Bakteri protagonis menjauhkan busuk batang vanili.

Vanili bebas busuk batang perlu perawatan sejak dini.

Vanili bebas busuk batang perlu perawatan sejak dini.

Saat menengok tanaman di kebunnya, Mistiono menjumpai beberapa batang vanili menguning bahkan ada yang cokelat membusuk. Tanpa pikir panjang, ia segera membongkar tanaman rusak itu dan menggantinya dengan tanaman vanili baru. Pekebun di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu segera memusnahkan tanaman yang terkena penyakit agar tidak menulari tanaman sehat. “Penularannya cepat sekali,” kata Mistiono.

Salah satu masalah utama budidaya vanili adalah penyakit busuk batang vanili (BBV) akibat serangan cendawan Fusarium oxysporum. Cendawan itu menyerang seluruh bagian tanaman pada semua fase pertumbuhan. Penyebarannya melalui udara sehingga mudah menginfeksi tanaman. Menurut peneliti dan praktikus vanili, Prof Dr Ir Mesak Tombe MS, fusarium menyebar melalui udara dan menginfeksi melalui pelukaan pada tanaman vanili.

Tahan 10 tahun
Risiko terserang saat pembibitan mencapai 7—32%, hal itu lantaran luka terbuka ketika penyetekan bibit dapat terpapar langsung oleh spora Fusarium dari udara. Salah satu cara membuat bibit vanili bebas busuk batang adalah melalui induksi mikrob untuk memunculkan ketahanan tanaman terhadap busuk batang. Salah satu mikrob yang digunakan untuk menginduksi adalah Fusarium oxysporum nonpatogenik (Fo.NP).

Berbagai bahan organik yang mengandung mikrob protagonis dan pestisida nabati.

Berbagai bahan organik yang mengandung mikrob protagonis dan pestisida nabati.

Caranya mudah, celupkan ujung bibit vanili yang baru saja disetek ke dalam larutan konidia atau spora Fo.NP selama 30 menit. Setelah itu tanam menggunakan media yang terbebas dari cendawan penyebab busuk batang. Masa inkubasi cendawan selama 3 bulan. Bila dalam 3 bulan tidak muncul gejala busuk, maka bibit itu dinyatakan bebas penyakit maut itu. Tidak hanya bibit yang harus bebas BBV, media pembibitan pun mesti steril.

Baca juga:  Raja Buah Tanpa Aroma

Prof Mesak menambahkan bakteri Bacillus pantothenticus dan cendawan Trichoderma lactae yang merupakan musuh alami cendawan BBV ke dalam media pembibitan vanili. Kedua mikrob itu sekaligus menjadi biodekomposer limbah organik dan biofungisida untuk mengendalikan patogen. Bacillus pantothenticus yang berasal dari rizosfer tanaman jagung mampu merangsang perakaran, biodekomposer, dan menghasilkan antibiotik.

Busuk batang menurunkan produksi vanili.

Busuk batang menurunkan produksi vanili.

Peran lainnya, sebagai agen hayati yang melindungi sistem perakaran. Adapun cendawan Trichoderma lactae hasil isolasi dari rizosfer pohon jambu mete mampu menguraikan bahan organik menjadi kompos yang siap menyokong pertumbuhan tanaman. Makhluk liliput itu juga membentengi perakaran tanaman dari infestasi cendawan patogen. Lahan yang pernah terjangkit busuk batang sulit ditanami vanili karena cendawan tahan 7—10 tahun dalam tanah tanpa inang.

Untuk mengatasinya Prof Mesak menyarankan calon pekebun menumbuhkan koloni mikrob protagonis di lahan sebelum menanam. Caranya dengan membiarkan lahan bera selama 3 bulan lalu memberikan pupuk organik yang mengandung bakteri protagonis dan pestisida alami. Tiga bulan pascaperlakuan itu, lahan dapat kembali ditanami karena mikrob protagonis sudah mendominasi tanah.

Mengagumkan

Peneliti dan praktikus vanili, Prof Dr Ir Mesak Tombe MS.

Peneliti dan praktikus vanili, Prof Dr Ir Mesak Tombe MS.

Dominasi mikrob protagonis itu membuat cendawan F. oxysporum penyebab BBV tidak berkutik. Artinya perlakuan itu membuat lahan bekas tanaman terserang busuk batang bisa ditanami kembali setelah 6 bulan. Menurut Prof Mesak, selain mencegah serangan penyakit, pupuk organik yang mengandung mikrob protagonis juga memacu pertumbuhan. “Dengan pupuk organik, dalam setahun muncul 40 daun baru, sedangkan tanpa pupuk hanya 12 daun,” kata Mesak.

Selama menanam vanili, Mesak Tombe menyarankan pemberian pupuk organik terfermentasi 6 bulan sekali untuk mengantisipasi BBV. Saat mengaplikasikan sebaiknya berhati-hati, jangan sampai terjadi perlukaan baik di batang ataupun akar vanili karena dapat menyebabkan masuknya cendawan BBV. Athul Sandheep R dan rekan dari Sekolah Biosains Universitas Mahatma Gandhi, India, membuktikan kemampuan Trichoderma sp dan Pseudomonas sp menghalau cendawan BBV.

Baca juga:  Para Pencinta Canis Tangkas

Penelitian in vitro selama 5 hari itu menggunakan 10 jenis isolat Trichoderma sp. Daya hambat tertinggi terhadap Fusarium ditunjukkan oleh isolat Trichoderma virens, mencapai 88%. Itu lebih tinggi daripada penghambatan oleh Pseudomonas fluorescens, maksimal hanya 60%. Pengujian terhadap tanaman dalam rumahtanam menunjukkan hasil lebih mengagumkan. Pemberian isolat P. flourescens dan T. harzianum menghambat 92% infeksi cendawan BBV—4% lebih tinggi ketimbang pengujian in vitro.

Harga vanili kering mencapai Rp2-juta/kg.

Harga vanili kering mencapai Rp2-juta/kg.

Pasalnya, hanya 7,03% daun terinduksi cendawan BBV menunjukkan busuk batang. Menurut Sandep biokontrol memicu pertahanan alami tanaman terhadap pemicu penyakit. Biokontrol juga menghasilkan zat perangsang tumbuh (ZPT) sehingga meningkatkan pertumbuhan dan biomasa polong vanili. Pengalaman Mistiono, BBV muncul akibat kesalahan memupuk dengan pupuk kandang.

Oleh karena itu petani harus memastikan kualitas pupuk kandang sebagai sumber nutrisi tanaman kerabat anggrek itu. Penggunaan pupuk kandang yang belum matang sempurna justru memicu kedatangan cendawan. Sebaliknya, pupuk kandang terfermentasi dan terkoloni mikrob protagonis justru membentengi tanaman vanili dari BBV. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d