Memasang kelambu menghemat biaya tenaga kerja untuk pembungkusan buah

Memasang kelambu menghemat biaya tenaga kerja untuk pembungkusan buah

Bractocera dorsalis mengancam jambu madu. Solusinya: berlindung di balik kelambu.

Sosok kecil berdampak besar. Itulah lalat buah Bractocera dorsalis momok utama para pekebun buah. Hama itu selalu mengintai saat tanaman berbuah lalu meletakkan telurnya dengan menyuntikkan di buah muda. Semartono Sosromomarsono PhD, ahli serangga di Bogor, Jawa Barat, mengungkapkan, buah jambu air kerap menjadi tempat bertelur serangga itu. Setelah menetas, ulat menjadikan daging buah sebagai pakan. Larva itu memakannya sebagai sumber energi untuk pertumbuhan.

Tanpa pembungkusan buah menjadi sasaran lalat buah. Dari luar boleh tampak mulus, tetapi ketika dibelah terlihat dagingnya rusak, warna cokelat, dan ulat yang bergerak-gerak di tengah daging. Menurut Shodikin, pekebun jambu deli hijau di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kerugian akibat lalat hijau mencapai 60—70%.

Mencegah serangan lalat buah dengan memasang kelambu

Mencegah serangan lalat buah dengan memasang kelambu

Kelambu halau lalat
Cara jitu mencegah serangan lalat buah ialah memasang jaring pengaman mengelilingi kebun. Beberapa pekebun di Stabat, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, memasang kelambu mengelilingi lahan. Kebun seluas 3 ha di Stabat ditutup dengan jaring biru-hijau, serupa dengan jaring yang dipakai nelayan untuk menangkap ikan di pantai. Pekebun di Payaroba, Kota Binjai, Sunardi, juga menutup lahan jambu madu dengan jaring hitam. Sunardi mengatakan kerapatan jaring menjadi pertimbangan dalam memasang net.

Jarak antarlubang kelambu harus cukup rapat sehingga lalat tidak bisa melewatinya. Setelah menggunakan jaring itu, tingkat serangan lalat buah akan turun signifikan. Sebuah kebun di Stabat yang mengelola sekitar 1.500 pohon jambu madu di lahan 3 ha lazim menuai 1.500 kg jambu per musim. Tingkat serangan lalat buah hanya 3% alias 45 kg. Bila tidak memanfaatkan kelambu tingkat serangan lalat buah mencapai 60%. Artinya pekebun itu mampu mencegah potensi kehilangan hasil hingga Rp225-juta per musim. Harga jual jambu madu hijau di tingkat pekebun Rp25.000—Rp30.000 per kg.

Jaring itu menutup semua lahan, termasuk bagian atas. Lahan seluas 1 ha berpopulasi 400 tanaman memerlukan jaring berukuran lebar 3 m sepanjang 320 m untuk menutup kebun. Jika harga jaring Rp30.000 per meter, maka pekebun memerlukan Rp9.600.000 untuk menutup lahannya. Bila luas kebun 400 m2 (20 m x 20 m), maka, pekebun menyiapkan jaring sepanjang keliling kebun (80 m) dan menutup bagian atas seluas kebun 240 m2. Pekebun harus memasang kelambu raksasa itu terlebih dahulu sebelum memasukkan pot jambu madu deli hijau alias deli hijau.

Dengan memasang kelambu, pekebun menyelamatkan 20—60% dari serangan lalat buah

Dengan memasang kelambu, pekebun menyelamatkan 20—60% dari serangan lalat buah

Menurut Sunardi, kelambu di lahan itu mampu bertahan 3—4 tahun. Dalam periode itu jambu madu hijau 9—12 kali berbuah. Pohon anggota famili Myrtaceae itu berproduksi perdana pada umur 14—18 bulan. Pemakaian kelambu itu sebetulnya lebih murah jika dibandingkan dengan pembungkusan manual. Di pasaran terdapat pembungkus buah berbahan serat agar pekebun menuai buah berpenampilan menarik. Sayang harga pembungkus itu relatif mahal, Rp500—600 per lembar.

