Renyah, keras, manis, dan bentuk penuh, kualitas jambu madu deli hijau yang diminta pasar

Renyah, keras, manis, dan bentuk penuh, kualitas jambu madu deli hijau yang diminta pasar

Penanaman di pot hasilkan buah jambu air madu deli hijau gemuk, renyah, manis, dan mulus.

Garis di refraktometer itu memperlihatkan angka 12obriks. Dengan kadar itu citarasa jambu air madu deli hijau asal Kota Binjai, Sumatera Utara sangat manis. Jambu air seperti itulah yang kini tengah jadi primadona di Sumatera Utara. Sekali mencicipi, konsumen pasti ketagihan. Pantas jika jambu air berwarna hijau giok itu dicari pasar.

Pasar mensyaratkan daging buah renyah, tekstur keras, dan citarasa manis. Buah dengan bobot 200 g masuk kelas A. Syarat lain kulit buah mulus, bebas bercak dan tanda memar. Wartawan Trubus, Syah Angkasa, menyaksikan panen MDH di kebun milik Sunardi di Binjai Barat. Buah-buah yang dihasilkan besar dan bentuknya penuh, kulit berwarna hijau giok menarik, terlihat bintik-bintik putih di kulit tanda buah manis, dan mulus. Soal manis terbukti dari uji menggunakan refraktometer tadi.

Pot lebih bagus

Jambu madu deli hijau kualitas prima itu didapat dari hasil budidaya di dalam pot. Penelusuran Trubus, mayoritas pekebun MDH di Binjai dan Langkat – sebelum berstatus kotamadya Binjai adalah ibukota Kabupaten Langkat – menggunakan sistem penanaman di dalam pot. Pengalaman mereka penanaman di tanah menyebabkan kualitas buah menurun. Citarasa buah anyep dan tidak muncul titik-titik putih yang menurut mereka tanda buah manis. Menurut pakar buah di Bogor, Provinsi Jawa Barat, Mohamad Reza Tirtawinata MS, kualitas buah yang dibudidayakan di pot cenderung lebih baik. Sebab perlakuan budidaya bisa sangat intensif. Pemberian pupuk misalnya efisien karena tidak ada unsur hara terbuang akibat limpasan air hujan.

Baca juga:  Moringa untuk Malnutrisi

Sebagai wadah tanam pekebun di Binjai menggunakan 4 pilihan, yakni plastik polibag hitam, pot plastik, pot semen, dan drum. Di antara keempatnya wadah plastik polibag paling banyak digunakan. Alasannya bahan itu mudah didapat, relatif murah, dan tahan lama. Sunardi menyarankan penggunaan polibag khusus dengan kadar kemurnian 100% dan ukuran minimal 60 cm x 60 cm. Daya tahan polibag mencapai 2 – 3 tahun. Bahan drum mudah berkarat. Akibatnya bagian bawah drum kerap kali jebol sehingga media tanam dan akar keluar ke tanah. Pot plastik antipecah tahan hingga 5 – 6 tahun tapi lebih mahal.

Pekebun menggunakan media tanam berupa campuran tanah, pupuk kandang hasil fermentasi, dan sekam padi. “Penggunaan media tanam tepat menentukan berhasil tidaknya budidaya MDH di pot,” tutur Sunardi. Pekebun yang juga penangkar senior di Kota Binjai itu menggunakan komposisi 3:2:1. Pupuk kandang berasal dari kotoran kambing atau sapi. Cara menanam dengan mengisi sepertiga bagian pot dengan media tanam, baru letakkan bibit di tengah (lihat ilustrasi). Pekebun lain di Kota Lubukpakam, Ericson, menggunakan media berupa lumpur kolam yang dikeringkan selama 2 – 3 bulan. Bibit yang baik setinggi 40 cm asal perbanyakan dengan setek. Bibit sehat ditandai daun yang hijau dan segar. Selanjutnya letakkan tabulampot di tanah darat dengan jarak antarpot 3 m x 3 m atau 2 m x 3 m. Tajuk MDH membentuk kerucut sehingga bisa ditanam dengan jarak rapat. Selanjutnya pekebun merawat dengan memberikan pupuk organik dan sesedikit mungkin pupuk kimiawi.

Intensif

Pekebun juga melakukan pemangkasan untuk menghasilkan bentuk tajuk seimbang dan memacu tanaman berbuah. Sunardi membagi menjadi pemangkasan dengan pemangkasan tajuk dan penyeimbang. Pemangkasan bentuk tajuk dilakukan pada umur 4 bulan pascatanam. Selanjutnya dilakukan pemangkasan penyeimbang setiap 3 bulan. Dengan pemangkasan teratur tinggi tanaman dipertahankan maksimal 2 meter. Perawatan lain berupa penyiraman. Sunardi menggunakan sistem pengairan selang irigasi. “Tanaman jambu air tidak boleh kurang air,” tutur pemilik nurseri Mulia Tani itu.

Baca juga:  Aplikasi Petani Indonesia

Madu deli hijau belajar berbunga pada umur 7 bulan pascatanam bibit setinggi 40 cm. Saat itu penggunaan pupuk kandang diganti menjadi asal kotoran unggas. Sebab kandungan fosfor dan kaliumnya lebih tinggi sehingga kualitas rasa dan tekstur jambu MDH lebih baik. Ericson menggunakan pupuk kandang kotoran puyuh. Hasilnya percabangan kokoh serta tangkai buah kekar dan panjang. Sosok buah yang dihasilkan lebih membulat. Setiap bulan tambahkan 1 kg pupuk kandang per pot.

Selanjutnya lakukan seleksi bunga jika terlalu padat. Selang 14 – 15 hari setelah bunga menjadi buah, bungkus dengan plastik putih susu. Tujuannya untuk menghindari serangan lalat buah yang biasa menjadi musuh penanaman jambu air dan menghasilkan penampilan buah yang baik. Kerusakan akibat serangan lalat buah mencapai 40%. Untuk mencegah serangan hama, terutama pada musim kemarau, pekebun dapat menyemprotkan insektisida sebulan sekali. Sementara di musim hujan penyemprotan fungisida 1 – 3 minggu sekali tergantung berat tidaknya serangan penyakit.

Selang 3 bulan sejak pembuahan MDH siap panen. Cirinya warna hijau dengan titik-titik putih, bentuk penuh, dan cuping di bagian pantat buah sudah mekar. Dengan cara intensif dapatkan MDH berkualitas prima. (Evy Syariefa/Peliput: Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d