Lovebird: Bisnis Rumahan Laba Belasan Juta Sebulan 1
580-H009-1

Para penangkar memprediksi, tren lovebird masih bagus hingga 2021—2023. Lovebird jenis pale fallow parblue (depan) dan green pale fallow.

Penangkar di perkotaan memanfaatkan kamar kosong di rumahnya untuk menangkarkan lovebird. Bisnis rumahan itu mendatangkan laba besar hingga puluhan juta sebulan. Prediksi tren hingga 2023.

Slamet Waluyo semula tidak percaya ketika layanan mobile banking (m-banking) dalam telepon seluler menunjukkan saldo rekeningnya bertambah Rp42 juta. Apalagi uang itu hasil penjualan 4 lovebird pale fallow green dan green split pale fallow hasil ternakannya. Saat itu warga Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu masih heran ada pehobi yang membeli burung seharga Rp10,5 juta per ekor itu.

“Saya tidak menyangka sekaligus senang karena lovebird saya terjual,” kata Waluyo. Ia pantas bahagia karena pada 2016 itu penjualan perdana burung cinta ternakan Waluyo. Harap mafhum pria berumur 53 tahun itu mulai beternak lovebird sejak 2015. Artinya Waluyo mulai mendapatkan omzet sekitar setahun membudidayakan burung anggota famili Psittacidae itu. Padahal, ia tergolong peternak baru saat itu. Sejak saat itu pendapatan Waluyo rutin bertambah sekitar Rp40 juta per bulan.

Bisnis rumahan

Kini Slamet Waluyo santai saja ketika mendapati puluhan juta rupiah masuk ke dalam rekening miliknya. Yang paling anyar Waluyo menunjukkan kepada Trubus bukti transfer uang tunai Rp32,4 juta ke rekeningnya pada Januari 2018. Itu juga hasil penjualan 4 anakan lovebird terdiri dari 3 biola green betina dan 1 fischery violet. Usaha penangkaran lovebird  kelolaan Waluyo makin berkembang.

580-H010-1

Slamet Waluyo mendulang omzet puluhan juta rupiah per bulan dari beternak lovebird sejak 2016.

580-H010-2

Budidaya atau penangkaran lovebird bisa dilakukan di ruangan yang relatif sempit.

580-H010-3

Pakan berkualitas salah satu kunci sukses beternak lovebird.

Kini rekening tabungan Waluyo makin membengkak karena pendapatannya dari perniagaan lovebird meningkat. “Saya memperoleh lebih dari Rp50 juta per bulan,” kata pemilik Aycell Bird Farm (BF) itu. Pendapatan itu lebih besar daripada gaji bulanan dari sebuah perusahaan asuransi. “Budidaya lovebird hanya pekerjaan sampingan,” kata asisten manajer di perusahaan asuransi asing itu. Slamet memanfaatkan ruang kosong berukuran 3,2 m x 3,2 m di lantai tiga rumahnya.

Keistimewaan beternak lovebird yakni tidak memerlukan tempat luas sehingga cocok untuk masyarakat perkotaan seperti Waluyo. Di ruangan itu ia menata 12 kandang indukan dan 4 kandang anakan. Penangkaran lovebird memang tidak membutuhkan lahan luas, hanya bisnis rumahan. Meski penangkaran di rumah, kondisi tetap bersih. Artinya Waluyo mendapatkan laba besar dari tempat relatif sempit.

Buktinya ia mampu balik modal dan membeli mobil produksi terbaru berharga lebih dari Rp200 juta setelah membudidayakan lovebird 1,5 tahun. Selain menguntungkan, keunggulan lain membiakkan lovebird yaitu mudah dibudidayakan dibandingkan dengan burung lainnya seperti murai batu. Buktinya Waluyo bisa mengurus satwa kerabat burung makaw itu sendirian sambil bekerja di kantor. Konsekuensinya ia mesti menengok klangenan sebelum dan sesudah bekerja.

