Keluarga durian terkecil Durio acutifolius.

Keluarga durian terkecil Durio acutifolius.

Mengumpulkan dan mengembangkan 150 buah hutan lokal Kalimantan Selatan agar lestari.

Setidaknya 40.000 spesies tumbuhan hidup di Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia yang kaya plasma nutfah berjuluk negeri megabiodiversitas. M Hanif Wicaksono berupaya merawat beragam spesies agar tetap lestari. Anak muda itu mengumpulkan beragam benih dan memperbanyak spesies langka di Provinsi Kalimantan Selatan. Ia menemukan pohon manja setinggi 30 meter Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Buah manja kecil, bentuknya bulat hijau, dan berubah kuning ketika masak. “Tekstur buahnya empuk dan rasanya seperti gula kapas. Namun, biji lengket di daging buah,” kata Hanif. Manja Xanthophyllum amoenum tumbuh di hutan hujan berbukit, lembap, dan bertanah aluvial atau liat. Tingkat kekerasan kayu manja cukup baik sehingga masyarakat menggunakannya sebagai pegangan pisau, kapak, dan cangkul.

Asam bulu Mangifera laurina.

Asam bulu Mangifera laurina.

Kaya buah lokal
Keunikan lainnya kulit buah tebal sekitar 1 cm dan jika terbentur menghitam, lalu berbuih. Masyarakat lokal memanfaatkan buih itu sebagai sabun. Menurut Hanif manja berbuah pada Februari—Maret saban tahun. Hanif Wicaksono sukses memperbanyak manja menggunakan teknik grafting sejak 2014. Ia juga menemukan banyak kerabat mangga Mangifera sp. di hutan Kalimantan Selatan. Habitatnya di dataran rendah seperti di Kabupaten Banjar.

Ia menemukan lebih dari 20 jenis mangifera beragam rasa mulai dari dominan manis, dominan masam, gurih, dan masam gurih. Salah satu kerabat mangga yang mencuri perhatian Hanif adalah asam buluh yang bercita rasa manis, masam, gurih, serta agak berserat. Warna bunga kuning atau putih kekuningan. Bentuk buah memanjang dan berwarna kuning keemasan. “Menurut literatur asam buluh endemik Kalimantan Selatan,” kata pria berumur 34 tahun itu.

Hanif menemukan buah itu pada 2013 di Kabupaten Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Tapin. Hanif bukanlah peneliti buah dari instansi pemerintah. Ia perantau dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang pindah ke Kalimantan Selatan pada 2012. Ia masygul melihat mayoritas masyarakat Indonesia yang lebih mengetahui buah impor ketimbang buah lokal.

Tekstur buah manja Xanthophyllum amoenum empuk, rasanya seperti gula kapas, hanya saja biji lengket di daging buah.

Tekstur buah manja Xanthophyllum amoenum empuk, rasanya seperti gula kapas, hanya saja biji lengket di daging buah.

Oleh karena itulah ia keluar masuk rimba Kalimantan Selatan demi mengungkap kekayaan buah lokal di Borneo bagian selatan. Jarak terjauh yang ia tempuh yaitu 100-an kilometer dari kediamannya di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pemuda itu mengatakan banyak buah lokal Kalimantan Selatan yang enak, tapi terabaikan. Bahkan mayoritas masyarakat tidak mengetahui nama buah lokal.

Hanya 20 jenis nama lokal yang mereka tahu. Padahal, di hutan terdapat ratusan buah lokal. Untuk mengatasinya Hanif bertanya kepada pakar Biologi, ahli Taksonomi, dan membaca literatur seperti Majalah Trubus edisi khusus yang memuat buah lokal khas Kalimantan. Hanif pun makin bersemangat menjelajahi hutan Kalimantan Selatan. Ia mengeksplorasi hutan, sungai, dan perbukitan di beberapa daerah di Kalimantan Selatan.

Baca juga:  Hidroponik Tomat Ceri: Produktif di Dataran Rendah

Unik
Hanif menuturkan, “Setiap kabupaten memiliki buah lokal khas.” Alumnus Jurusan Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, itu menemukan kasturi Mangifera casturi di Kabupaten Banjar dan varian seperti kasturi panjang, kasturi palipisan, kasturi mawar, dan kasturi bangkok. Menurut suami Dewi Ratna Hasanah itu yang paling berkesan adalah kasturi mawar lantaran berpenampilan cantik dengan warna merah kuat.

Cilitan, mangga terkecil bercita rasa manis dan harum.

Cilitan, mangga terkecil bercita rasa manis dan harum.

Ciri khasnya pada daun baru yang seperti mawar. Lazimnya buah ikon Kalimantan Selatan itu berwarna ungu, sedangkan kasturi mawar berkelir merah hati mengilap. Nun di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Hanif menjumpai cilitan, yaitu sejenis mangga terkecil. Ukurannya sekecil Mangifera griffithi dengan biji kempis. Warna buah hijau meski sudah matang, bercita rasa manis, dan harum meski tidak seharum kasturi.

“Masyarakat setempat hanya mengupas kulit dan memakan buah kecil tanpa membuang bijinya,” kata Hanif. Musim berbuah tanaman anggota famili Anacardiaceae itu pada November—Februari. Sementara di Desa Binuangsantang, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, ia mendapati kerabat durian terkecil yaitu Durio acutifolius. Buahnya bisa dikonsumsi, tapi berukuran kecil.

Lahung burung—nama lokal Durio acutifolius—berhabitat di perbukitan dan tepi sungai hingga tempat berketinggian 900 meter di atas permukaan laut (m dpl). Tanaman itu tumbuh baik di tanah berpasir, tanah liat kaya humus, hingga tanah berkapur. Musim berbuah lahung burung November—Februari. Ia juga menemukan buah mirip duku. Masyarakat menamainya katitiwar Aglaia sp. “Baunya persis duku dengan cita rasa asam manis,” kata Hanif.

M Hanif Wicaksono (kedua dari kiri) kerap bereksplorasi bersama warga setempat.

M Hanif Wicaksono (kedua dari kiri) kerap bereksplorasi bersama warga setempat.

Hanif juga sangat terkesan dengan keluarga besar Artocarpus sp. Anak pasangan Fatchurohman dan Umi Saropah itu mendapati 17 spesies Artocarpus, sedangkan jenis yang dikebunkan hanya dua yaitu nangka dan cempedak. Menurut Hanif sekitar 50% Artocarpus sp. yang ia temukan dapat dikembangkan dan cita rasanya beragam. Ada yang rasanya seperti jeruk, warga lokal menyebutnya mandalika atau puyukan. Buah unik lain yang ia temukan mirip gac fruit.

Bedanya bentuk daun lebih bulat dan ukuran buahnya 2—4 kalo lebih besar dari gac fruit. Masyarakat lokal menamainya kacai dan memanfaatkan buah mudanya sebagai sayur. Tanaman itu menghendaki tempat lembap seperti tepi sungai. Di Desa Hamak, Kecamatan Telagalangsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hanif memperoleh bumbunau Aglaia laxiflora. Rasa buahnya asam, manis, dan sepat dengan kulit buah kuning plus daging buah putih.

Baca juga:  Buah Palsu Penjebak Hama

Buah berdiameter 2—3 cm dan memanjang. Ia menemukan bumbunau di hutan, bukit, tepi sungai berstruktur tanah berpasir, dan tanah berkapur. Musim berbuah tanaman anggota famili Meliaceae itu pada Juli—September. Buah unik lain yang Hanif kumpulkan yaitu keliwint Baccaurea pyriformis yang berdiameter 1—2 cm, berbentuk bulat dengan warna kulit buah cokelat, dan daging buah jingga.

Katitiwar memiliki rasa dan aroma mirip duku.

Katitiwar memiliki rasa dan aroma mirip duku.

Buah mentah bercita rasa masam, tetapi manis jika sudah masak. Masyarakat setempat kerap merebus daun muda keliwint untuk mengatasi diare. Tanaman itu tumbuh di daerah lembap atau bertanah lempung dan daerah perbukitan seperti Desa Marajai, Kecamatana Halong. Musim berbuahnya Januari—Maret. Masih banyak lagi buah-buahan unik temuan Hanif. Semua itu ia dedikasikan untuk pengembangan buah lokal di Indonesia.

Proses Hanif mendata buah lokal sederhana. Ketika menemukan buah baru, ia bertanya kepada teman seperjalanan nama buah itu. Jika ia sendirian, maka Hanif memotret pohon dan buah. Setelah itu ia membawa pulang beberapa buah. Langkah berikutnya ia mengidentifikasi buah dengan beberapa literatur. Ia lalu menulis laporan dan mengumpulkan foto setiap bagian tanaman. Setelah berhasil didokumentasikan, Hanif memperbanyak tanaman secara vegetatif atau generatif.

Ia lebih banyak mengembangkan tanaman secara generatif atau menggunakan biji agar lebih mudah beradaptasi di kediamannya. Harap mafhum rumah Hanif di dataran rendah, sedangkan hampir semua buah berasal dari perbukitan. Beberapa buah sulit diperbanyak secara generatif seperti durian terkecil. Solusinya ia mengambil entres dan menyambungnya dengan durian lain. Hanif sukses memperbanyak 100 buah lokal dari 150 jenis yang ia temukan.

Ciri kasturi mawar berdaun muda seperti mawar.

Ciri kasturi mawar berdaun muda seperti mawar.

Tantangan
Dari jumlah itu ia menyimpan 5—7 tanaman untuk koleksi. Sisanya ia berikan ke instansi yang bergerak di bidang lingkungan dan hutan seperti kebun raya, dinas pemerintah, dan universitas. Hanif menggunakan uang pribadi untuk memburu buah lokal di hutan. Masyarakat lokal seperti suku Dayak kerap menemani pria yang berprofesi sebagai penyuluh keluarga berencana itu. “Selesai bekerja, saya langsung ke hutan dekat tempat penyuluhan,” kata Hanif.

Kacai Mamordica sp bersosok seperti gac fruit.

Kacai Mamordica sp bersosok seperti gac fruit.

Banyak kisah menarik selama ia menjelajahi hutan seperti tersesat. Jalan keluarnya temukan dan ikuti aliran sungai, nanti pasti menjumpai perkampungan. Dari situ ia mendapat petunjuk arah pulang. Ia juga banyak mengambil pelajaran selama di hutan. Misal hindari langsung memakan buah yang baru ditemui. Lidah Hanif pernah mati rasa 3 hari ketika ia menjilat daging buah yang ia baru lihat. Sayang, ia lupa nama buah itu.

Pembibitan buah-buahan lokal Kalimatan Selatan.

Pembibitan buah-buahan lokal Kalimatan Selatan.

Sebetulnya banyak orang asing (Kostarika, Amerika Serikat, Srilanka, dan India) yang tertarik mengembangkan buah koleksi Hanif. Namun, ia menolak semua permintaan itu. Alasannya buah lokal adalah harta karun bangsa Indonesia. “Sudah seharusnya semua pihak yang berwenang lebih memperhatikan buah lokal. Jangan kalah dengan negara-negara lain,” kata pria penyuka jalan-jalan itu. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d