Ungko bersifat serial monogami alias hanya berpasangan dengan satu individu sepanjang hidupnya

Ungko bersifat serial monogami alias hanya berpasangan dengan satu individu sepanjang hidupnya

Sosok berbulu cokelat gelap itu muncul dari balik kanopi pohon. Ia berkelebat sangat cepat di sela rerimbunan daun pohon yang berdiri rapat di hutan Harapan, Jambi pada sebuah pagi yang cerah. Sosok itu lenyap di balik kanopi. Itulah ungko Hylobates agilis unko yang gerakannya lincah nyaris tanpa suara sehingga tidak memancing perhatian. Pada kesempatan lain, kawanan ungko—terdiri atas 4 ekor—juga bergerak cepat dengan kedua “tangan” dari satu cabang ke cabang lain.

Hutan Harapan seluas 98.000 ha memang menjadi rumah yang nyaman bagi satwa primata itu. Pagi itu tim PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) yang mengelola hutan Harapan mengecek sarang rangkong buatan dan memeriksa kamera jebakan. Hujan yang mengguyur semalam membuat jalanan di tengah hutan itu becek dan licin. Untungnya Kristanto, koordinator transportasi PT Reki, lihai memuntir kemudi dan jeli memilih jalan.

Habitat ungko berada di hutan dengan vegetasi yang baik

Habitat ungko berada di hutan dengan vegetasi yang baik

“Dua mobil operasional rusak di bagian transmisi akibat jalanan licin seperti ini,” ujar Kristanto. Saat memeriksa kamera jebakan itulah seekor ungko terpergok menyambangi. Primata itu bergerak lincah. Menurut kepala Divisi Konservasi Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor (PSSP IPB), Dr Ir Entang Iskandar MS, ungko bergerak secara brakiasi—artinya bergelantungan dari satu cabang pohon ke cabang pohon lainnya.

Kemampuan brakiasi yang hebat itu juga milik semua anggota genus Hylobates—termasuk owa jawa Hylobates moloch. Nama ilmiah itu pinjaman dari Bahasa Yunani, hule berarti hutan, bates yang menapak. Hylobates berarti penjelajah di hutan. Susunan tubuh mereka memang mendukung kegesitannya. Lengan ungko sangat panjang, mencapai 1,5 kali tinggi tubuh. Bandingkan dengan manusia yang panjang lengannya hanya setengah tinggi tubuh.

 Owa jawa yang termasuk gibon mampu berjalan secara bipedal atau menggunakan dua kaki

Owa jawa yang termasuk gibon mampu berjalan secara bipedal atau menggunakan dua kaki

Richard van Horn mendapati jempol ungko alias gibon berbobot 5 kg hampir sepanjang manusia berbobot 75 kg. Berbeda dengan jempol manusia yang terikat oleh jalinan otot telapak tangan, jempol ungko bebas bergerak hingga pergelangan. Itulah sebabnya cengkeramannya jauh lebih kuat. Ia mengamati 2 individu Hylobates dan 1 individu siamang Symphalangus syndactylus di tiga lokasi, yakni Taman Zoologi San Francisco, kebun binatang Knowland, Oakland, dan stasiun pengamatan perilaku Universitas Kalifornia.

Periset di Pusat Penelitian Primata Regional Oregon, Amerika Serikat, itu membandingkan ukuran jemari keluarga gibon—termasuk ungko—anggota genus Hylobates dengan 2 genus kera yang nyaris seukuran, yaitu genus Ateles dari benua Amerika dan genus Colobus dari benua Afrika. Pergerakan jempol ungko yang sangat lebar itu didukung persendian dengan ligamen dan kapsul sendi yang mampu meregang dan memuntir.

Jempol itu meningkatkan cengkeraman terhadap cabang pohon untuk bergelantungan maupun batang pohon yang ia panjat sehingga mampu berpindah cepat dengan presisi tinggi. “Jarak antarcabang yang dicapai dengan sekali ayunan mencapai 30 m,” kata Entang. Saat berloncatan dari cabang ke cabang, kecepatan gibon bisa mencapai 35 km per jam. Itu lebih cepat daripada orang berlari.

Jambu eropa Bellucia axinanthera bersifat invasif dan berpotensi mengalahkan pertumbuhan pohon buah pakan ungko

Jambu eropa Bellucia axinanthera bersifat invasif dan berpotensi mengalahkan pertumbuhan pohon buah pakan ungko

Wajar kalau ungko bisa dengan cepat menghilang dari pandangan, apalagi di hutan primer dengan kanopi lebat. Pergerakan yang sangat lincah dan warna bulu gelap itu menjadikan ungko memperoleh nama agile gibbon alias gibon lincah. Menurut van Horn, jempol itu bahkan membuat ungko mampu mencengkeram cabang atau batang berukuran besar dengan sangat baik. Bentuk dan ukuran jempol itu juga memberikan keuntungan ketika ungko mencari makan.

Baca juga:  Mawar Gurun Tumpuk Baru

Menurut Made Wedana dari Pusat Rehabilitasi Primata Jawa, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ungko tergolong satwa frugivor. Artinya, sebagian besar—lebih dari 70%—menu makanannya buah. “Buah memberikan banyak asupan energi untuk mendukung pergerakan brakiasi, yang memerlukan lebih banyak tenaga ketimbang berjalan di atas tanah,” kata Made.

Jenis terbanyak kedua adalah bunga dan tunas daun serta sebagian kecil—sekitar 5%—serangga. Buah, bunga, dan tunas daun tumbuh di ujung ranting yang sulit dijangkau. Laporan van Horn yang termuat dalam jurnal “American Anthropologist” menyebutkan bahwa ia kerap menjumpai gibon berayun dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lain meraih buah, bunga, atau tunas daun di ujung cabang.

Jari-jari ungko ketika merapat (kiri) dan mencengkeram (kanan). Ligamen sangat fleksibel.

Jari-jari ungko ketika merapat (kiri) dan mencengkeram (kanan). Ligamen sangat fleksibel.

Buah salam (kanan) dan cempedak hutan (kiri bawah) termasuk buah favorit ungko

Buah salam merupakan salah satu buah favorit ungko

Pola konsumsi buah menjadikan ungko berperan penting dalam ekosistem sebagai penyebar biji. Fungsi lain, pemberi peringatan dini ketika akan terjadi bencana atau ada kucing besar mendekat. Namun, salah satu peran penting ungko sebagai indikator lingkungan. Menurut Entang, lazimnya kelompok ungko menghabiskan sebagian besar waktu di kanopi pohon bagian atas.

“Mereka hanya turun ketika mencari makan atau ada bahaya, misalnya burung pemangsa yang mengincar gibon muda,” kata ayah 2 anak itu. Namun, ketika manusia memasuki hutan untuk melakukan penebangan atau perburuan, owa sumatera biasanya memilih berada di kanopi bagian tengah. “Mereka merasa di sana aman dari bahaya yang datang dari atas maupun bawah,” kata Entang.

Sejatinya kalau manusia hanya mondar-mandir tanpa mengancam, ungko bisa menoleransi. Saat Divisi Penelitian Lingkungan (ERD, environmental research division) PT Reki melakukan pengamatan, anggota tim bisa mengikuti 3 kelompok ungko dari jarak 20—30 m selama 6 bulan lebih. Pergerakan brakiasi menjadikan satwa anggota famili Hylobatidae itu tergolong makhluk arboreal—menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan.

Tim ERD PT Reki melakukan pengamatan populasi ungko

Tim ERD PT Reki melakukan pengamatan populasi ungko

Namun, setiap ungko harus membayar mahal untuk menguasainya. Adolph Hans Schultz, antropologis Swiss, melaporkan pada 1956 bahwa sepertiga dari 260 gibon liar dewasa yang ia amati mempunyai bekas patah tulang yang pulih dengan sendirinya. “Risiko hidup secara arboreal adalah jatuh ke tanah, baik ketika berayun mencari makan, mengejar pasangan, kabur dari lawan, atau berkelahi dengan pesaing,” kata Entang Iskandar.

Tingginya risiko kehidupan arboreal menjadikan masa pengasuhan anak ungko tergolong lama. Sejak lahir sampai berumur 8 tahun, ungko hidup bersama kedua induknya. “Selama itu banyak hal yang harus ia pelajari, mulai dari mengenali jenis makanan, mempertahankan wilayah, dan menghindari bahaya,” kata pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, itu.

Elang menjadi ancaman bagi ungko

Elang menjadi ancaman bagi ungko

Saat mencapai kematangan seksual, ungko memisahkan diri dari induknya untuk mencari pasangan dan teritori baru. Satwa itu tergolong serial monogami alias hanya berpasangan dengan satu individu selama hidupnya. Namun, ketika salah satu dari pasangan itu lengah atau mati, ungko bisa berpasangan dengan individu lain yang berbeda jenis kelamin.

Baca juga:  Tupai Gula Diare

Ungko hidup dalam kelompok kecil yang berisi anggota keluarga. Setiap kelompok biasanya terdiri dari induk dan 2—3 anak yang berbeda umur. Maklum, dalam setiap kehamilan, primata hanya melahirkan 1 anak. Ungko jantan membantu betina mengasuh anak. Saat ada kelompok lain mendekat, semua anggota kelompok termasuk betina dan anak yang cukup besar ikut berteriak mengusir. “Teriakan mereka bagaikan nyanyian yang memecah kesunyian hutan,” kata Anderi Satya, asisten komunikasi PT Reki.

Dr Ir Entang Iskandar ahli primata dari Institut Pertanian Bogor

Dr Ir Entang Iskandar ahli primata dari Institut Pertanian Bogor

Perpindahan antarcabang pohon hanya bisa dilakukan dalam hutan dengan vegetasi baik. Itu sebabnya populasi ungko dalam hutan sekunder tinggi dan menengah lebih banyak ketimbang di hutan sekunder rendah. Hasil pengamatan divisi ERD PT Reki selama periode Juli 2009—Juli 2010 menunjukkan, rata-rata populasi ungko di hutan sekunder tinggi mencapai 16—19 individu. Sementara populasi rata-rata di hutan sekunder sedang dan rendah berturut-turut 5—7 dan 10—13 individu.

Pengamatan selama setahun itu melibatkan 19 anggota staf PT Reki, 5 mahasiswa Institut Pertanian Bogor, dan 6 mahasiswa Universitas Jambi. Sejatinya PT Reki hanya merencanakan pengamatan selama 8 bulan terdiri dari pengamatan pendahuluan selama 2 bulan dan pengamatan lanjutan 6 bulan. Cuaca buruk selama November—Desember 2009 membuat pengamatan tidak optimal. Mereka lantas memutuskan memperpanjang periode pengamatan lanjutan menjadi 9 bulan.

Mereka melakukan pengamatan di 30 pos penyimakan (listening posts) yang tersebar di 10 lokasi survei. Jarak antarpos dalam 1 lokasi survei terpisah 300—500 m dan terletak di ketinggian berbeda kalau memungkinkan. Beberapa literatur menyatakan teriakan ungko terdengar hingga radius 1,2 km. Dengan jarak yang terbilang dekat itu, teriakan setiap individu ungko terdengar oleh penyurvei di 2—3 pos sehingga tidak terjadi kesalahan hitung.

Ungko berperan penting sebagai indikator mutu lingkungan

Ungko berperan penting sebagai indikator mutu lingkungan

Untuk memudahkan pemantauan, setiap pos dilengkapi alat komunikasi portabel. Personil dari 3 pos berdekatan dirotasi setiap hari untuk mempertahankan kemampuan pengamat membedakan teriakan setiap grup yang disimak. Setelah hasil pengamatan direkapitulasi, jumlah total individu ungko di area konservasi Hutan Harapan seluas 98.000 ha itu terbilang cukup banyak.

Anderi Satya mengatakan, “Artinya kondisi area konservasi masih mampu menyokong kehidupan ungko.” Laman Gibbon Conservation Center di Kalifornia, Amerika Serikat, menyebutkan gibon, termasuk ungko, sebagai satu-satunya primata yang mampu bergerak secara bipedal atau menggunakan 2 kaki. Namun, dari hasil pengamatannya, Entang mengatakan bahwa gibon hanya mampu bergerak bipedal sejauh beberapa langkah.

Buah cempedak hutan termasuk buah favorit ungko

Buah cempedak hutan termasuk buah favorit ungko

“Mereka sangat kikuk ketika berada di tanah,” tutur ahli primata berusia 47 tahun itu. Jika habitat ungko tersekat oleh perkampungan, perkebunan, atau lahan terbuka, mereka tidak bisa menyeberang. Itu sebabnya, “Ancaman terbesar datang dari manusia,” kata Made Wedana. Jika habitatnya tersekat oleh aktivitas manusia, daerah jelajah ungko menyempit.

Akibatnya peluang memperoleh pasangan dari kelompok lain pun mengecil sementara peluang perkawinan sedarah meningkat. Itu belum termasuk ancaman akibat perburuan untuk dijadikan satwa peliharaan maupun untuk konsumsi. Maklum, etnis di negara tertentu mempercayai khasiat beberapa bagian tubuh primata sebagai peningkat vitalitas. Pembakaran hutan yang terjadi setiap tahun juga menjadi ancaman bagi ungko.

Meski berjasa terhadap lingkungan, satwa primata yang hanya berbobot 4—6 kg itu terancam bahaya. Tanpa tindakan nyata, nasib ungko ibarat menghitung hari. Beberapa dekade mendatang, ungko hanya ada dalam buku pelajaran, foto, film, atau awetan di museum. Apakah kelak kita tak lagi dapat menyaksikan atraksi maut ungko di rindang hutan? (Argohartono Arie Raharjo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d