Lompatan Pertanian Nipon

Lompatan Pertanian Nipon 1
Teknologi “pabrik” tanaman, pertama kali dikembangkan di Jepang

Teknologi “pabrik” tanaman, pertama kali dikembangkan di Jepang

Pemandangan di balik jendela berukuran kira-kira 3 m x 6 m itu sungguh menakjubkan. Di balik kaca jendela di lantai 2 bangunan itu terlihat deretan rak besi selebar 120 cm bersusun 12 tingkat yang dipenuhi sayuran hijau nan segar. Setiap rak berisi tanaman berumur sama. Saat itu terlihat rak dengan tanaman bibit berdaun 3 helai di deretan paling kanan, rak dengan tanaman remaja di bagian tengah, dan rak dengan tanaman siap panen—berumur 35 hari—di deretan paling kiri. Di jendela lain yang berseberangan terlihat rak memanjang bersusun 12 tingkat juga berisi sayuran daun hijau.

Seluruh tanaman terlihat sehat dan vigor. Pekerja memanen sayuran—jenis selada—dengan mengangkat alas tanam dari semacam plastik berisi 6 tanaman. Untuk memanen sayuran di susunan teratas rak, ia mengatur forklift bergerak naik. Di bawah ada pekerja lain menerima alas tanam itu, mengeluarkan selada dari dalamnya beserta akar yang putih bersih, menyortir jika ada daun cacat—walaupun hampir tidak ada, lalu mengirim ke bagian pascapanen. Mereka menggunakan baju tertutup, masker, topi, sarung tangan, dan sepatu khusus seperti di dalam area laboratorium.

Sistem budidaya di dalam ruangan secara steril dan tertutup

Sistem budidaya di dalam ruangan secara steril dan tertutup

Harap mafhum budidaya sayuran daun itu memang dilakukan di dalam ruang tertutup mirip laboratorium! Lingkungan di dalam area itu sangat bersih dan steril. Tak terlihat ceceran tanah atau media tanam lain. Sebab pengelola mengadopsi sistem hidroponik nutrient film technique (NFT). Dengan teknik itu tanaman mendapatkan nutrisi dari air yang mengalir terus-menerus.

Bangunan di Chiba Prefektur, Jepang, itu kokoh setinggi sekitar 8 m dan tertutup rapat sehingga tak ada sinar matahari—yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis tanaman—menembus ke dalam dindingnya. Lalu dari mana tanaman mendapatkan energi untuk tumbuh dan berkembang? Pekebun menyalakan lampu flourescent dan lampu light emitting diode (LED) yang diletakkan di atas setiap susunan rak sebagai pengganti sinar matahari. Dengan cara itu pekebun malah bisa memproduksi sayuran tanpa tergantung kondisi iklim. Mendung atau saat musim salju yang sulit mendapatkan sinar matahari sekalipun tanaman tetap dapat berfotosintesis. Singkat kata produksi sayuran bisa berlangsung sepanjang tahun. Pencipta teknologi itu, Profesor emiritus Toyoki Kozai, menyebutnya plant factory with artificial light (PFAL)—pabrik tanaman dengan cahaya artifiasial.

Plant factory mini untuk hobi

Plant factory mini untuk hobi

“Teknologi ini cocok untuk pertanian perkotaan dan sesuai dengan gaya gidup generasi berikut,” tutur profesor emiritus dari Chiba University itu. Harap mafhum lahan perkotaan semakin sempit dan mahal untuk budidaya pertanian. Teknik PFAL memungkinkan penggunaan lahan lebih sempit tapi efisien karena sistem penanaman ke atas. Bahkan pekebun dapat mengatur kondisi lingkungan agar menghasilkan sayuran sesuai kebutuhan pasar. Misal untuk meningkatkan kadar kemanisan sayuran pada 2—3 hari sebelum panen pekebun menurunkan suhu ruangan.

