11%. Itu menunjukkan kombinasi bayam duri 10 mg/kg BB dan sambiloto 2 mg/kg BB setara klorokuin 10 mg/kg BB. Dosis itu terbukti aman: 100% hewan uji selamat.

Riset Adama Hilou dan rekan dari Universitas Ouagadougou, Burkina Faso, menyebutkan bayam duri terbukti antimalaria di tikus. Menurut Marie L Ancelin dari Department of Biologie-Santé, Montpellier, Perancis dan rekan, menyebutkan bayam duri mengandung betanin dan amarantin yang menghambat perkembangan parasit P. falciparum. Sambiloto mengandung andrografolid yang memiliki aktivitas antiplasmodial seperti disebut Kirti Mishra, peneliti Institut Ilmu Hayati, Orissa, India, dalam “Journal of Tropical Medicine.”

Dalam “Medical Journal of Indonesia”, Tiwuk dan rekan menyebutkan kombinasi bayam duri dan sambiloto melawan Plasmodium dapat terjadi lewat beberapa mekanisme antara lain pengelatan ion metal yang penting dalam metabolisme parasit, peningkatan hemoglobin, dan aktivasi superoksida dismutase (SOD) alias enzim antioksidan.

Menurut Lenny, pengobatan malaria menggunakan herbal bisa menjadi sumber pengobatan alternatif. Apalagi dengan adanya peningkatan kasus resistensi obat malaria. “Yang terpenting, obat efektif dan aman bagi penderita,” ujar master kesehatan alumni Universitas Indonesia itu. Riset bayam duri dan sambiloto jelas membawa angin segar bagi masalah resistensi malaria di tanahair. (Kiki Rizkika)

cover 1234.pdf

 

1.    Nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit Plasmodium menyuntikkan sporozoit—bentuk parasit dalam tahap menginfeksi—ke dalam tubuh manusia.
2.    Sporozoit terbawa aliran darah ke hati, membelah secara aseksual kemudian menyerang sel darah merah.
3.     Proses siklus aseksual dalam sel darah merah ditandai gejala demam dan mengigil pada penderita.
4.     Gametosit yang terbentuk kembali diisap nyamuk Anopheles sp. Nyamuk itu kemudian menjadi vektor penyebaran malaria.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d