Makin Tua Kian Top 1
Tuni asal Pulau Buru, Provinsi Maluku

Tuni asal Pulau Buru, Provinsi Maluku

Cengkih juara asal Provinsi Maluku, produktif dan tahan serangan hama penyakit.

Tua-tua keladi, makin tua makin produktif. Itulah cengkih tuni. Bayangkan pada umur 30—40 tahun, pohon cengkih tuni, menghasilkan 175 kg bunga basah—setara 48 kg bunga kering per tahun. Itu melebihi produktivitas varietas cengkih yang lazim ditanam masyarakat, sebut saja zanzibar gorontalo, zanzibar karo, atau cengkih AFO yang paling banter hanya 150 kg segar per pohon per tahun (lihat tabel). Andalan baru pekebun Provinsi Maluku itu juga tidak menunjukkan bekas serangan penggerek batang Nothopeus spp, pelubang batang Hexamitodera semivelutina, atau rayap. Artinya, tanaman Syzigium aromaticum itu tahan serangan ketiga jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) itu.

Pohon cengkih tuni hasilkan 1,7 ton per tahun

Pohon cengkih tuni hasilkan 1,7 ton per tahun

Observasi tim gabungan Dinas Perkebunan Kabupaten Buru Selatan, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP) Kota Ambon, Universitas Pattimura, dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor pada 2008 menemukan cengkih unggul itu tumbuh tersebar di 5 kecamatan di Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku. Kelimanya adalah Kecamatan Ambalau, Leksula, Madan, Namrole, dan Waisama. Tim lantas menyeleksi blok penghasil tinggi (BPT) dan pohon induk terpilih (PIT).

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mensyararatkan blok penghasil tinggi mesti memiliki luas minimal 0,5 ha dengan pohon mengelompok secara tunggal dan terpelihara baik. Produktivitas minimal 3—4 ton bunga kering per tahun per ha, dan mudah diakses. Pohon induk terpilih mesti mempunyai tajuk dengan kerapatan lebih dari 80%, mampu menghasilkan lebih dari 30 kg bunga basah per tahun, serta tidak menunjukkan bekas serangan OPT.

Bobot besar

Berdasarkan kriteria itu, tim memilih Kecamatan Namrole dan Kecamatan Waisama sebagai BPT pada 2009. Populasi berkisar 100—200 pohon per ha. Selanjutnya tim itu melakukan seleksi tahap 2 untuk memilih pohon terbaik dari populasi terpilih. Pada 2012, mereka kembali menyeleksi calon pohon terpilih untuk memperoleh PIT yang seragam dengan potensi hasil dan mutu tertinggi. Karakter yang diamati meliputi batang, percabangan, kanopi, daun, bunga, buah, biji, dan lokasi tumbuh.

Baca juga:  Tersihir Karya Kariyazaki

Selama itu tim dari keempat institusi itu mengamati karakter morfologi. Mereka memantau tinggi pohon, lebar tajuk, lingkar batang, panjang cabang, karakter daun, jumlah bunga per tangkai, bobot buah, biji, produktivitas bunga basah, dan kadar minyak asiri. Selain itu, tim juga memantau jejak hama dan penyakit penting di populasi BPT terpilih. Data pendukung lain yang juga menjadi pertimbangan meliputi curah hujan, keasaman dan tingkat kesuburan tanah, penyebaran tanaman, penyebaran benih, teknologi budidaya, dan analisis usaha.

Hasil penelusuran tim pencari menunjukkan, cengkih tuni di Kecamatan Namrole dan Waisama merupakan keturunan pertama hasil penyerbukan terbuka dari 10 pohon induk yang ditanam pada 1965 di Kecamatan Ambalau. Penampilan morfologi tanaman nyaris seragam: sebagian besar batang utama berupa batang tunggal seperti cengkih ambon, sebagian mirip dengan cengkih sikotok, bercabang rendah (ketinggian 60 cm), cabang mendatar lalu melengkung ke atas dengan sudut 90, serta ujung melengkung mirip tanduk kerbau.

Pada 2013, akhirnya terpilih 24 pohon induk. Ada 2 lokasi dengan populasi masing-masing 4 pohon di Desa Laktama, Kecamatan Namrole. Sementara di Desa Oki Lama, Kecamatan Waisama, ada 2 lokasi yang masing-masing berisi 8 PIT. Pohon-pohon itu menunjukkan produktivitas bunga tinggi, tumbuh subur, tegak, dan sehat, berumur 35—40 tahun, tinggi pohon 10—15 m dengan lingkar batang sekitar 80—180 cm. Bentuk tajuk termasuk silindris dengan batang utama tunggal. Tajuk cengkih tuni cenderung tembus pandang, mirip tipe siputih dan berbeda dengan tipe zanzibar atau AFO yang umumnya rimbun gelap.

Bunga cengkih tuni berbentuk tabung dengan mahkota membulat, sepintas mirip bunga cengkih siputih. Aroma bunga masak petik kuat. Bobot bunga basah 0,36—0,6 g, lebih besar daripada cengkih zanzibar yang cuma 0,28—0,33 g. Karakter itu menjadikan tuni idola pekebun di Buru Selatan. Wajar saja, bobot lebih besar berarti keuntungan lebih banyak. Tidak itu saja, industri rokok juga menyukai bunga besar lantaran mempermudah dan mempercepat proses perajangan. Rendemen dari bunga basah ke bunga kering lebih dari 30%, berkisar 32,1—36,9%. Rendemen pengeringan bunga cengkih jenis lain paling banyak 30%.

Baca juga:  Seledri Antiketombe

Layak

Kehadiran cengkih tuni menjadi harapan mendongkrak kembali produksi cengkih Nusantara, yang sempat mencapai puncak pada pertengahan dekade 1990. Selanjutnya produksi tiarap hingga tingkat terendah. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, produktivitas cengkih Indonesia 2001—2005 sebesar 173 kg per ha per tahun. Angka itu menurun menjadi menjadi 171 kg per ha per tahun pada periode 2006—2010.

Penyebab penurunan itu antara lain karena petani tidak menggunakan benih yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian dan praktik budidaya yang buruk. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas yang paling efektif adalah dengan penggunaan bibit unggul di sentra produksi dan daerah yang memiliki ciri unggul khusus.

Mengapa produksi cengkih perlu ditingkatkan? Menurut Royan Agustinus Siburian dari Jurusan Ekonomi Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, rata-rata peningkatan konsumsi cengkih industri rokok kretek dari 1994—2007 mencapai 1,2% per tahun. Itu belum menghitung konsumsi industri minyak asiri, farmasi, dan rumahtangga. Itu sebabnya harga cengkih bertahan tinggi di kisaran Rp130.000—Rp180.000 per kg bunga kering. Dengan segala keunggulannya, cengkih tuni layak menjadi alternatif jenis cengkih yang ditanam pekebun. (Ir Ahmad Sarjana MSi, Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Ambon)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *