Menikmati kopi berkualitas tinggi plus cara pengolahannya.

Kopi robusta amstirdam lolos sertifikasi tingkat dunia dengan meraih sertifikasi Common Code for Coffee Community.

Kopi robusta amstirdam lolos sertifikasi tingkat dunia dengan meraih sertifikasi Common Code for Coffee Community.

“Masuk tiga besar kopi paling enak di Indonesia,” ujar peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Ir Yusianto yang menilai citarasa kopi amstirdam. Kopi robusta amstirdam bercitarasa amat kas, ada rasa cokelat dan karamel. Menurut Yusianto kualitas itu dapat tercapai karena para petani kopi di Amstirdam bagus dalam pengolahan. Mereka disiplin dalam panen sehingga mayoritas kopi hasil panennya sudah merah.

Selain itu, “Mereka melakukan pengeringan dalam kondisi kopi pecah kulit sehingga kualitasnya semakin bagus,” ujar Yusianto. Untuk menikmati kelezatannya para pencinta kopi silakan datang ke Malang, bukan Negeri Belanda. Di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Amstirdam memang sohor sebagai sentra kopi berkualitas. Masyarakat menyebut Amstirdam merujuk pada Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, dan Dampit.

Eksportir
Keempat kecamatan itu membudidayakan, mengolah, mengemas, dan menjual kopi robusta dan arabika kualitas premium. Menurut penyuluh pertanian di Kecamatan Dampit, Jajang Slamet Somantri SP, luas total lahan kopi di Kecamatan Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, dan Dampit (Amstirdam) 12.200 hektare. Dengan produktivitas 1,5 ton per hektare total produksi per tahun mencapai 18.000 ton kopi beras atau ose.

Tustianingsih, di kedai kopi klaster agribinis dengan kopi bubuk buatan kelompok tani Tani Harapan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Tustianingsih, di kedai kopi klaster agribinis dengan kopi bubuk buatan kelompok tani Tani Harapan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Jajang mengatakan, “Sekitar 2012 lahan kopi sempat berkurang sekitar 20%. Petani mengganti kopi dengan tebu lantaran harga tebu lebih tinggi.” Namun, pada akhir tahun itu, para petani kembali menanam kopi lantaran ada tawaran menarik dari PT Asal Jaya, eksportir di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Baca juga:  Miliarder Kopi Luwak

PT Asal Jaya akan membeli kopi lolos sertifikasi Common Code for Coffee Community dengan harga tinggi. Perusahaan itu bersedia membeli Rp200—Rp2.000 per kg lebih tinggi dibanding dengan harga pasar. Pada 2012 dilakukan tes untuk kelolosan sertifikasi itu, tetapi kopi yang dibudidayakan 92 kelompok tani itu tidak lolos. Pada tahun berikutnya, kembali para petani kopi yang tergabung pada 108 kelompok tani mengikuti tes dan akhirnya lolos.

Saat itu 5.720-an petani dengan luas lahan 4.212 hektare memasok kopi layak ekspor. “Itu pun belum memenuhi kebutuhan kopi PT Asal Jaya,” ujar alumnus Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Padjadjaran itu. Setiap tahun PT Asal Jaya mengekspor 55.000 ton kopi ke berbagai negara seperti Jepang, Perancis, Arab Saudi, Amerika, dan Turki.

Jajang Slamet Somantri SP (kanan) penyuluh pertanian Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan Katiran, anggota Kelompok Tani Tani Harapan di depan mesin produksi kopi bubuk.

Jajang Slamet Somantri SP (kanan) penyuluh pertanian Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan Katiran, anggota Kelompok Tani Tani Harapan di depan mesin produksi kopi bubuk.

“Dari 55.000 itu, kopi amstirdam menyumbang 15.000 ton kopi robusta, sisanya dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, hingga Vietnam,” ujar Jajang. Meski mengambil kopi dari berbagai daerah, PT Asal Jaya masih kekurangan. “Berapa pun akan di beli PT Asal Jaya,” ujarnya. Volume pembelian kopi amstirdam cenderung melonjak 100%.

Pada 2015 PT Asal Jaya hanya membeli 8.000 ton kopi amstirdam. Itu karena para petani pemilik sertifikat 4C semakin mengerti budidaya kopi yang baik sehingga produktivitas meningkat. “Kini saat petani tahu bagaimana budidaya kopi yang benar seperti pemupukan yang baik, pemilihan bibit yang bagus, produktivitas kopi mereka meningkat dari 1,25 ton per hektare menjadi 1,5 ton per hektare,” ujarnya.

Harga stabil
Menurut Jajang, kopi harganya stabil, tidak pernah di bawah Rp20.000, sementara harga pokok produksi (HPP) kopi sekitar Rp11.000—Rp12.000 per kg biji kopi kupasan. Sementara PT Asal Jaya meminta kopi berkualitas 1—6. “Bahkan saat kebutuhan tidak terpenuhi seperti ini kopi kualitas lost grade pun, mereka juga mau menerima. Harganya memang sesuai kondisi kopi,” ujar bagian Agrotek PT Asal Jaya itu.

Usaha pembibitan kopi menjadi salah satu unit usaha klaster agribisnis Kelompok Tani Tani Harapan.

Usaha pembibitan kopi menjadi salah satu unit usaha klaster agribisnis Kelompok Tani Tani Harapan.

Jajang mengatakan, kopi yang masuk kualitas 1 jika nilai cacatnya 1—25, kelas 2 (26—50), 51—125 (3). “Ada 20 hal yang menentukan nilai cacat. Contohnya kopi berlubang 1, berlubang 2. Ada kerikil. Nah kalau ada kerikil ini nilainya tinggi yaitu 5, karena kopi bahan untuk diminum. Untuk kopi amstirdam tidak ada mutu di bawah kelas 5. Rentangnya 2—4 saja nilai cacatnya.

Baca juga:  Tantangan, Bukan Halangan

Itu karena para petani memetik kopi merah dan menerapkan sistem MBS3—singkatan dari merah 95%, 5% kuning, bersih, sehat, seragam, dan segar. Selain itu, “Petani bisa menjual ke mana saja. Tidak harus ke PT Asal Jaya. Namun, kalau melihat harga yang ditawarkan, petani bersertifikasi pasti menjual ke PT Asal Jaya,” ujar Jajang.

Kopi robusta dampit unggul dari citarasa yang khas. Menurut lelaki asal Garut, Jawa Barat itu, hingga kini kopi robusta tetap paling banyak dibudidayakan di Amstirdam, untuk arabika masih terbatas dan hanya di daerah Ampelgading. Komoditas perkebunan itu menjadi sandaran hidup ribuan petani di Amstirdam. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d