Madu Hijau Tanpa Pecah 1
Karena rasa manis dan renyah, buah jambu madu deli hijau selalu dinanti konsumen

Karena rasa manis dan renyah, buah jambu madu deli hijau selalu dinanti konsumen

Atasi buah jambu madu hijau yang pecah dan terbakar hingga 20% per pohon.

Laba di depan mata akhirnya sirna. Itulah pengalaman Shodikin yang mengelola 400 pohon jambu madu hijau. Pada musim kemarau 2013 pekebun di Stabat, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, itu meningkatkan frekuensi penyiraman menjadi 3 kali sehari. Itu untuk mengantisipasi kekeringan. Namun, menjelang panen buah-buah yang menggelantung itu mengalami retak ujung atau cracking di dekat tangkai. Selain itu kulit buah juga tampak seperti terbakar.

Menurut Shodikin jumlah buah yang retak dan terbakar mencapai 20%. Celakanya buah rusak itu tak laku terjual. Bila pohon berumur 2 tahun menghasilkan 5 kg buah, maka Shodikin kehilangan Rp11-juta dalam sekali panen. Saat itu harga jual jambu madu hijau di tingkat pekebun mencapai Rp28.000. Menurut Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta, jambu air tergolong tanaman tahan kekeringan. Saat Jakarta dilanda kekeringan panjang, beberapa jambu air di sekitar rumahnya di Tebet, Jakarta Selatan, tetap hijau karena daun tidak rontok.

Shodikin, “Kerugian mencapai 20% akibat buah pecah dan terbakar”

Shodikin, “Kerugian mencapai 20% akibat buah pecah dan terbakar”

Kekeringan di pot
Para pekebun jambu madu hijau di Sumatera seperti Shodikin menanam pohon di pot atau polibag besar berdiameter 60 cm. Media tanam di pot atau polibag keruan saja terbatas dan hanya sedikit mengandung air. Itulah sebabnya pohon anggota famili Myrtaceae itu akan merontokkan daun untuk mengurangi penguapan. Untuk mengatasi kekurangan air akibat penguapan tinggi, pekebun melakukan penyiraman. Bukan hanya sekali, tetapi kadang 2—3 kali sehari.

Usai penyiraman, tanaman memang kembali segar. Namun, sebagian buah mengalami pecah sehingga tidak bisa dipasarkan. Menurut Yos Sutiyoso, saat air terisap akar dan naik ke berbagai bagian tanaman, anion dan kation di tanah pun ikut naik lalu masuk sel lewat vakuola. Bila frekuensi penyiraman terlalu tinggi, maka tanaman akan semakin banyak menyerap air dan tersimpan dalam sel-sel buah. Anion dan kation yang tersimpan dalam sel-sel buah pun kian banyak sehingga kulit jambu yang tipis tidak mampu menahannya.

Baca juga:  Awet Tanpa Rayap

Akibatnya buah mengalami pecah ujung. Oleh karena itu, Yos Sutiyoso menyarankan agar pekebun menghindari penyiraman pada siang hari saat terik matahari. Saat itu tekanan aliran air dalam batang cukup kuat dan tidak sebanding dengan elastisitas kulit buah sehingga memicu terjadinya pecah kulit. Jadi lakukan penyiraman pada pagi hari sebelum pukul 08.00, dan sore hari setelah pukul 16.00. Akibat lain sehubungan dengan penyiraman berlebih ialah kulit buah terbakar.

Kulit buah terbakar karena air di plastik pembungkus terpapar sinar matahari terik

Kulit buah terbakar karena air di plastik pembungkus terpapar sinar matahari terik

Air yang sempat masuk ke plastik pembungkus akan “membakar” kulit buah saat buah terpapar sinar matahari. Kasus itu kerap terjadi bila menggunakan pembungkus plastik bening. Pembungkusan buah jambu air sebuah keharusan untuk menghindari serangan lalat buah Bacterocera dorsalis. Banyak pekebun menggunakan plastik bening karena harga murah dan mudah diperoleh. Untuk menghindari buah terbakar dalam pembungkus, sebaiknya pekebun mempertahankan jumlah daun secara proporsional agar buah tidak terpapar sinar matahari langsung.

Artinya, sinar matahari tetap bisa menembus masuk ke sela-sela tanaman bagian dalam. Sebaliknya bila daun terlalu rimbun, buah tidak menerima sinar matahari. Dampaknya tingkat kemanisannya rendah karena gagal berfotosintesis. Yos Sutiyoso menyarankan sinar matahari yang masuk ke dalam tanaman sebanyak 55% dan 45% tertahan dedaunan. Dengan demikian buah tetap manis sekaligus bebas pecah dan terbakar.

Pekebun bisa juga memanfaatkan pembungkus yang tidak bening. Di pasaran terdapat pembungkus buah berbahan kertas berserat mirip pembalut wanita atau menggunakan sponge fruit, stirofoam berbentuk jaring yang kemudian dibungkus plastik bening. Bahan pembungkus itu menahan sebagian sinar matahari sehingga tidak membakar buah tanpa mempengaruhi warna buah. Kulit buah tetap dapat berfotosintesis sehingga rasa tetap manis.

Buah pecah karena kelebihan air

Buah pecah karena kelebihan air

Atur pupuk
Mencegah buah pecah dan busuk dapat pula dengan pemupukan secara tepat. Menurut Yos Sutiyoso tanaman jambu air membutuhkan pupuk yang mengandung unsur kalium, fosfor, dan kalsium yang cukup secara rutin. Ketiga unsur itu memperkuat jaringan kulit. Hindari memberikan pupuk Urea karena akan membuat buah pecah kian banyak. Unsur kalium juga mampu menjaga kelenturan kulit buah saat proses pembesaran yang belum optimal sehingga tidak mudah pecah.

Baca juga:  Ikebana untuk Lebaran

Pemberian pupuk fosfor harus dalam bentuk monokaliumfospat (KH2PO4). Hindari pemakaian asam fosfat karena mengakibatkan pH jadi rendah sehingga terjadi fiksasi dan pupuk akan mengendap di bagian dasar pot dan tidak mampu diserap akar. Adapun Irwan Margono, konsultan pertanian di Jakarta, menyarankan pemberian kalium akan membuat jaringan sel buah lebih tebal sehingga tahan pecah.

Yos Sutiyoso pun mengingatkan tanaman buah dalam pot rawan mengalami defisiensi unsur hara karena media yang terbatas. Oleh karena itu, media atau nutrisi harus selalu ditambahkan secara rutin. Sunardi, pekebun jambu deli hijau di Binjai, Sumatera Utara, setiap bulan menambahkan 1 kg pupuk kandang per pot. Dengan terjamin kebutuhan air dan nutrisinya, jambu madu hijau akan menghasilkan buah yang prima. Penampilan menarik dengan rasa sangat manis. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *