580-H016-1

Lovebird biola euwing yang akan terus tren sampai 10 tahun mendatang.

Para pehobi terus memburu lovebird eksotis meski harga tinggi.

Lovebird baru berwarna kuning, jingga, dan hijau dengan mata berwarna rubby itu menyedot perhatian pehobi burung. Tangan dingin Toni Kusnadi yang sukses membidani kelahiran silangan lovebird silangan terbaru itu. Penangkar lovebird di Kota Bandung, Jawa Barat, itu memanfaatkan green split pale fallow sebagai induk jantan dan green pale fallow sebagai induk betina. “Nama burung itu green pale fallow. Masih jarang di Asia,” ujar Toni.

Bulu kepala belakang, muka, dan leher  jingga, sementara tubuh hingga ekornya paduan jingga dan hijau pupus. Sebelum pale fallow opaline green lahir, belum pernah ada lovebird seelok itu. Bagian atas paruh merah muda dan warna paruh jingga menyala. Pria asal Bandung itu berencana menjual burung anggota famili Psittaculidae itu pada 2018 seharga Rp35 juta—Rp50 juta per ekor. Menurut Toni warna bulu makin eksotis, maka harga kian mahal.

580-H016-2

Green pale fallow, lovebird koleksi terbaru Toni Kusnadi.

Opaline

Lebih lanjut Toni menjelaskan harga opaline juga kian melambung jika berjenis kelamin jantan. Hal itu karena jenis opaline bersifat “sexlink”  secara genetik resesif, yang mana jenis kelamin opaline dan mutasi warna pada keturunannya dapat ditentukan oleh peternak. Untuk mencetak varian biola dengan bermacam warna butuh waktu. Sebab mencetak varian baru dari nol tidak bisa satu kali proses.

Projek Toni selanjutnya yaitu menyilangkan burung jenis opaline / biola dengan pale fallow. Sehingga akan keluar varian baru yaitu opaline pale fallow dengan retina merah rubby. Harga burung jenis terbaru itu diperkirakan diatas Rp100 juta per ekor. Jenis lovebird baru lain yang dimiliki Toni yaitu opaline parblue. Untuk dapat menikmati keelokan lovebird itu para pehobi perlu dana Rp70 juta—Rp80 juta per ekor.  Keistimewaan lovebird itu pada warnanya.

580-H017-1

Toni Kusnadi, penangkar lovebird di Kota Bandung, Jawa Barat.

Sesuai dengan namanya pale fallow parblue, lovebird itu memiliki warna krem keputihan dan biru. Warna biru keabu-abuan menyapu bagian punggung, tubuh, dan sayap. Sosoknya istimewa. Parblue itu memiliki lingkaran putih di sekitar mata. Bulu kepalanya berwarna kuning muda. Saat berumur 2—3 bulan paruh berwarna jingga menyala. Bila dewasa paruh berwarna putih sedikit merah muda. Perpaduan warna lembut pada tiap bagian tubuhnya sangat eksotis.

Baca juga:  Pasar Kopi Organik

Saat ini ayah 2 orang anak itu bermaksud menangkarkan jenis baru itu untuk menambah koleksi dan menjadikannya sebagai indukan unggul. Selain sosoknya yang menawan, suara lovebird parblue memang merdu. Kicauannya amat khas. Ia layak menjadi burung kicauan. Singkat kata parblue serbabisa, tampak elok, suara pun merdu. Namun, kini para pehobi seperti Toni lebih banyak menikmati keelokan tubuh burung anggota famili Psittaculidae itu.

“Postur tubuh dan corak warna, merupakan kriteria utama untuk penilaian even- even beauty kontes yang sedang marak di Indonesia,” ujar pria kelahiran Bandung, 25 juni 1975 itu. Jenis lovebird baru lain berwarna bulu bronze fallow yang sungguh eksotik. Betapa tidak, kepala putih dan tubuh cokelat muda. Lovebird itu merupakan hasil penangkaran Waskito Nagabhirawa, penangkar di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Bronze fallow adalah salah satu lovebird hasil mutasi dari spesies fallow. Perubahan genetik mutasi dan perubahan pigmentasi terjadi pada bulu. Spesies fallow memiliki pengurangan eumelanin—pigmen pada bulu dan warna mata. Hasil mutasi fallow seperti pale fallow, bronze fallow, dan ashen atau smokey fallow. Bronze fallow milik pria kelahiran Tegal, 10 Juli 1970 itu merupakan mutasi dari persilangan 3—4 generasi fallow.

Efek memudar timbul karena kadar melanin di bulu berkurang akibat mutasi. Bronze fallow memiliki tubuh dan sayap berwarna cokelat keabu-abuan. Tengkuk, leher, dan kepala berwarna putih. Mata memiliki lingkaran putih seperti kacamata dan paruh berwarna jingga terang. Waskito akan menjual salah satu lovebird kesayangannya itu Rp75 juta—Rp100 juta per ekor.

580-H017-2

Untuk dapat menikmati keelokan opaline parblue (kiri), para pehobi perlu dana Rp70—80 juta per ekor.

Tren 

Menurut Toni masyarakat lebih mengagumi keelokan burung yang memiliki banyak mutasi warna itu. “Pengagum keindahan lovebird di tanahair terus bertambah,” ujarnya. Tren lovebird masih bagus pada masa mendatang. Sebab, masih banyak warna mutasi lovebird yang belum terekspose. Burung yang tengah tren saat ini antara lain fischeri, opaline atau biola, pale fallow, dan semua jenis lovebird berwarna violet—ungu.

Baca juga:  Ferdinand Cheng: Cetak Lovebird Jawara

“Lovebird tengah tren saat ini dan berlanjut hingga 2030,” ujar pria berusia 43 tahun itu memprediksi. Saat ini Toni menjual sekitar 10—30 ekor lovebird setiap bulan atau sekitar 250—300 ekor per tahun. Sebelumnya pada 2015 ia menjual 50—70 ekor per tahun. Sejatinya karyawan di salah satu konveksi rajut di Bandung itu sudah meningkatkan volume produksi dan permintaan belum terpenuhi.

580-H017-3

Bronze fallow milik Waskito Nagabhirawa, penangkar di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

“Jika saya produksi 200 burung per bulan pun bakal habis terjual,” kata pria asal Bandung itu. Padahal, harga rata-rata ternakan Toni puluhan juta rupiah. Jika dihitung, pehobi burung sejak 2013 itu menangguk omzet lebih dari Rp200 juta per bulan. Yang paling mahal jenis pale fallow opaline seharga Rp100 juta per ekor. Itu hampir seharga rumah subsisidi di pinggir kota. Harga tinggi karena ia menggunakan indukan kualitas premium. Oleh karena itu, ia dan istri mengalokasikan 40% hasil penjualan untuk menambah indukan dan kandang.

Toni menangkarkan lovebird parblue, biola, dan pale fallow karena tren lovebird mengarah ke ketiga jenis itu. “Yang pasti indukan harus berkualitas dan sesuai keinginan pasar nasional,” kata alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Inaba Economic Institute. Menurut Toni budidaya burung pemakan biji-bijian itu bisa dipelajari. Ia bukti nyata peternak pemula lovebird yang sukses. Saat memulai beternak ia juga belum menguasai cara budidaya yang benar.

Ia menyarankan untuk peternak pemula agar memelihara lovebird yang tengah tren seperti biola, parblue, dan fischeri hijau standar. Kunci perawatan lovebird dengan memberikan pakan racikan sendiri. Pakan itu berupa campuran segenggam milet putih, milet merah, biji bunga matahari, dan egg food racikannya. 0,5 kg beras merah, dan 0,5 kg biji bunga matahari. Setiap pagi makanan dan minuman yang tersisa diganti. Tempat makan dan minum juga harus dicuci agar steril. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments