Makhluk Mini Amankan Produksi 1
Mikrobakteri berperan meningkatkan produksi bawang merah.

Mikrobakteri berperan meningkatkan produksi bawang merah.

Solusi selamatkan produksi.

Muhammad Suliyanto Lanusi ingat betul peristiwa pada Januari 2014. Curah hujan tinggi yang mengguyur Desa Mungkung, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menyebabkan kebun bawang merah miliknya terendam banjir. Ketinggian air bahkan mampu menutupi ujung daun. Padahal, umur tanaman sudah 40 hari. “Saya sangat putus asa,” ujarnya.

Pertanaman bawang merah itu rencananya akan digunakan untuk benih pada pertengahan tahun. Suliyanto terancam tidak memiliki stok benih jika gagal panen lantaran umbi Allium cepa itu dipastikan busuk.

Musim hujan
Langkah penyelamatan Suliyanto menyemprotkan pupuk hayati. Di pasaran terdapat beragam merek pupuk hayati seperti BiotoGrow. Hasilnya sangat menakjubkan. Tanaman tetap segar dan berumbi banyak. Suliyanto pun mampu memperoleh 652 kg bawang merah dari lahan 2.500 m2. Berkat pupuk hayati itu pula, kerabat Suliyanto meraup untung. Gara-gara melihat hamparan tanaman bawang merah yang subur, penebas berani membayar Rp250-juta pada lahan seluas 5.000 m2.

Umbi bawang merah berkualitas super tanpa busuk.

Umbi bawang merah berkualitas super tanpa busuk.

Sang kerabat mulai menyemprotkan pupuk hayati yang sama tiga hari sebelum tanam benih. Konsentrasi larutan satu tutup botol untuk 14 liter air. Saat tanaman berumur sepekan pascatanam, ia melarutkan dua tutup botol pupuk hayati itu yang dicampur dengan 2 sendok makan fungisida dalam 14 liter air. Ia menyemprotkan larutan itu setiap 3 hari hingga tanaman berumur 30—36 hari pascatanam. “Bawang merah memasuki masa generatif setelah berumur 30 hari,” ujar Suliyanto.

Itu sebabnya sang kerabat menghentikan penggunaan fungisida dan mengganti dengan pupuk daun. Ia menyemprotkan 2 tutup botol pupuk hayati dan 2 sendok makan pupuk daun yang dilarutkan dalam 14 liter air. Frekuensi penyemprotan dilakukan setiap 3 hari.

Baca juga:  Setiap Jam 12 Ikan

Menurut Manajer Pemasaran PT Biojanna Agro, Kanang Wahyudi, pupuk hayati yang diproduksinya—BiotoGrow—memang aman dicampur dengan bahan kimia sehingga pekebun hemat waktu dan biaya. Menurut Kanang pupuk hayatinya yang mampu berpadu dengan bahan kimia ibarat paket komplet bagi pekebun untuk meningkatkan produksi.

Hasil penelitian tim Biojanna Agro di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, membuktikan pupuk hayati itu efektif diaplikasikan pada musim hujan. Buktinya tanaman tetap sehat dengan persentase umbi yang busuk kurang dari 1%.

Mikroorganisme baik
Pupuk hayati yang digunakan Suliyanto mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap, mikrobakteri, dan zat pengatur tumbuh. Total jenderal, terdapat 15 mikrob seperti Azotobacter sp., Azospirillum sp., Rhizobium sp., Pseudomonas sp., Lactobacillus sp., Cytophaga sp., dan Streptomyces sp. Sementara itu, jenis hormon yang digunakan adalah auksin, giberelin, dan sitokinin.

Makhluk-makhluk mini itu berjasa memperbaiki fungsi tanah yang sudah rusak, memacu pertumbuhan tanaman, menghasilkan zat pengatur tumbuh, mengurangi takaran pupuk kimia, melindungi akar, dan meningkatkan imunitas tanaman. Menurut Dr Rahayu Widyastuti MSc, dosen Bioteknologi Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor, azotobacter dan azospirillium berperan meningkatkan nitrogen bebas dalam tanah. Dampaknya tanaman memperoleh asupan makanan yang cukup untuk pertumbuhan.

Pupuk hayati mengandung aneka mikrobakteri yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman hortikultura.

Pupuk hayati mengandung aneka mikrobakteri yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman hortikultura.

Itulah sebabnya banyak pekebun memanfaatkan pupuk hayati untuk mengatrol produksi pertanian. Faedah mikrob dalam tanah memang sangat tinggi. Bakteri Pseudomonas sp., misalnya, mampu mengurai fosfor yang mengendap di dalam tanah. Pada jenis tanah tertentu fosfor terikat dengan senyawa lain sehingga tanaman sulit menyerapnya.

Untuk mengatasi hal itu pekebun memberikan pupuk yang mengandung fosfor tinggi. Padahal, tanaman hanya mampu menyerap 10—30% pupuk fosfor yang diberikan, sisanya berada di dalam tanah. Deni Elfiati dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, menuturkan defisiensi fosfor menghambat metabolisme tanaman yang berpengaruh pada lemahnya akar dan batang.

Baca juga:  Tupai Gula Jinak

“Efektivitas pupuk fosfor dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan mikroba pelarut,” ujarnya. Bakteri yang terbukti andal melarutkan fosfor adalah anggota genus Pseudomonas, dan Bacillus. Konsentrasi pupuk hayati 2 tutup botol setara 60 ml yang dilarutkan dalam 14 liter air. Frekuensi penyemprotan setiap pekan hingga panen. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments