Lokasi kebun kopi Golden Malabar Indonesia di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Lokasi kebun kopi Golden Malabar Indonesia di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Agrowisata membuka peluang usaha di desa dan memberi nilai tambah kepada petani.

Rahim Mirzaei Molaahmad PhD memetik buah kopi berwarna merah tua menyala. Lalu memencet daging buah yang bertekstur lembut sehingga tampak biji kopi berwarna putih di dalamnya. Rahim lalu menggigit daging buah. “Manis,” tutur periset di Institute Technical and Vocational Higher Education, Agriculture Jihad, Teheran, Iran, itu. Meski penikmat kopi, Rahim belum pernah melihat kebun kopi, apalagi memetik dan mencicipi buah kopi segar langsung dari kebun.

Memetik dan mencecap buah kopi segar itu pengalaman pertama Rahim. Ia mengunjungi Kebun Kopi Golden Malabar Indonesia di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Di dekatnya, Korakoch Pobprasert dari Thailand, Tariq Tanveer (Pakistan), dan Aing Sovannroath (Kamboja) melakukan aktivitas serupa di kebun dengan luas produktif 119 hektare itu.

Kopi arabica tumbuh baik di ketinggian 1.500 m di atas permukaan laut.

Kopi arabica tumbuh baik di ketinggian 1.500 m di atas permukaan laut.

Pendapatan baru petani
Rahim dan rekan masuk ke sela-sela tanaman kopi, mengamati buah kopi bergradasi warna hijau sampai merah tua karena berbeda tingkat kematangan, memilah buah yang tua di batang, lalu mencoba memetik buah layaknya petani kopi. Di bawah salah satu tajuk pohon anggota famili Rubiaceae itu, rombongan menemukan biji kopi yang posisinya berdempet lengket. Dari sosoknya itu diduga itu biji dari buah kopi yang dimakan luwak.

Saat ini kopi luwak—merupakan hasil fermentasi di perut luwak yang mengonsumsi buah tua—sangat populer di kalangan penggemar kopi. Kopi luwak merupakan salah satu produk yang dihasilkan kebun kopi Golden Malabar Indonesia disamping produk utama kopi arabica. Mereka lalu mendatangi lokasi pengolahan buah kopi menjadi biji kopi. Sayang saat kunjungan aktivitas mencuci, memisahkan biji dan daging buah, menjemur, menyangrai biji kopi tidak dapat disaksikan.

Memetik buah kopi matang salah satu aktivitas agrowisata di kebun kopi.

Memetik buah kopi matang salah satu aktivitas agrowisata di kebun kopi.

Kegiatan kunjungan ke kebun kopi Malabar merupakan salah satu rangkaian kegiatan lokakarya agrowisata yang diselenggarakan oleh Asian Productivity Organization (APO). Lembaga yang berkedudukan di Tokyo, Jepang, itu bekerja sama dengan Kementerian Pertanian serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menggelar lokakarya di Bandung, Jawa Barat, selama 5 hari pada 3—7 Agustus 2015.

Direktur Bidang Pertanian APO, Dr Joselito Bernardo, mengatakan pemilihan materi agritur karena agrowisata memiliki peran penting untuk kemajuan dunia pertanian. “Agrowisata berpotensi meningkatkan pendapatan petani dengan membuka peluang baru,” tutur Joselito. Petani yang semula hanya mengandalkan pendapatan dari hasil budidaya, berpeluang memperoleh tambahan pendapatan dari kunjungan wisatawan.

Baca juga:  Kesan Betawi di Hari Suci

Estiarti Haryani, Direktur Produktivitas dan Kewirausahaan, Ditjen Binalatitas, Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja dan Sekretaris Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian, Yazid Taufik, menyampaikan hal senada. Harap mafhum berbagai isu kini menerpa dunia pertanian. Joselito menyebut tujuh isu utama pertanian, yakni isu perubahan iklim, usia petani semakin menua, urbanisasi dan berkurangnya lahan pertanian, keamanan pangan, kehilangan hasil pertanian dari lokasi produksi ke pasar, dan kehilangan hasil pertanian di tingkat konsumen, bagaimana membuat petani kecil menjadi bagian dari rantai ketersediaan pangan, serta rendahnya pendapatan, serta sedikitnya peluang kerja di daerah pedesaan.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, membuka lokakarya agrowisata.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, membuka lokakarya agrowisata.

Solusi ganda
Agrowisata berperan dalam mengatasi kondisi di poin kedua, kelima, dan ketujuh. Joselito menceritakan sebuah keluarga petani anggur di Chichibu, Saitama, Jepang. Si petani berusia 70 tahun dan satu-satunya anak dalam keluarga tidak berminat di bidang pertanian. Lalu si petani mengadakan program agrowisata petik buah sendiri. Pengunjung yang datang boleh memetik buah dengan membayar 3.000 yen setara Rp300.000 selama 30 menit.

Petani juga menyedia lokasi piknik di bawah tajuk anggur yang sangat menarik. Untuk berpiknik pengunjung dikenakan biaya tiket 1.500 yen setara Rp150.000. “Jadi konsumen diundang ke kebun dan panen sendiri. Petani tetap mendapatkan hasil dari produk anggur sekaligus dari agrowisata. Ini juga jadi salah satu cara petani mengatasi masalah sulitnya tenaga kerja saat panen,” tutur pria asal Filipina itu.

