Lengkeng berbuah lebat di luar musim berkat pemberian potasium klorat

Lengkeng berbuah lebat di luar musim berkat pemberian potasium klorat

Pemberian potasium klorat dan pemupukan intensif kunci sukses pekebun di Thailand membuahkan lengkeng di luar musim.

Retno Probowati Musa berujar girang melihat pohon lengkeng berbuah lebat, “Wow… lebat sekali.” Ratusan pohon di kebun lengkeng milik Picha Pasorn di Kabupaten Doi Tao, Provinsi Chiang Mai, Thailand, itu seragam berbuah di luar musim pada Desember 2014. Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Doi Tao, Kan Ya Korn Shomano, masa puncak berbuah lengkeng di Thailand biasanya pada Juli—Agustus.

Pantas bila pemandangan di kebun 1,6 ha itu mengundang decak kagum rombongan Trubus Agrotour, termasuk Retno Probowati Musa, yang bertandang ke kebun Pasorn. Pada pengujung tahun mestinya tengah “paceklik” buah lengkeng Dimocarpus longan. Shomano menuturkan, pemerintah memang mengarahkan para pekebun lengkeng di Doi Tao untuk membuahkan lengkeng di luar musim.

Picha Pasorn, sukses membuahkan lengkeng itoh di luar musim

Picha Pasorn, sukses membuahkan lengkeng itoh di luar musim

Harga mahal
Menurut Shomano, “Kalau ada lengkeng di luar musim panen raya, itu pasti dari Doi Tao.” Di kabupaten di bagian selatan Provinsi Chiang Mai itu terdapat 4.407 pekebun lengkeng dengan luas areal tanam 25.000 rai setara 4.000 hektar. Para pekebun di sana membudidayakan lengkeng jenis itoh dengan populasi rata-rata 150 tanaman per ha.

Dari total luas areal tanam itu hanya 320 ha yang dibiarkan berbuah secara alami sesuai musimnya pada pada Juli—Agustus. Para pekebun berupaya membuahkan pohon anggota famili Sapindaceae itu di lahan 3.680 ha lainnya di luar musim. Menurut Shomano membuahkan lengkeng di luar musim dapat membantu pekebun memperoleh pendapatan lebih tinggi.

Pasalnya harga jual lengkeng di luar musim panen raya jauh lebih tinggi ketimbang saat puncak musim panen. Saat buah berlimpah harga jual lengkeng anjlok hingga 10 baht setara Rp2.750 per kilogram (kurs 1 baht = Rp275). “Ketika di luar musim, harga jual lengkeng mencapai 60—70 baht (setara Rp16.500—Rp19.250) per kilogram,” ujarnya kepada Suci Puji Suryani dari Trubus.

Baca juga:  Tameng Cabai Ketika Hujan

Untuk memanen lengkeng di luar musim, Pasorn memulai perlakuan sejak 9 bulan sebelumnya. Menurut pemilik 6 ha kebun lengkeng itu kunci utama membuahkan lengkeng di luar musim adalah pemberian potasium klorat (KClO3).

Para pekebun lengkeng di tanahair banyak yang menggunakan potasium klorat untuk merangsang itoh berbuah. Contohnya Lie Ay Yen, pekebun di Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, dan Budi Darmawan, di Ngebruk, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Mereka tidak memberikan potasium klorat murni, tetapi bercampur dengan bahan lain seperti asam amino dan nutrisi mikro dalam bentuk pupuk siap pakai. Itu karena sulit memperoleh potasium klorat murni.

Rombongan tur Trubus saat berkunjung ke kebun lengkeng itoh milik Picha Pasorn di Kabupaten Doi Tao, Provinsi Chiang Mai, Thailand

Rombongan tur Trubus saat berkunjung ke kebun lengkeng itoh milik Picha Pasorn di Kabupaten Doi Tao, Provinsi Chiang Mai, Thailand

Pupuk intensif
Menurut Prof Pawin Manochai, dosen senior bidang studi hortikultura di Universitas Maejo di Chiang Mai, Thailand, potasium klorat berperan mengubah komposisi protein dan asam amino dalam tanaman sehingga tanaman stres. Ketika stres tanaman mengeluarkan bunga yang nantinya berkembang menjadi buah.

Pemberian potasium klorat perlu diimbangi pemupukkan intensif. “Jika tidak dipupuk pohon akan mati,” ujar Pasorn. Oleh sebab itu Pasorn memberikan berbagai jenis pupuk sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman. “Produktivitas tanaman tergantung ketekunan dan ketepatan petani memberi pupuk,” katanya.

Waktu pemberian potasium klorat juga harus tepat. Ia menghindari pemberian bahan kimia itu saat tanaman tengah tumbuh daun muda. “Potasium klorat sebaiknya diberikan setelah 3 kali siklus pertumbuhan daun muda pascapemangkasan,” tutur Pasorn. Saat tumbuh tunas cadangan makanan tanaman belum cukup sehingga merana ketika dipaksa berbuah. Menurut Shomano, rata-rata produksi lengkeng di luar musim 890 kg per rai (1.600 m2) atau sekitar 5,5 ton per hektar. “Kalau petaninya pandai produktivitas lengkeng mencapai 1—2 ton per rai (6,2—12,4 ton per hektar, red),” ujarnya. (Imam Wiguna/Peliput: Suci Puji Suryani)

Baca juga:  Embun Jelaga

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d