Maharaja di Piala Raja

Nying Nying meraih mahkota raja

Nying Nying meraih mahkota raja

Nying Nying menyabet gelar maharaja di kontes Piala Raja Hamengku Buwono X.

Di depan ratusan penonton dan penggemar ayam serama, Nying Nying tampil memukau. Dari awal hingga akhir penilaian selama 3 menit, serama milik H Yusuf dan Dearly dari Jakarta itu “bekerja” tanpa henti. Dengan posisi kepala “tenggelam” dan dada membusung, ia bergerak aktif menjelajahi meja bundar. Sesekali serama yang itu berjinjit sambil mengangkat dada dan berkebas.

Penampilan itu membuat lima juri memberikan nilai maksimal, melampaui peserta lainnya di kelas laga maharaja. Persaingan sangat ketat karena, “Semua pemain mengincar piala raja berupa mahkota berlapis emas. Mereka (maniak serama, red) jauh-jauh hari mempersiapkan serama-serama andalannya,” kata Benny, ketua panitia kontes yang dibuka oleh Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro, menantu Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Mahkota raja berlapis emas

Mahkota raja berlapis emas

Tambah 3 kelas
Kelas laga maharaja berlangsung pada sesi terakhir sehingga serama dari berbagai kelas yang belum tampil maksimal di kelasnya terdorong ikut-serta. Di kelas bergengsi itu muncul peraih best of the best. Terbukti di kelas itu peserta membeludak hingga 29 ekor, melebihi piala Raja Hamengku Buwono X perdana pada akhir 2011 yang tercatat 23 ekor.

Kontes yang berlangsung di Ndalem Suryowijayan, Keraton Yogyakarta, itu diikuti total 228 serama. Peserta berasal dari berbagai kota antara lain Bandung, Jakarta, Banten, Banyumas, Kediri, Surabaya, dan Makassar. “Meski jumlah peserta agak menurun dibanding kontes sebelumnya yang mencapai 280 ekor, tapi cukup menggembirakan karena para maniak serama di tanahair masih antusias datang ke Piala Raja. Bahkan dua tokoh serama dari Malaysia: Sahasdi Yusof dan Nik Ibrahim Nik Daud, menyempatkan hadir,” kata Brigjen (Purn) RM Noeryanto, SH, sesepuh serama di Yogyakarta.

Oleh karena itu guna mewadahi hasrat para pehobi serama, panitia menambah kelas kontes dari 11 menjadi 14 kategori. Tiga kelas tambahan itu yakni anakan jantan B, anakan betina B, dan ekshibisi jantan muda. Alasannya sekarang banyak anakan lokal berkualitas, sehingga supaya lebih adil. Sebab, panitia membedakan antara anakan berumur sekitar 3—6 pekan dan 7—12 pekan.

Peta Alam yang terbaik di kelas anakan

Peta Alam yang terbaik di kelas anakan

Sementara kelas ekshibisi jantan muda—melengkapi kelas ekshibisi jantan dewasa—diperuntukkan serama jantan remaja dan muda yang belum bisa bergaya maksimal. “Makanya persaingan di masing-masing kelas sangat ketat, karena serama yang berkualitas biasa-biasa saja pasti didaftarkan di kelas ekshibisi,” kata Edy Yuwono, pehobi serama dari Kediri, Jawa Timur, yang kini menjadi Presiden Serama Indonesia.

“Apalagi di kelas jantan tanpa lawi, benar-benar kelas ‘neraka’. Siapa tak kenal Besi Tua, Hangtuah, Pesona 9, Kenmaster, Mr Bombastic, Nying Nying, Burger Kill, dan Awan Hitam,” ujar Dearly. Juri yang bertugas pun, Widodo dari Blitar dan Wahyudi dari Bali, sampai kerepotan menentukan juara. “Nilai totalnya banyak yang sama. Kalaupun berbeda, paling cuma setengah poin,” kata Wahyudi. Namun, akhirnya juara di kelas dengan 26 kontestan itu direbut Burger Kill milik Lambreta asal Surabaya yang tampil ngotot.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x