Luar Negeri Mencari Vanili

Luar Negeri Mencari Vanili 1

Harga vanili tengah menggiurkan. Harga polong vanili kelas 1 mencapai Rp5 juta per kg.

Polong-polong kecokelatan nyaris lurus dan panjang memenuhi kardus yang dibawa pekebun dan juga ketua perkumpulan petani vanili asal Jawa Timur, Rudi Ginting. “Itu panenan pertama dari beberapa petani di Jawa Barat dan Jawa Timur,” kata Rudi. Menurut perkiraannya, vanili panen raya pada Juni—Agustus 2018. Namun, Mei sudah ada sedikit panen. Nanti September pun masih ada sisa yang belum panen. Toh, harga sudah meletup sejak Februari. Harga sekilogram polong kelas 1 berkualitas prima mencapai Rp5 juta di pekebun. Di pasar dunia, harganya US$500 setara Rp6,8 juta dengan kurs saat itu US$1=Rp13.600.

Menurut Rudi, pergerakan harga vanili terasa sejak 2016. Pada Oktober, pedagang perantara hasil bumi di Jember, Jawa Timur, Mohammad Muslih Bukhori, menjual vanili yang ia beli dari pemasok asal Indonesia timur seharga Rp1,7juta per kg. Pasokan itu untuk melayani permintaan eksportir di Jakarta. Ternyata harga itu naik menjadi Rp3,3 juta pada Januari 2017. Pada Februari 2017, harga naik menjadi Rp3,5 juta. “Pembeli meminta kiriman berapa pun harga dan ketersediaannya,” tutur Muslih.

Pekebun baru

Pada 2016, pekebun di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NITT), Aventinus Sadip, menjual 10 kg vanili kering simpanannya seharga Rp2 juta per kg. Harga itu 8 kali lipat tahun sebelumnya, yang hanya Rp250.000. Menurut Muslih, pengepul rekanannya biasa membeli dari pekebun seharga Rp500.000—Rp1 juta, tergantung kualitas polong. Namun, harga melonjak lantaran pengepul memerlukan waktu untuk mengumpulkan, menyeleksi, dan memproses buah vanili dari pekebun. Pekebun, yang dibayangi pencurian, memanen buah sebanyak-banyaknya meski tidak semuanya cukup umur.

Penanaman dengan sistem smart plantation ala Dwi Wijaya.

Penanaman dengan sistem smart plantation ala Dwi Wijaya.

Purnatugas peneliti vanili di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro), Bogor, Prof. Mesak Tombe, menyatakan bahwa buah vanili baru siap petik pada umur 9 bulan sejak penyerbukan. Namun, dengan ancaman pencurian, pekebun terpaksa memanen meski buah baru berumur 7 bulan, bahkan kurang. Efeknya, “Kadar vanilin dalam buah rendah sehingga ketika diolah rendemennya sedikit,” kata Mesak. Padahal, kadar vanilin tinggi salah satu keunggulan vanili Indonesia.

Baca juga:  Pasar Besar Bisnis Sabut Kelapa

Menurut eksportir vanili di Jakarta, John S Tumiwa, pasar dunia sejatinya menggemari vanili Indonesia. “Menjual tidak sulit karena pembeli mengerti kualitas vanili kita,” kata direktur PT Dwipa Java Spices itu. Sayang, tidak semua pekebun bisa merawat dan menghasilkan polong berkualitas. Maklum, vanili tanaman “manja”. Ia baru berbunga 2 tahun pascapenanaman. Tanaman pun harus bebas dari penyakit atau hama yang menghambat pertumbuhan. Bunga juga harus dikawinkan dengan tangan agar terbentuk polong buah.

Toh, meski repot, banyak pekebun baru terpikat. Salah satunya Dwi Wijaya di Nusadua, Denpasar, Provinsi Bali. Ia menanam dengan sistem yang ia sebut smart plantation. Ia memasang para-para berbahan baja ringan untuk menggantikan tanaman tajar. Dengan cara itu, di lahan 1,2 m x 6 m Dwi bisa menanam 60 batang tanaman. Jaring peneduh 40% meredam intensitas sinar sehingga cocok dengan keperluan. Smart plantation meningkatkan populasi hingga lebih dari 100%.

Rudi Ginting (kedua dari kiri), pegiat vanili dan ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia.

Rudi Ginting (kedua dari kiri), pegiat vanili dan ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia.

Lazimnya, pekebun menanam 1 tanaman di setiap tegakan pohon tajar. Jarak antarpohon tajar biasanya 2,5 m x 3 m, Artinya, di luasan 7,5 m2 ada 4 tanaman vanili, sedangkan dengan smart plantation ada 60 tanaman di luasan 7,2 m2. Menurut Dwi, cara itu mengharuskan pekebun mengeluarkan biaya besar untuk pembuatan para-para baja ringan, naungan, dan pembelian bibit. “Biaya tanam vanili memang mahal apalagi kalau bibitnya harus membeli,” katanya.

Bibit sehat

Banyaknya pekebun baru yang menerjuni vanili menjadi perhatian Rudi Ginting. Menurutnya, itu menyebabkan permintaan bibit melejit. “Permintaan dari negara-negara tetangga pun masuk, tapi saya mengutamakan pekebun lokal,” katanya. Ia menyoroti banyaknya pekebun yang menanam bibit dengan asal-usul tidak jelas. Kalau ternyata bibit itu berasal dari induk yang terkena busuk batang vanili (BBV), maka pekebun harus siap menghadapi kehancuran tanaman setelah berumur 5—6 tahun.

Baca juga:  Dua Varian Cempedak Raja

Maklum, BBV adalah momok nomor satu bagi para pekebun vanili. Tanaman terserang pasti mati dan menjadi sumber penyakit bagi tanaman vanili di sekitarnya. Prof. Mesak menekankan agar calon pekebun mencari bibit sehat dan melakukan pengolahan lahan pratanam. Dengan demikian risiko BBV dapat ditekan dan pekebun bisa meraih untung dari tanaman berumur panjang serta berproduksi optimal.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x