Prof Kozai menghitung produktivitas lahan PFAL per tahun bisa 100 kali lipat dibanding penanaman di lahan terbuka dengan teknik konvensional. Produktivitas lahan PFAL mencapai 2.800 selada per m2. Hasil panennya pun 100% dapat terjual. Sebab nyaris tidak ada daun rusak akibat serangan hama dan penyakit. Hama tidak mungkin masuk ke dalam ruang tanam yang tertutup rapat. Sistem budidaya dan area tanam sangat steril sehingga tidak ada serangan penyakit. Kelebihan lain, sayuran lebih tahan simpan 2—3 kali lebih lama dibanding hasil budidaya konvensional. “Sebab tidak ada bakteri penyebab busuk yang merusak daun,” kata presiden Chiba University periode 2005—2008 itu.

Selada produksi Mirai, lebih lama segar 2—3 kali lipat dibanding hasil penanaman konvensional

Selada produksi Mirai, lebih lama segar 2—3 kali lipat dibanding hasil penanaman konvensional

Ahli hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, pernah membaca artikel tentang sistem budidaya tertutup itu di sebuah majalah pertanian terbitan Australia. Namun, Yos tidak memperhatikan di mana lokasi pabrik tanaman itu. Prof Kozai menuturkan Jepang yang pertama kali mengembangkan teknologi “pabrik” tanaman itu. Bagi Yos itu salah satu bentuk teknologi hidroponik paling mutakhir. “Yang harus menjadi perhatian ialah biaya produksinya yang tinggi, misal untuk listrik,” kata Yos. Menurut Prof Kozai biaya investasi memang tinggi—bangunan yang Trubus kunjungi senilai 1-miliar yen setara Rp100-miliar. Biaya listrik menyedot sekitar 20—25% biaya produksi. Namun, produktivitas lahan juga tinggi, budidaya berlangsung terus-menerus, dan harga jual produk tinggi. Doktor Teknik Pertanian dari University of Tokyo itu menyebutkan biaya produksi per kg selada mencapai 60 sen dolar. Sementara harga jualnya mencapai US$2.

Baca juga:  Pakan Terlarang Kucing

Hingga Maret 2014 tercatat 168 pabrik tanaman dengan cahaya artifisial berkembang di Jepang dengan berbagai ukuran. PFAL terbesar didirikan di Kyoto pada 2006 dengan total produksi 23.000 selada per hari. PFAL yang Trubus kunjungi dikelola oleh perusahaan Mirai Co Inc bekerja sama dengan Mitsui Real Estate Inc merupakan nomor 2 terbesar di Jepang.. “Pabrik” seluas 1.400 m2 mulai beroperasi pada Juni 2014 itu menghasilkan 10.000 selada per hari. Sebelumnya Mirai bekerja sama dengan Chiba University membangun “pabrik” seluas 338 m2. Total produksi 3.000 selada per hari atau 1-juta selada per tahun. Chiba University merupakan perguruan tinggi di Jepang yang kuat di bidang pertanian. Selain teknologi PFAL, Trubus juga menyaksikan greenhouse tomat hidroponik dan pembibitan tanaman dengan sistem tertutup mirip konsep PFAL.

Prof Toyoki Kozai, penemu teknologi PFAL (plant factory with artificial light)

Prof Toyoki Kozai, penemu teknologi PFAL (plant factory with artificial light)

Mirai juga bekerja sama dengan Chiba University, E-W Shirakawa Agricultural Co-operative dan Japan Plant Factory Association mendirikan PFAL di kawasan yang terduga mengalami radiasi nuklir di Prefektur Fukushima. Teknik PFAL memang cocok untuk daerah berpolusi yang tidak memungkinkan penanaman sayuran secara konvensional.
Lalu tanaman apa saja yang cocok dibudidayakan dengan teknik PFAL? Sosok pendek maksimal 30 cm, genjah (panen umur 10—30 hari setelah pindah tanam dari pembibitan), tumbuh baik dengan intensitas cahaya rendah dan penanaman jarak rapat, serta memiliki nilai ekonomi tinggi. Contohnya aneka selada, bayam, dan basil—semua sayuran daun. Selain itu radish, wortel, dan wasabi.