Lokakarya bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang peran penting agritur dalam pembangunan pertanian kepada praktisi, akademisi, dan pemerintah yang membidangi wisata, khususnya agrowisata. Kegiatan itu juga bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan best practice tentang model agritur yang sukses di berbagai negara serta mengajarkan dan memberi petunjuk dalam memformulasikan rencana pengembangan bisnis untuk perusahaan agritur masa depan.

Oleh karena itu lokakarya diikuti oleh 20 peserta dari 17 negara di Asia Pasiifik dengan berbagai latar belakang. Korakoch Pobprasert dan Aing Sovannroath masing-masing mewakili sektor pemerintah. Tariq Tanveer, praktikus pertanian dan agrowisata. Peserta dari Indonesia diwakili oleh Luki Budiarti, pekebun dan eksportir serta pelaku agrowisata di Batu, Jawa Timur, dan Trubus yang berkecimpung di bidang agrowisata sejak 1990. Sejumlah praktisi agrowisata dalam negeri juga turut hadir sebagai pemerhati.

Harro Boekhold, “Dalam agrowisata orang lokal yang harus paling diuntungkan.”

Harro Boekhold, “Dalam agrowisata orang lokal yang harus paling diuntungkan.”

Kuncinya: aktivitas!
Untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang peran agrowisata dan strategi pengembangan bisnis agrowisata di masa depan APO memfasilitasi dengan menghadirkan 2 narasumber kompeten di bidang agrowisata, yakni Harro Boekhold dari Belanda dan Prof David Preece dari Hawaii, Amerika Serikat. Menurut David Preece yang berkecimpung di dunia bisnis selama puluhan tahun dan kini mengajar di Universitas Hawaii, agrowisata mengubah jalur produk.

Baca juga:  Kontes Terbesar di Dunia

Pada model agribisnis biasa produk dari kebun atau peternakan (farm) dibawa menuju pasar. Sebaliknya model agrowisata membawa pasar ke kebun (farm). David mencontohkan produsen cokelat khas Hawaii cukup menjual produknya di gerai yang langsung berada di lokasi pengolahan kakao menjadi aneka produk cokelat. Harro yang sukses membidani kelahiran sejumlah destinasi agrowisata di berbagai negara menyampaikan 3 hal penting yang harus ada dalam sebuah agrowisata.

“Pertama harus ada kegiatan pertanian yang menarik pengunjung untuk datang ke lokasi produksi. Kedua adanya keinginan dari pengunjung untuk bertemu dengan petani dan mengetahui proses produk pertanian yang mereka konsumsi dihasilkan. Ketiga harus ada keterlibatan secara aktif dari pengunjung dalam kegiatan pertanian dan atau kehidupan desa,” kata Harro yang antara lain melahirkan agrowisata kopi di Pegunungan Kilimanjaro, Tanzania.

Acara lokakarya agrowisata yang diselenggarakan APO (Jepang) bekerja sama dengan Kementerian Pertanian serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan narasumber Prof David Preece (baju bunga)

Acara lokakarya agrowisata yang diselenggarakan APO (Jepang) bekerja sama dengan Kementerian Pertanian serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan narasumber Prof David Preece (baju bunga)

Managing Director Contour Projects Ltd itu me negaskan, “Jadi peserta benar-benar menjadi petani saat beragrowisata, tidak sekadar melihat-lihat. Misal dia bisa ikut panen, ikut mengolah, ikut menanam. Dengan begitu peserta mendapat pelajaran yang menyeluruh tentang pertanian.” Saat kunjungan ke lokasi pengolahan kopi Malabar Indonesia, Harro menyodorkan 2 pisin berisi biji kopi kering kepada peserta. “Coba tebak mana yang kopi luwak,” tanya Harro.

Suvanroath dan David Preece bergantian mengambil pisin itu. Lalu selama beberapa menit mereka menimbang-nimbang dengan cara mengendus aroma biji kopi.  David akhirnya mengangkat pisin berisi biji kopi di tangan kiri dan berseru, “Yang ini kopi luwak!” Suvanroath setuju. Saat Harro mengonfirmasi pada pegawai di Golden Malabar Indonesia, tebakan keduanya ternyata benar. “Inilah salah satu contoh aktivitas yang melibatkan peserta tur dalam kehidupan petani,” tutur Harro.

Supriyatna Dinuri menyerahkan tumpeng kepada Dr Joselito Bernardo dalam acara santap siang di kebun kopi Malabar Indonesia.

Supriyatna Dinuri menyerahkan tumpeng kepada Dr Joselito Bernardo dalam acara santap siang di kebun kopi Malabar Indonesia.

Menurut Harro kehadiran agrowisata dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjadi diversifikasi pendapatan. Selain itu membuka peluang kerja baru, membantu masyarakat kota memahami tentang kehidupan di desa, dan memberi pengalaman hidup di desa kepada peserta agrotur. “Kunci utama agrowisata adalah penduduk atau petani setempat harus menjadi yang paling untung,” ujar Harro.

Dalam pembukaan acara pada 3 Agustus 2015, Walikota Bandung, Ridwan Kamil menyampaikan agrowisata harus memberdayakan masyarakat pertanian. Pemilihan lokasi lokakarya di Bandung tepat karena Kota Parahyangan itu merupakan pusat wisata urban. Pada awal 2015 sebanyak 6-juta turis datang ke Bandung. Menurut Ridwan Bandung kota pertama yang mengembangkan urban farming di Indonesia. “Riset menunjukkan orang yang lebih sering berinteraksi dengan alam cenderung lebih pintar,” tutur walikota yang ahli tata ruang itu. Jadi mari beragrowisata. (Evy Syariefa)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts