Lumbung Padi Dunia

Lumbung Padi Dunia 1

Di Indramayu, Jawa Barat, Sartiman beserta 10 rekannya, sukses memanen 12,2 ton gabah kering panen per hektare. Mereka mengelola lahan 50 ha. Padahal, ratusan hektare sawah lain di sekelilingnya hanya panen 4—5 ton per ha. Sartiman memanen 3 kali lipat karena menggunakan pupuk mutakhir seperti pupuk hayati, pupuk anorganik tunggal, dan dekomposer bahan organik.

Selain itu mereka juga menerapkan teknik jajar legowo dan memanfaatkan sistem informasi pemupukan. Sartiman kian untung karena teknik itu menghemat pupuk hingga 20%. Musababnya Sartiman tak lagi memupuk fosfor (P) dan kalium (K). Berdasarkan Perangkat Uji Pupuk Sawah (PUPS) terungkap bahwa sawahnya masih menyimpan sisa fosfor dan kalium dari pemupukan NPK selama bertahun-tahun mengelola sawah.

Jasa mikrob
Kini Sartiman cukup memupuk nitrogen (N). Tanaman akan menyerap pupuk fosfor dan kalium setelah mikroorganisme pelarut P dan pelarut K merombaknya. Praktik bertani ala Sartiman di Desa Karanggetas, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, itu kini dikenal dengan sebutan Inovasi Pemupukan Berbasis Keseimbangan Hara Terintegrasi atau IPbKHT. Konsep itu memiliki 4 kunci utama.

Dedi Nursyamsi

Dedi Nursyamsi

Pertama, menggunakan teknologi pemupukan mutakhir sehingga tak hanya mengandalkan pupuk Urea atau NPK. Pada abad ini berkembang pemupukan mutakhir seperti pupuk hayati dan pembenah tanah yang sangat penting mempercepat proses dekomposisi bahan organik serta melarutkan hara yang terkandung di dalam tanah maupun bahan organik. Pupuk hayati yang berisi konsorsia alias gabungan beragam mikrob penambat nitrogen (N) dan pelarut fosfor (P).

Itulah sebabnya petani dapat menghemat pupuk N dan P sebanyak 20%, bahkan hingga 50%. Harap mafhum, sebetulnya nitrogen berupa N2 di udara sangat berlimpah sehingga dengan mikrob yang tepat mampu “menangkapnya” sehingga dapat diserap tanaman. Mikrob penangkap nitrogen itu seperti Anabaena, Azotobacter, Clostridium, Azospirillum, dan Cyanobacteria. Pun demikian dengan fosfor di sawah-sawah intensif sangat berlimpah.

Fosfor itu dalam bentuk residu akibat pemupukan SP36, TSP, maupun NPK yang jor-joran sejak revolusi hijau pada era 80-an. Sayangnya, tanaman tak dapat menyerap fosfor itu karena terikat kuat oleh unsur lain seperti kalsium (Ca), besi (Fe), dan aluminium (Al) dalam bentuk Ca-P, Fe-P, dan Al-P. Bakteri pelarut fosfat seperti Bacillus mycoides, Pseudomonas mallei, Pseudomonas cepaceae mampu “melepaskan” ikatan-ikatan itu.

Baca juga:  Manfaat Mikoriza Untuk Tanaman agar Subur

Setelah ikatan terlepas, tanaman pun mampu menyerapnya. Sebagian bakteri pelarut fosfat itu juga mampu melarutkan kalium di dalam tanah dan bahan organik. Petani yang akan memanfaatkan pupuk hayati itu, kini di pasaran juga tersedia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian memproduksi pupuk hayati Agrimeth dan Agrofit. Keduanya dapat meningkatkan efisiensi pupuk N, P, dan K lebih dari 25%.

Pupuk tunggal
Selain itu Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga menghasilkan beragam produk pemupukan mutakhir lain berupa dekomposer dan bahan pembenah tanah seperti M-dec, dekomposer fraksi humat, biochar, dan kapur. Sementara untuk pupuk anorganik kini hara makro sekunder seperti sulfat, kalsium, dan magnesium serta hara mikro vesi, tembaga, mangan, seng, dan boron berkembang berkat teknologi nano sehingga tanaman mudah menyerapnya.