Waluyo bangun tidur sekitar pukul 04.00 dan langsung membersihkan kandang serta menambahkan pakan dan mengganti air minum hingga pukul 04.30. Waluyo melakukan aktivitas sama ketika pulang kerja. Penghasilan Waluyo fantastis lantaran ia membudidayakan lovebird hias atau warna untuk dinikmati keindahan warnanya. Burung jenis itu lazimnya berlomba di kontes kecantikan lovebird.

Ia tidak memelihara lovebird untuk burung kicau yang lazim berkontes di ajang adu suara. Varian irama dan durasi kicau salah satu penilaian utama. Lovebird warna menghendaki galur murni. Sementara lovebird kicauan memprioritaskan durasi bersuara, tanpa peduli burung hibrida atau bukan. Waluyo tertarik mengembangkan lovebird warna lantaran berharga jual tinggi. Selain itu warna lovebird pun beragam.

Alasan lain ia mendapatkan pemasukan tinggi karena memelihara lovebird premium yang tengah digandrungi pehobi seperti biola hijau, biola biru, pale fallow, dan euwing. Biola hijau berwarna hijau dan berkepala merah dengan beberapa ujung sayap berkelir hitam. Biola biru hampir sama dengan biola hijau. Bedanya biru mendominasi biola biru. Sementara salah satu ciri pale fallow bermata merah.

Bukti lain budidaya lovebird Waluyo makin maju yaitu bertambahnya indukan yang semula 4 burung menjadi 35 ekor. Makin banyak indukan tentu saja jumlah anakan terjual makin meningkat menjadi 6—8 lovebird per bulan, sebelumnya hanya 4 anakan setiap bulan. Agar pertumbuhan dan kesehatan burung maksimal ia mengandalkan pakan berupa milet impor, eggfood, dan sotong.

Baca juga:  Hobi Kucing Jadi Bisnis

Banyak aral

Menurut peternak lovebird dari Cianjur, Jawa Barat, Jacobus Dros, pakan ideal lovebird meliputi grit, milet, dan eggfood. Jadi ketiga jenis pakan itu dan air minum mesti tersedia di kandang burung asal Afrika itu. Ko Dros—panggilan akrab Jacobus Dros—mengatakan milet makanan pokok, sedangkan grit memenuhi kebutuhan kalsium dan membantu pencernaan burung. Selain grit, beberapa peternak seperti Waluyo memanfaatkan sotong sebagai pengganti grit.

Adapun eggfood berperan membikin bulu bagus dan membantu menaikkan berahi burung. Slamet tidak merasa capai bekerja di kantoran sekaligus merawat lovebird karena memang hobi. “Beternak lovebird harus dengan cinta. Dengan begitu produksi anakan lancar sehingga rupiah pun berdatangan,” kata alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, itu.

580-H011-2

Waskito Nagabhirawa peternak lovebird senior yang memiliki beragam varian burung premium seperti dun fallow.

Waluyo tidak sendirian menikmati profit lovebird. Ada Waskito Nagabhirawa yang membeli mobil seharga sekitar Rp500 juta selang 6 tahun memelihara satwa kerabat burung kakatua itu pada 2018. Semula Waskito mengembangkan lovebird lawas seperti lutino. Kini hampir semua varian lovebird ada di kediaman warga Kelurahan Petukangan Selatan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, itu. Terutama varian pale fallow dan aneka jenis biola.

Ketertarikan Waskito pada  burung pemakan biji itu karena warnanya beragam. Penghasilan Waskito dari perniagaan burung yang pertama kali diidentifikasi pada 1836 itu minimal Rp40 juta per bulan. Ia pun makin meneguhkan beternak lovebird menjadi usaha sampingan yang menguntungkan dan cocok di perkotaan. Sekitar 30 pasang lovebird menghuni ruangan berukuran sekitar 7 m x 3 m di lantai 2 kediaman pegawai salah satu badan usaha milik negara (BUMN) itu.

580-H011-1

Double dark (DD) green dun fallow milik Waskito Nagabhirawa seharga sekitar Rp250 juta. Jenis lovebird seperti itu masih impor karena belum ada peternak lokal yang memproduksinya.

