Machmud Lutfi Huzain (paling depan) bersama sejumlah karyawan.

Machmud Lutfi Huzain (paling depan) bersama sejumlah karyawan.

Pendapatan Machmud Lutfi Huzain mencapai Rp250-juta per bulan hasil perniagaan spirulina.

Omzet besar itu hasil penjualan Spirulina platensis kering dan produk turunannya berupa suplemen bermerek Neoalgae Spirulina dan masker bermerek Amona. Kedua produk itu hadir di pasaran di bawah bendera PT Neoalgae Indonesia Makmur yang didirikan pada 2012. Pemasarannya menjangkau konsumen di seluruh tanahair dan mampu bersaing dengan merek-merek impor.

Machmud menuturkan bisnis spirulina sangat menggiurkan lantarkan ceruk pasarnya masih lebar. “Pebisnis spirulina di tanahair masih jarang,” ujar anak muda berusia 25 tahun itu. Padahal, permintaan produk berbasis spirulina sangat tinggi. Maklum, spirulina sohor sebagai salah satu bagian pangan sehat. Machmud hanya membanderol suplemen Neoalgae Spirulina dalam kemasan 50 gram seharga Rp90.000, sedangkan masker Rp100.000.

Machmud Lutfi Huzain meraup laba besar dari bisnis spirulina.

Machmud Lutfi Huzain meraup laba besar dari bisnis spirulina.

Bermutu tinggi
Harga jual spirulina atau alga itu memang lebih murah daripada produk impor. Machmud menjamin produk besutannya berkualitas tinggi, meskipun berharga lebih murah. Alumnus Departemen Teknik Kimia, Universitas Diponegoro, itu menyediakan bahan baku spirulina dari hasil budidaya di kolam air tawar. Terobosan itu menghindarkan spirulina dari pencemaran air laut, logam berat, bebas bau amis.

Selain itu, kadar fikosianin menjadi lebih tinggi dan kadar garam berkurang. Khasiat fikosianin untuk menangkal radikal bebas sebab kaya antioksidan. Keberhasilan itu berkat kerja sama dengan tim peneliti dari Centre of Biomass and Renewable Energy (C-BIORE), Universitas Diponegoro. “Kami melakukan serangkaian penelitian selama setahun agar spirulina mampu hidup di air tawar,” ujarnya. Ia juga turun tangan menentukan lokasi pabrik, letak kolam, media tanam, sumber dan kualitas air, dan kelembapan udara yang cocok bagi spirulina di air tawar.

Baca juga:  Upaya Bangkit Nusa Rempah

Machmud rutin memanen 650 kg spirulina setiap bulan. Ia mengalokasikan 80% hasil panen untuk memasok kebutuhan industri jamu, kosmetik, minuman, dan nutrisi pakan. Pria kelahiran 6 Agustus 1990 itu menjual sekilogram spirulina kering Rp500.000. Sementara itu, 20% spirulina yang tersisa digunakan sebagai bahan baku suplemen dan masker. Dari perniagaan itu, Machmud memperoleh pendapatan Rp200-juta sampai Rp250-juta per bulan.

Ia mengoperasikan 3 pabrik pengolahan spirulina di Jawa Tengah (Sukoharjo dan Klaten) dan Jawa Timur (Gresik). Proses budidaya dan penyediaan pupuk organik ada di Sukoharjo dan Klaten. Sementara itu, pabrik di Gresik digunakan untuk pengemasan produk dan laboratorium. Machmud mengontrol seluruh proses budidaya, pengemasan, dan pemasaran produk untuk menjamin kualitas.

Samping rumah
Berkat kesuksesannya menjalankan roda bisnis spirulina air tawar itu, Machmud menyabet juara pertama pada ajang Wismilak Diplomat Success Challenge 2013. Proposal bisnisnya berjudul Spirulina sebagai Suplemen Makanan menyisihkan 1.500 peserta yang ikut dalam kompetisi kewirausahaan itu. Machmud berhak mendapat hadiah berupa uang tunai Rp500-juta. Ia menuturkan pandai menangkap peluang dan fokus pada pekerjaan merupakan kunci keberhasilan berwirausaha.

Budidaya spirulina air tawar merupakan sebuah terobosan baru.

Budidaya spirulina air tawar merupakan sebuah terobosan baru.

Pria asal Sukoharjo, Jawa Tengah, itu berkenalan dengan spirulina pada 2011. Ketika itu, produk impor berbasis spirulina menjadi primadona dalam jejaring bisnis pemasaran berjenjang atau multilevel marketing (MLM). “Permintaan produk-produk itu sangat tinggi sebab berkhasiat obat,” ujarnya. Machmud lantas mendalami spirulina lewat penelitian-penelitian yang diulas oleh mahasiswa Teknik Kimia di kampusnya.

Ia melihat begitu banyak penelitian berlatar belakang spirulina, tetapi belum ada yang berani mempraktekkan di lapang. “Padahal, peluang bisnis spirulina sangat tinggi,” ujarnya. Di lahan seluas 200 m2 di samping rumah, ia nekat membangun kolam percobaan. Ia memperoleh modal Rp30-juta dari hasil penjualan mesin es krim. Sebelum menekuni bisnis spirulina, ia sempat menjajal beragam perniagaan seperti berjualan es krim dan mendirikan jejaring bisnis MLM.

Baca juga:  Burung Cinta Kian Sentosa

Pada 2010, Machmud mendirikan PT Bahana Internasional yang menjual alat keperluan cuci pakaian. Bisnis MLM itu merugi pada tahun pertama lantaran ia belum menguasai ilmu manajemen. Pada 2011, Machmud kembali berwirausaha. Ia memilih berjualan es krim. Bisnis keduanya itu berhasil memperoleh bantuan dari Program Mahasiswa Wirausaha, Universitas Diponegoro, berupa mesin pembuat es krim. Namun, usaha itu hanya berjalan setahun. Machmud menjual mesin es krim lantaran bisnis es krim kurang menantang.

Itu sebabnya ia banting stir dan memilih budidaya spirulina. Ia mendesain kolam, menghitung formula pupuk, dan mengatur media. “Saat itu, saya masih buta budidaya spirulina dan belum tahu pasarnya,” ujarnya. Tahun pertama budidaya, ia gagal panen sebab kolam terkontaminasi lumut sehingga spirulina tidal layak dijual. Machmud butuh waktu setahun untuk menemukan cara budidaya spirulina air tawar yang tepat.

Kemudian ia membuat website di mesin pencari untuk memasarkan produknya. Hasillnya, cukup memuaskan. Seorang konsumen berkewarganegaraan Perancis yang tinggal di Bali mendatangi kolam sederhana dan menjadi pelanggan tetap. Sejak saat itu bisnis spirulina miliknya mulai dikenal dan perlahan berkembang. Berawal dari kolam kecil menjadi 3 pabrik berkapasitas produksi 650 kg. (Andari Titisari)

 

Machmud Lutfi Huzain

Machmud Lutfi Huzain

Nama Lengkap:
Machmud Lutfi Huzain
Tempat Tanggal Lahir:
Sukoharjo, 6 Agustus 1990
Nama Ayah:
Narno Raharjo
Nama Ibu:
Sri Haryati
Nama Istri:
Amei Lisa Dita Karina
Pendidikan:
– Sarjana Teknik Kimia, Universitas Diponegoro
Prestasi:
– Juara pertama Program Mahasiswa Wirausaha, Universitas Diponegoro 2012
– Juara pertama pada ajang Wismilak Diplomat Success Challenge 2013
Jenjang Karier:
– Pemilik PT Bahana Internasional (2010—2011)
– Pengusaha Es Krim (2011—2012)
– Pemilik PT Neoalgae Indonesia Makmur (2012—sekarang)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d