Mahachanok Sarat Buah

Mahachanok Sarat Buah 1
Buah yang terpapar sinar matahari berwarna merah

Buah yang terpapar sinar matahari berwarna merah

Melebatkan mangga mahachanok hingga 100 kg per pohon.

Pohon mangga setinggi 1,5 meter di halaman rumah Arul F. Hendarul itu hanya rimbun oleh dedaunan. Belum ada tanda-tanda pohon Mangifera indica itu bakal berbuah, meski berumur 3 tahun. Arul F. Hendarul, pehobi di Malang, Provinsi Jawa Timur, mengatakan mangga mahachanok memang sulit berbuah. Penangkar buah di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ricky Hadimulya, mengemukakan hal serupa.

Menurut Ricky mangga mahachanok lambat berbuah. Mangga asal Thailand itu kalah produktif daripada mangga sitong alias nam dok mai golden. Ia mendatangkannya pada 2008 dari Bangkok. Oleh karena itulah perbanyakan mahachanok di kebunnya tidak terlalu banyak dibanding sitong. “Di Thailand, buah mahachanok juga jarang dijumpai di pasaran,” ungkap pemilik Nurseri Hara itu. Nam dok mai sitong jauh lebih menguasai pasar.

 Mangga mahachanok, warna kulit menarik, rasa sangat manis, harum, dan serat halus

Mangga mahachanok, warna kulit menarik, rasa sangat manis, harum, dan serat halus

Dua tahun berbuah
Di tangan Suko Budi Prayogo mahachanok justru rajin berbuah. Pekebun di Gunung Pati, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu panen 100 kg per musim dari sebuah pohon berumur 7 tahun. Pekebun itu pun tidak perlu menunggu lama, hanya 2—3 tahun untuk merasakan buah pertama. Penampilan buah terlihat ekslusif dengan warna kulit kuning ngejreng agak jingga.

Warna itulah yang membuat Budi menyebutnya golden mango. Dari segi rasa pun mahachanok—berarti ayah yang agung—sangat manis, berdaging tebal, biji tipis, dan aroma harum. Yang lebih utama produktivitas tinggi. Wajar bila Suko Budi tertarik mengebunkan, meski jumlah hanya 20-an pohon. Namun, mangga itu kembali membuat Budi tersenyum bahagia. Sebab, belum genap 2 tahun ditanam, beberapa pohon sudah berbuah.

Baca juga:  Penggerak Pangan Lokal

Menurut Budi tidak ada perawatan khusus untuk mahachanok. Ia hanya memberikan 20 kg pupuk kandang per pohon pada awal pertumbuhan. Dalam 2—3 bulan, ia menambahkan 200—300 g NPK 16:16:16 per pohon. Dengan perawatan itu Budi memetik mahachanok 2—3 tahun setelah tanam. Setelah itu ia rutin memangkas percabangan usai berbuah. Menurut Budi pemangkasan tajuk dilakukan agar sinar matahari dapat menembus bagian dalam tanaman.

Di negeri asalnya Thailand, mahachanok pun belum dikembangkan secara besar-besaran

Di negeri asalnya Thailand, mahachanok pun belum dikembangkan secara besar-besaran

Karena pemangkasan rutin dilakukan sehingga tinggi pohon induk hanya 3—4 meter. Namun, itu tidak mengurangi produktivitas. “Saya tidak suka pohon tinggi karena sulit panen,” kata Budi. Bobot per buah berkisar 500—600 gram. Budi menanam mangga di daerah berketinggian 300—500 meter di atas permukaan laut (dpl). Udaranya cukup sejuk.

Adaptif
Di Thailand, mangga hasil persilangan antara nang klangwan varietas asli Thailand—dengan sunset—introduksi dari Florida, Amerika Serikat, ditanam di sekitar Bangkok yang dataran rendah serta Prapat yang berketinggian hingga 700 m dpl. Hasilnya saat muda, buah berwarna hijau kemerahan. Setelah matang, kulitnya berubah menjadi kuning jingga. Sehingga disebut juga mangga pelangi. Menurut Wiwik Wijayahadi, penangkar buah di Yogyakarta, warna mangga itu seronok karena pembungkusan.

Para pekebun di Negeri Gajah Putih itu memanfaatkan 2 lapis pembungkus. Pembungkus luar mirip kertas semen, sedangkan pembungkus dalam berwarna kehitaman, mirip kertas karbon. Mangga-mangga asal Thailand seperti khiojay, okyong, nam dok may, dan falan secara umum lebih cepat berbuah, pada umur 2—3 tahun. Mahachanok kalah populer daripada jenis-jenis itu sehingga perkembangannya tidak seluas nam dok mai.

Bobot 600 gram. Bandingkan dengan mangga khio jay yang bobotnya mencapai 2,5 kg. Sebenarnya wajar mahachanok lambat berbuah. Sebab, induk betinanya yaitu nang klan wang, tergolong mangga yang lambat berbuah. “Biasanya, induk betina sangat dominan sifatnya dibandingkan induk jantan,” ungkap Wiwik. Namun, mahachanok tidak selambat khioe sawoi yang berbuah pada tahun kelima atau keenam.

Baca juga:  Jatuh Cinta Sejak Muda

Menurut Wiwik saat kematangan masih 60—70%, warna buah mahachanok masih ada kehijauan. Setelah matang, semburat merah hilang. Setelah kematangan lebih dari 80%, warna yang tersisa hanya kuning. Itulah sebabnya ia juga disebut mangga jenar. Ketinggian tempat lokasi budidaya sangat mempengaruhi warna mahachanok. Itu berkait dengan intensitas sinar matahari dan total heat unit (THU). Di ketinggian tempat lebih 200 m dpl, buah matang pada umur 150 hari.

Suko Budi Prayogo, menyebut mahachanok sebagai golden mango lantaran warna kulitnya kuning keemasan

Suko Budi Prayogo, menyebut mahachanok sebagai golden mango lantaran warna kulitnya kuning keemasan

Setiap kenaikan ketinggian 100 m, suhu berkurang 1°C. Maka untuk ketinggian 700 m dpl terdapat penurunan suhu 5°C. Akibatnya kematangan buah tercapai pada hari ke-155—170. Artinya semakin tinggi tempat penanaman, buah semakin lambat matang. Semakin tinggi tempat, maka intensitas sinar matahari makin tinggi. Bila mengenai kulit mangga akan membuat warna kulitnya kemerahan.

Itu karena sinar matahari merangsang produksi antosianin lebih banyak yang mengakibatkan kulit berwarna kemerahan. Namun, jika buah tertutup daun, warnanya tetap kehijauan. Meski demikian petani mampu mengubah kulit buah menjadi kuning. Petani Thailand memetik buah mangga nam dok mai pada tingkat kematangan 70%. Setelah itu, mereka memberikan ethilen untuk merangsang kematangan serempak sekaligus mengubah warna kulit menjadi kuning.

Namun, mahachanok berbeda dengan nam dok mai. Secara genetik mahachanok membawa bakat kulit kuning. Tanpa perlakuan pun kulit buah bisa berwarna kuning. Warna kuning atau merah menjadikannya berbeda dengan mangga lain yang dominan hijau. (Syah Angkasa)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x