Kedua, reorientasi paket teknologi pemupukan. Dengan IPbKHT maka pemupukan wajib spesifik lokasi sehingga lahan harus dibedakan menjadi 3 kluster utama, yaitu lahan optimal intensif, lahan optimal dan lahan suboptimal belum intensif, serta terakhir lahan suboptimal bukaan baru. Pemupukan untuk lahan optimal intensif sebaiknya pupuk tunggal. Pemberian pupuk majemuk N, P, K pada tanah dengan kandungan P dan K tinggi hanya pemborosan.

Di lahan itu fokus utama adalah penambahan bahan organik dan pemberian hara nitrogen. Sementara pemberian P dan K secara terbatas. Sebaliknya untuk kedelai dan kacang-kacangan justru kadar nitrogen pupuk harus diturunkan karena tanaman—dengan bantuan mikrob—mampu menangkap nitrogen dari udara. Di lahan suboptimal yang belum intensif dan bukaan baru tanah membutuhkan bahan organik, pupuk N, pupuk P, dan pupuk K lebih tinggi.

Adapun di lahan suboptimal berupa lahan masam pupuk fosfat sebaiknya diberikan dalam bentuk batuan fosfat, sementara pada lahan suboptimal berupa lahan gambut perlu ameliorant yang mengandung kation polivalen besi, aluminium, dan mangan. Ketiga, integrasi dan sinergi dengan teknologi budidaya lain terutama varietas unggul baru, sistem penanaman, serta pengelolaan lahan, air, dan tanaman.

Baca juga:  9 Cara Membuat Pestisida Nabati Sederhana

Hemat Rp4 triliun

Teknologi terbaru yang dikembangkan Balitbang Pertanian adalah sistem penanaman jajar legowo untuk memaksimalkan “panen” sinar matahari sebagai sumber energi tanaman. Prinsip jajar legowo untuk mendapatkan efek tanaman pinggir yang umumnya produktivitasnya lebih tinggi dibanding dengan tanaman di bagian tengah. Sistem jajar legowo harus diintegrasikan dengan varietas unggul terbaru seperti Inpari 30, Inpari 32, dan Inpari 33.

Penerapan inovasi pemupukan berbasis hara terintegrasi meningkatkan produktivitas padi. (Foto: Dedi Nursyamsi)

Penerapan inovasi pemupukan berbasis hara terintegrasi meningkatkan produktivitas padi. (Foto: Dedi Nursyamsi)

Keempat, pemanfaatan perangkat uji tanah di lapangan seperti Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK), Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR), dan Perangkat Uji Pupuk (PUP). Para petani cepat mengetahui kandungan unsur hara tanah atau unsur hara pupuk bila memanfaatkan perangkat uji itu. Mereka tak perlu mengirim contoh tanah dan pupuk ke laboratorium yang memakan waktu berbulan-bulan.

Bila para petani menerapkan keempat ciri utama itu, maka menurut kajian penulis Indonesia dapat menghemat subsidi pupuk 20% per tahun setara Rp3,6 triliun—Rp4,2 triliun per tahun. Penerapan inovasi pemupukan berbasis keseimbangan hara terintegrasi (IPbKHT) juga dapat menghasilkan gabah kering panen lebih dari 10 ton per ha atau mendongkrak hasil lebih 60% ketimbang cara lazim petani.

Hitungan ekonomi secara nasional, maka petani Indonesia mendapat tambahan keuntungan Rp180 triliun per tahun. Penerapan IPbKHT juga diharapkan mampu mendukung pemerintah Presiden Joko Widodo mencapai target swasembada pangan padi, jagung, dan kedelai pada 2020 serta menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045. Selain itu IPbKHT mampu menjawab kekhawatiran sejumlah pihak yang menyatakan seluruh lahan optimal intensif di Indonesia telah sakit sehingga gagal memberi makan 250 juta penduduk.

IPbKHT yang mensyaratkan teknologi mutakhir berupa pupuk hayati, mikrob, dekomposer bahan organik, dan pembenah tanah mampu menyehatkan kembali lahan optimal yang telah terkuras selama puluhan tahun. Sistem jarwo super merupakan penerapan IPbKHT. (Prof Riset Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor/Profesor riset bidang Ilmu Tanah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x