Dengan teknologi plastik membran produksi tanaman bisa dilakukan di lahan marginal, terpolusi, minim air

Dengan teknologi plastik membran produksi tanaman bisa dilakukan di lahan marginal, terpolusi, minim air

Kini teknologi PFAL diadopsi di berbagai negara. Di antaranya Singapura (mulai Juli 2014) dan Mongolia (juga pada 2014). “Di Mongolia penerapannya luar biasa. Kami tidak membutuhkan pemanasan walaupun suhu di luar bisa mencapai minus 40°C. Sebab cahaya buatan yang dipakai sudah mencukupi kebutuhan pemanasan di dalam ruangan,” tutur Prof Kozai. Di tanahair teknologi hidroponik dalam ruangan dengan cahaya buatan diadopsi oleh Universitas Tarumanagara, Jakarta (baca Trubus edisi Juni 2014, Hidroponik dalam Ruang).

Pemandangan spektakuler “pabrik” tanaman di Prefektur Chiba itu hanya salah satu contoh kemajuan dunia pertanian Jepang. Nun di Isehara, Prefektur Kanagawa—berjarak tempuh sekitar 2,5 jam dari Chiba, Trubus menyaksikan tomat yang diproduksi tanpa tanah di atas plastik. Disebut demikian karena seluruh bidang lahan ditutup plastik rapat. Bedeng-bedeng penanaman tomat juga tertutup plastik rapat. Si empunya kebun, Atsushi Tsuji, mula-mula menghamparkan plastik tak tembus rumput menutup semua bidang tanah di dalam greenhouse. Lalu menyusun pipa-pipa pengairan di beberapa lajur yang nantinya menjadi bedeng tanam.

Pembibitan beragam sayuran dengan sistem tertutup

Pembibitan beragam sayuran dengan sistem tertutup

Selanjutnya pekebun tomat yang sarjana elektronik itu menghamparkan plastik kedap air, tube-tube irigasi tetes, dan sejenis kain. Kemudian di atasnya ia menghamparkan plastik kedua yang disebut hydromembrane dan peatmoss setebal 1—2 cm. Langkah berikutnya ia menyusun papan stirofoam yang sudah dilubangi dan menutupnya dengan plastik mulsa. Di atasnya Tsuji menanam bibit tomat.

Baca juga:  Luwak Lahirkan Anak

Selama budidaya tomat selama setahun pekebun secara periodik mengalirkan air ke jaringan irigasi di di antara plastik. Plastik pertama mencegah air irigasi yang mengandung pupuk merembes keluar. “Oleh karena itu tidak ada air dan pupuk yang terbuang,” kata pria 23 tahun itu. Sementara hydromembrane yang berbahan hydrogel dan tersusun atas pori-pori kecil menyerap air dan nutrisi. Dari situlah akar tanaman menyerap “makanan”.

Sang inovator teknologi membran, Yuichi Mori, menyebutkan teknologinya dengan nama IMEC (environmentaly friendly film farming). IMEC menghemat penggunaan air dan nutrisi hingga tinggal 10% dibanding penanaman secara konvensional. Pengaturan penyerapan nutrisi melalui hydromembrane membuat citarasa tomat menjadi lebih manis. Penanaman bebas penyakit terutama yang disebarkan melalui air nutrisi karena pori-pori membran tidak dapat ditembus oleh bibit penyakit. IMEC juga membuat pekebun bisa membudidayakan tanaman di lahan marginal, terkontaminasi, bahkan minim air.