Namun, untuk memperoleh laba besar itu para penangkar menghadapi beragam aral. Ketua Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) sekaligus penangkar, Benny Rustam, menuturkan harga lovebird pernah jatuh karena masuknya barang impor pada 2013. Saat itu harga anakan hijau standar juara Rp400.000—Rp500.000 per ekor. Datanglah burung impor yang harganya kurang dari Rp300.000 sehingga harga burung jenis itu merosot.

Peternakan lovebird yang menjamur pun menurunkan harga karena produksi berlebih. “Sejatinya saya tetap mengharapkan importir tetap ada. Namun, imporlah lovebird yang berkualitas bagus dan varian yang belum ada di Indonesia. Dengan begitu peternak dan kualitas lovebird berkembang,” kata warga Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, itu. Selain itu permintaan pasar untuk jenis tertentu seperti biola dan fallow belum bisa dipenuhi peternak lokal.

Harga indukan yang mahal juga salah satu kendala beternak burung yang pertama kali diidentifikasi ahli burung asal Inggris, Prideaux John Selby, itu. Terutama bagi calon penangkar yang modalnya terbatas. Harap mafhum untuk membeli sepasang indukan biola penangkar mesti merogoh kocek dalam sekitar Rp25 juta. Peternak lovebird di Cibogo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Denih Sopiana, memiliki solusinya.

Denih mengawinkan jantan green split biola dengan betina green fischeri seharga sekitar Rp3 juta. Dari hasil perkawinan itu kemungkinan keluar biola betina berharga sekitar Rp10 juta. Beberapa kendala lain penangkaran lovebird adalah serangan penyakit snot yang mewabah pada musim hujan, penentuan jenis kelamin. Namun, jika mampu mengatasi beragam aral, penangkar meraih laba besar.

580-H011-3Prediksi tren

Apalagi, “Prospek membudidayakan lovebird masih bagus,” kata Waskito. Laba lovebird pun dirasakan Toni Kusnadi di Bandung, Jawa Barat.  Peternak lovebird sejak 2013 itu berpenghasilan tambahan sekitar Rp100 juta dari perniagaan 10—30 burung cinta setiap bulan. Sama seperti Waluyo dan Waskito, Toni pun beternak lovebird premium seperti varian pale fallow. Menurut Benny Rustam budidaya lovebird menguntungkan.

Baca juga:  Kunyit Antikanker

Oleh karena itu, para penangkar mulai bermunculan di perkotaan. Mereka berharap laba minimal belasan juta  per bulan. Misal Sugianto Limanto di Surabaya, Jawa Timur, yang menjual paling murah Rp2,5 juta dan paling mahal Rp250 juta per ekor per bulan dari kandang berukuran 5 m x 5 m. Nun di Lamongan, Jawa Timur, Edi Mulyono yang mengandalkan ruangan 20 m2 untuk beternak 30 pasang lovebird. Peternak sejak 2012 itu kepincut satwa kerabat burung betet itu karena varian warna dan mutasinya banyak.

580-H012-1

Jacobus Dros beternak lovebird karena mudah dan berharga mahal dibandingkan dengan burung sejenis di Benua Eropa.

Peternak sukses pun tidak hanya berasal dari kota-kota besar di Pulau Jawa. Di Makassar, Sulawesi Selatan, Anjas Asmara mendulang laba Rp17 juta per bulan dari hasil penjualan 2—3 lovebird biola. Kapasitas produksi masih relatif sedikit karena Anjas baru beternak lovebird sejak 2015. Setiap bulan mendapatkan omzet Rp8,45 juta—Rp9,75 juta dari penjualan 13—15 lovebird seharga Rp650.000. Adapun Dion di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, memperoleh omzet Rp8,45 juta—Rp9,75 juta dari penjualan 13—15 lovebird seharga Rp650.000 setiap bulan.

Sementara Dian Merry dan Amir Hamzah Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung, mengantongi omzet sekitar 40 juta per bulan dari perdagangan lovebird varian parblue, euwing, dan blue series. Bahkan Ko Dros yang berdarah Belanda pun kesengsem lovebird. Ia beternak satwa kerabat burung nuri itu sejak 2010  ketika pindah ke Indonesia. Ayah 2 anak itu kepincut mengembangkan burung sepanjang 13—17 cm itu karena harganya lebih mahal daripada burung sejenis di Eropa.

Pada 2010 harga lovebird hijau standar di tanahair Rp800.000—Rp900.000 per ekor. Sementara harga lovebird di Eropa hanya Rp300.000 per ekor. “Jadi saya putuskan beternak lovebird karena mudah dan berharga mahal,” kata pria asal Kota Woerden, Provinsi Utrecht, Belanda, itu. Ben KLI—sapaan akrab Benny Rustam—mengatakan tren lovebird masih bagus pada 2018—2021. Alasannya banyak mutasi yang belum atau atau jarang ada di Indonesia seperti bronze fallow dan dun fallow.

580-H013-1

Frekuensi kontes yang lebih banyak salah satu indikator tren lovebird menguat.

“Saya hampir setiap pekan keliling daerah-daerah dan merasakan sendiri euforia pehobi lovebird terutama untuk kontes kecantikan yang makin hari semakin banyak penggemarnya,” kata pehobi lovebird sejak 1989 itu. Frekuensi kontes kecantikan lovebird regional pun makin sering menjadi 2 kali sebulan dari semula 1 kali sebulan. Peserta kontes pun makin membeludak, rata-rata 600 ekor per kontes. Bandingkan dengan peserta kontes pada 2014, hanya 50—60 ekor.

Bahkan pemerintah daerah di Pulau Madura, Jawa Timur, menggelontorkan bantuan Rp1,5 miliar untuk para peternak lovebird. Di Pulau Garam itu juga ada bank yang memberikan kredit dengan jaminan lovebird. Tanda lain tren lovebird bagus adalah penambahan anggota KLI 10—15% per tahun setara 15.000—20.000 orang dari berbagai daerah di tanahair. Para anggota KLI tediri atas peternak atau penangkar, pedagang, pehobi, dan pelomba.

Kecuali Papua, kini KLI memiliki sekitar 50 koordinator wilayah (korwil) di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Beberapa alasan lovebird disenangi pehobi antara lain karena ada kejenuhan dari burung jenis tertentu. Selain itu harganya relatif terjangkau. Yang paling murah lovebird hijau standar berharga mulai dari Rp1,5 juta. “Faktor lain yang bikin orang menyukai lovebird adalah lantaran varian warnanya beragam,” kata pria kelahiran Kota Perdagangan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, itu.

580-H013-2

Peternak lazim menjual anakan lovebird berumur 2—3 bulan atau yang sudah bisa makan sendiri.

Ceruk pasar besar

Kini beberapa lovebird baru seperti bronze fallow dan variasi pale fallow seperti pale fallow biola banyak diincar. Permintaan lovebird yang tinggi pun indikator tren burung itu masih bagus. Waluyo menghasilkan 6—8 lovebird per bulan. Padahal, jika ia menjual 20 burung pun pasti ludes terjual. Permintaan lovebird di tempat Toni dua kali lipat dari kapasitas produksinya yang mencapai sekitar 10 ekor saban bulan.

Sugianto Limanto di Surabaya setali tiga uang. Ia memperoleh banyak permintaan. Namun, Sugianto hanya membatasi untuk “melahirkan” hanya 70 ekor per bulan. “Artinya ceruk pasar lovebird dalam negeri sangat besar,” kata Benny. Semua peternak seperti Waluyo, Waskito, Toni, dan Sugianto meyakini peluang bisnis beternak lovebird masih bagus hingga 2021—2023. Lalu varian lovebird apa yang tren hingga 3—5 tahun mendatang?

Menurut Benny dan para peternak lain varian lovebird yang tren antara lain biola, fallow, dan wild type. Waskito mengatakan varian lovebird yang bakal tren yaitu pale fallow, parblue, dan biola. Dari ketiga varian itu bisa dihasilkan biola parblue. Dari penangkaran itu juga lahirlah jenis-jenis baru untuk memasok pasar burung cinta. Para peternak pun merasakan nikmatnya membudidayakan burung yang masa hidupnya mencapai 10—15 tahun itu. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan, Muhamad Fajar Ramadhan, dan Tiffani Dias Anggraeni)

580-H012-2

580-H013-3580-H013-4580-H013-5

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments