DD green dun fallow milik Waskito Nagabhirawa masih tergolong lovebird eksklusif karena berharga mahal

Kehadiran lovebird baru di dalam dan luar negeri melanggengkan tren burung cinta.

Foto lovebird bertubuh ideal itu membetot perhatian Waskito Nagabhirawa. “Itu kali pertama saya melihat varian lovebird seperti itu. Saya tertarik dengan burung itu karena berbulu sesuai aslinya dan bermata merah seindah permata rubi,” kata pehobi lovebird di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, itu. Lazimnya burung lovebird sejenis tidak bermata merah. Sang kawan yang menunjukkan foto ke Waskito pun tidak mengetahui varian lovebird itu.

Namun, Waskito menyadari betul burung itu jauh lebih istimewa dibandingkan dengan lovebird lainnya. Oleh karena itu, ia pun berhasrat memiliki burung berkepala merah cerah serta tubuhnya berbulu kombinasi hijau muda dan agak tua itu. Sayangnya, pehobi lovebird sejak 2012 itu tidak bisa langsung memiliki burung idaman itu. Lovebird incaran itu baru bertengger di sangkar milik Waskito pada September 2017 dan ia sangat senang.

Mahal

Waskito mesti menunggu sekitar 1 tahun untuk mendapatkan lovebird impian itu. Ia pun rela merogoh kocek dalam hingga lebih dari Rp100 juta untuk mendapatkan seekor burung berumur sekitar 8 bulan itu. Sejatinya Waskito memang menargetkan untuk memiliki burung itu sebagai indukan. Ibarat peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba, Waskito pun mengatakan ketertarikannya dengan burung itu ketika kawan menunjukkan foto burung itu.

“Varian lovebird itu adalah double dark (DD) green dun fallow,” kata pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta itu. Dun fallow jenis lovebird mutasi teratas dan berharga fantastis sehingga hanya beberapa peternak di Indonesia seperti Waskito yang memilikinya. Ketua Kehormatan Belgische Vereniging Agaporniden (BVA) International, Dirk Van den Abeele, menyatakan terdapat pengurangan sedikit eumelanin pada bulu dun fallow sehingga warnanya lebih lembut.

Kandang koloni tempat lovebird impor bersosialisasi setelah di dalam sangkar sepekan

Eumelanin merupakan pigmen pembentuk warna gelap. Sementara reduksi eumelanin pada mata relatif banyak sehingga kelirnya sangat merah cerah. DD green dun fallow segera meluncur ke kediaman Waskito sehari setelah tiba di tanah air. Ia menempatkan burung impor itu di sangkar sepekan, terpisah dari lovebird lainnya. Tujuannya agar burung beradaptasi dengan lingkungan baru. Setiap malam Waskito mengamati apakah dun fallow meyukai pakannya atau tidak, kotorannya seperti apa, dan gerak geriknya.

Itu penting untuk menentukan kesehatan dan betah tidaknya burung di tempat baru. Waskito memberikan pakan milet sesuai kebutuhan burung. Ia menambahkan milet jika wadah pakan hampir kosong. Penangkar itu juga mengganti air minum setiap hari. Setelah tinggal di sangkar, dun fallow menghuni kandang koloni berisi lovebird muda berumur sekitar 3 bulan. Dua bulan menempati kandang koloni, dun fallow pun berahi. Artinya burung itu siap kawin.

Waskito pun menjodohkan dun fallow betina itu dengan pejantan biola vio. Harapannya agar mendapatkan lovebird varian biola bermata merah. “Varian itu hanya bisa didapat jika indukannya dun fallow. Sebetulnya bisa dilakukan dengan pale fallow, tapi sosoknya tidak terlalu mirip biola,” kata ayah 2 anak itu. Sayangnya mimpi Waskito mendapatkan biola dun fallow kandas karena telur kosong dan indukan jantan mati. Penyebabnya belum diketahui karena ia baru beternak varian itu.

Kebetulan

Waskito Nagabhirawa rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah demi mendapatakan varian lovebird anyar

Waskito menuturkan seandainya telur itu menetas pun, masih perlu waktu hingga 10 tahun untuk mencetak dun fallow ternakan sendiri. Mengembangkan dun fallow relatif sulit karena masih tergolong baru dan belum banyak peternak yang berhasil. Jika ingin cepat mendapatkan dun fallow peternak meski memiliki 2—3 burung sejenis. Tentu saja sulit mendapatkan dun fallow karena harganya mahal.

Karena tantangan itulah Waskito memprediksi tren lovebird bertahan hingga 2028. Musababnya perlu waktu lama untuk mendapatkan varian baru dun fallow. Varian pale fallow yang lebih dahulu keluar pada 2014 pun masih banyak yang cari hingga kini. Selain DD green dun fallow, lovebird baru milik Waskito adalah biola biru bronze fallow. Varian anyar itu hasil ternakan Waskito. Sebetulnya ia tidak menyangka bisa mendapatkan varian lovebird itu.

Sayang, Waskito enggan memberitahukan kedua indukan biola biru bronze fallow. Yang pasti induk betina lovebird impor. Semula ia menganggap varian itu pale fallow biasa karena masih kecil. Setelah burung berumur sebulan, warna kaijaset—sebutan lovebird di Finlandia—lebih nyata, mestinya agak pudar seperti anakan pale fallow lainnya. Dari bulu ekor burung itu jelas berciri biola biru, tapi matanya merah.

Lovebird anyar seperti varian biola dan bermata merah yang disebut biola biru bronze fallow

Ciri bronze fallow terletak pada batas tegas antara warna putih dan biru di dada. Waskito menaksir harga lovebird anyar itu lebih dari Rp200 juta. Varian lovebird lain yang masih relatif jarang di Indonesia adalah pale milik Slamet Waluyo di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Menurut penangkar lovebird di Cianjur, Jawa Barat, Jacobus Dros, fischeri pale termasuk mutasi yang berkaitan dengan jenis kelamin (sex linked) seperti varian biola.

Ciri utama pale adalah warna bulu yang lebih pucat. “Biola pale kepunyaan kawan saya di Bangkok,Thailand, lebih bagus. Harganya kemungkinan Rp40 juta—Rp50 juta,” kata Ko Dros, sapaan akrab Jacobus Dros. Lovebird-lovebird baru itu bagi para penangkar merupakan aset untuk melahirkan varian baru.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d