Beragam olahan buah apel. Searah jarum jam: selai, kukis, aneka keripik, manisan, teh, eggs roll, cuka apel, mesin pengolah cuka apel, dan jus

Beragam olahan buah apel. Searah jarum jam: selai, kukis, aneka keripik, manisan, teh, eggs roll, cuka apel, mesin pengolah cuka apel, dan jus

Penanaman apel di Aomori Prefektur, salah satu sentra apel terbaik di Jepang

Penanaman apel di Aomori Prefektur, salah satu sentra apel terbaik di Jepang

Kemajuan pertanian di Jepang itu salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas di bidang pertanian. Harap mafhum industri pertanian di negeri Matahari Terbit itu cenderung menurun. Kebutuhan pasar menurun karena rendahnya tingkat kelahiran yang mengakibatkan pendapatan petani menurun, sementara harga sarana prasarana pertanian terus meningkat. Untuk itu pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan sixth-order industry (tatanan industri keenam). “Kebijakan itu mendorong pemanfaatan penuh sumberdaya di area pedesaan, mempromosikan kegiatan pertanian, kehutanan, dan perikanan yang terintegrasi dengan pengolahan, dan pemasaran sekaligus memberi nilai tambah pada produk,” tutur M Kamikochi dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.

Paddy art, salah satu bentuk promosi untuk menggairahkan industri pertanian Jepang

Paddy art, salah satu bentuk promosi untuk menggairahkan industri pertanian Jepang

Para pelaku agribisnis didorong untuk melakukan inovasi di bidang produksi, pascapanen, dan pemasaran. “Jika pelaku pertanian bisa mengoptimalkan produktivitasnya, mengombinasikannya dengan pascapanen misal dengan melakukan pengolahan, dan memasarkan secara kreatif maka si pelaku bisa mendapatkan potensi pendapatan 6 kali lipat dibanding hanya berproduksi,” kata Joselito Cruz Bernardo, direktur Departemen Agrikultura, Asian Productivity Organization (APO) menegaskan inti dari kebijakan sixth-order industry.

Untuk memperkenalkan kemajuan pertanian Jepang itu maka APO mengundang 17 wartawan dari 13 negara di Asia untuk berpartisipasi dalam kegiatan misi studi ke berbagai sentra kemajuan pertanian. Dalam acara bertajuk Multicountry Observational Study Mission on Best Practices in Promoting Innovation and Productivity in Agriculture for Mass Media Practitioners pada 8—14 September 2014 itu APO berharap semakin banyak khalayak yang memahami kemajuan pertanian di Jepang dalam meningkatkan pendapatan di bidang pertanian.

Hasil panen tomat dari teknologi plastik membran bercitarasa lebih manis

Hasil panen tomat dari teknologi plastik membran bercitarasa lebih manis

Selama misi studi Trubus melihat pintarnya pelaku pertanian Nipon alias Jepang mengolah apel menjadi aneka produk yang memberikan nilai tambah. Hal serupa dilakukan untuk produk teh. “Dengan pengolahan yang menarik membuat bukan penggemar teh pun jadi tertarik untuk mencicipi,” tutur Riza T Olchondra, wartawan Philippine Daily Inquirer yang turut serta dalam rombongan.

Untuk memperpanjang umur simpan produk pertanian sebuah perusahaan mengeluarkan teknologi penyimpanan hingga suhu minus 20°C—disebut Hyo-on. Keunggulan teknologi itu citarasa produk pertanian tidak berubah bahkan lebih baik dengan daya simpan lebih lama.

Untuk meningkatkan kesadaran kaum muda bertani pemerintah daerah Desa Inakadate, Distrik Minamitsugaru, Prefektur Aomori, membuat “lukisan” dari 9 jenis padi yang ditanam di sawah. “Ini salah satu cara untuk mempromosikan pertanian,” kata Asari Takatoshi dari Divisi Perencanaan dan Promosi Kantor Desa Inakadate. Pada negeri Matahari Terbit kita bisa belajar mengelola pertanian. (Evy Syariefa)

 

>

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x