Baca juga:  Jual Paket Lebih Cepat

Jika sebuah pohon berumur 2 tahun memerlukan pembungkus 6 kg, pekebun perlu biaya pembungkusan Rp14.400 per pohon. Dengan populasi 64 tanaman per 400 m2, maka pekebun menghabiskan Rp922.000 untuk membeli pembungkus berbahan serat itu. Pada tahun ke-3, produksi mencapai 12 kg, atau senilai Rp1.850.000. Pada tahun ke-4 dan ke-5, produksi mencapai 20 kg dengan biaya Rp 3.720.000 dan Rp3.720.000. Total jenderal biaya pembungkus selama 4 tahun Rp.8.916.000.

Dana untuk membeli pembungkus selama 4 tahun hampir sama dengan biaya pembelian jaring kelambu. Belum termasuk biaya tenaga kerja membungkus selama 12 kali panen. Pekebun yang hendak memasang kelambu sebaiknya memperhatikan kerapatannya. Penggunaan kelambu bisa pula bermasalah terutama bila memakai jaring tebal, lebih dari 50%. Dampaknya laju proses fotosintesis pun rendah sehingga pati dan karbohidrat juga lebih rendah. Itu penyebab rasa buah kurang manis. Oleh karena itu ketebalan jaring atau kelambu 25% sehingga sinar matahari yang diterima tanaman pun cukup banyak.

Bahan lain
Pekebun memang dapat memanfaatkan bahan lain sebagai pembungkus buah yang lebih murah, seperti kertas koran atau plastik. Namun, pembungkusan buah dengan plastik menyebabkan buah rusak karena tersengat sinar matahari, atau ada lalat yang lolos bertelur. Selain itu buah di ujung tangkai menjadi pucat. Plastik lebih cocok untuk membungkus buah di bagian dalam tajuk sehingga terlindung dari sengatan sinar matahari terik. Bila menggunakan pembungkus kertas koran, warna buah cenderung gelap.

Menurut pekebun jambu madu deli hijau, Suherman, potensi kerusakan buah yang dibungkus mencapai 10–20%. Dari 6 kg yang dipanen, kerusakan akibat terbakar bisa mencapai 0,5 kg. Dengan harga jual Rp25.000—Rp30.000 per kg, potensi kerugian itu setara Rp12.500—Rp25.000 per pohon. Bila populasi 400 pohon per ha, kerugian akibat lalat buah dan buah terbakar mencapai Rp5-juta—Rp10-juta. Apalagi bila buah tidak dibungkus, kerugian lebih besar lagi.

Suherman: Semakin intensif budidaya jambu air, semakin banyak yang dihemat

Suherman: Semakin intensif budidaya jambu air, semakin banyak yang dihemat

Selain itu pembungkusan merupakan kendala terberat pekebun. Sebab, jumlah buah yang harus dibungkus terlalu banyak. Oleh karena itu pekebun memerlukan tenaga ekstra untuk membungkus ratusan sampai ribuan buah per pohon. Semakin dewasa, 5–10 tahun, produksi buah kian tinggi, mencapai 100 kg per pohon. Untuk membungkus semua buah, pekebun memerlukan 1—2 hari. “Perawatan jambu pada awalnya tidak begitu sulit. Tapi setelah berbuah, mulai sulit karena harus dibungkus. Pekerjaan membungkus buah adalah kegiatan yang paling berat,” ujar Erikson, pekebun jambu air madu hijau di Lubukpakam, Sumatera Utara.

Baca juga:  Dua Bulan Plastik Terurai

Pembungkusan menjadi sulit karena harus berpacu dengan waktu. “Buah dibungkus pada umur 14–15 hari setelah persarian atau sebesar jempol tangan. “Bila terlambat, lalat itu punya kesempatan meletakkan telurnya di buah,” ungkap Sunardi, pekebun di Binjai Barat, Sumatera Utara. Sebaliknya, bila terlalu cepat membungkus, buah bisa rontok. Beberapa pekebun menghindari pembungkusan dengan menjebak serangga itu masuk ke dalam botol berisi racun dan zat eugenol yang merangsang masuk. Lalat itu pun mati menghirup racun tadi.

Upaya lain yang dilakukan ialah menyemprot pohon dengan insektisida. Namun, penyemprotan insektisida sangat berbahaya bagi kesehatan. Kulit jambu air sangat tipis dan sangat lunak sehingga dimakan langsung tanpa perlu mengupasnya. Bila tidak dicuci bersih, racun yang melekat di buah pun masuk dalam tubuh saat dikonsumsi. Penggunaan kelambu jalan terbaik sebagai pelindung jambu madu. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d