Plastik lambat urai, perlu 500 tahun. Pengolahan sederhana mengubah plastik menjadi bahan bakar minyak.

Plastik lambat urai, perlu 500 tahun. Pengolahan sederhana mengubah plastik menjadi bahan bakar minyak.

SAMPAH PLASTIK BERLIMBAH POTENSIAL MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK.

Berapa banyak plastik dihabiskan setiap hari oleh masyarakat Indonesia? Lembaga Wirausaha Sosial Greeneration menyebutkan konsumsi plastik 4.000 ton per hari. Jumlah itu setara bobot 16 pesawat berbadan lebar Boeing 747. Lembaga itu mencatat setiap orang rata-rata memanfaatkan 700 lembar kantong plastik setiap tahun. Total jenderal ada 100-miliar kantong plastik setiap tahun.

Untuk mencukupi kebutuhan itu dibutuhkan tidak kurang 12-juta barel minyak bumi. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) keberadaan sampah plastik mencapai 14—17% dari total produksi sampah harian Indonesia sebesar 175.000 ton. Total produksi sampah Indonesia setara 64-juta ton per tahun. Sebagian besar atau 69% dari total sampah itu berpindah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Jarak pagar Jatropha curcas bahan baku biodiesel.

Jarak pagar Jatropha curcas bahan baku biodiesel.

Memicu kanker
Adapun sebagian lainnya, yakni 10% dikubur, pemanfaatan untuk kompor dan daur ulang (7%), dibakar (5%), dan tidak terkelola (7%). Padahal, sampah plastik kresek sulit terurai, perlu waktu 500 tahun. Pemanfaatan kembali sampah plastik dengan jalan memilah atau mengolah kembali.

Pembakaran menjadi jalan pintas untuk mengurangi sampah plastik yang menggunung.Pembakaran menyebabkan kandungan klorin dalam sampah plastik berperan dalam pembentukan dioksin. Dioksin tergolong karsiogenik alias penyebab kanker.

Menurut periset di Jurusan Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Ing Ir Harwin Saptoadi MSE kresek bisa dikonversi menjadi bahan bakar minyak melaui teknologi pirolisis. Pirolisis merupakan proses dekomposisi bahan organik lewat pemanasan tanpa atau sedikit oksigen. Pada suhu itu plastik meleleh dan bersalin wujud menjadi gas.

Prof Dr Ir Ing Harwin Saptoadi MEng, dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

Prof Dr Ir Ing Harwin Saptoadi MEng, dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

Rantai panjang hidrokarbon yang semula panjang pun terpangkas menjadi rantai pendek. Tahapan berikutnya, gas yang terbentuk melewati proses pendinginan lalu mengalami kondensasi dan timbul cairan yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Menurut Harwin semua jenis plastik seperti polietilen (PE), polipropilen (PP),
polistryrene (PS) dapat diolah menjadi bahan bakar.

Baca juga:  Adu Tampilan Domba Garut

Campur 10%
Harwin mengatakan plastik atau kresek yang terkumpul tidak perlu dibersihkan terlebih dulu. Selanjutnya masukkan 1,5—2 kg plastik ke reaktor dan menjalani proses pirolisis pada suhu 400—600°C. Akibat panas sampah dalam reaktor akan meleleh dan memproduksi gas. Gas yang timbul kemudian lewat proses kondensasi atau
pengembunan.

Agar kualitas minyak lebih bening dan bagus, tambahkan katalis berupa zeolit alam ke dalam kondensator. Tetesan minyak dari bahan baku plastik pun muncul. Produsen memperoleh 250 gram minyak dari bahan baku 1 kg plastik. Rendemen pengolahan mencapai 25%. Berdasarkan riset Harwin dan Nosal Nugroho Pratama menunjukkan bahwa plastik PE merupakan jenis plastik yang mempunyai nilai kalori tertinggi.

Adapun campuran plastik PE, PP, dan PP menjadi juara dalam hal persentase massa minyak pirolisis yang dihasilkan sebesar 45,13%. Sementara campuran 50% PE, 40% PP dan 10% PS menjadi kampiun untuk kandungan energi per satuan kilogram bahan baku. “Penambahan jenis plastik PP dan PS cenderung meningkatkan nilai spesifik gravitas dan kadar air,” ujar doktor alumnus Technisce Universitat Clausthal, Jerman, itu.

Mesin pengolah plastik menjadi bahan bakar minyak di Laboratorium Konversi Energi, Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

Mesin pengolah plastik menjadi bahan bakar minyak di Laboratorium Konversi Energi, Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

Penambahan plastik jenis polietilen tereptalat (PET) dan jenis lain menurunkan nilai viskositas kinematis, titik tuang, dan kadar abu. Menurut Harwin minyak dari limbah plastik itu bisa digunakan sebagai campuran bahan bakar diesel. Caranya dengan mencampur 5—10% minyak pirolisis ke dalam solar. Pencampuran itu lumayan
mengurangi konsumsi solar.

Menurut data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), rata-rata konsumsi solar per bulan mencapai 1,2-juta kl (kiloliter). Bila 5% minyak pirolisis bisa dimanfaatkan, mampu mengganti konsumsi solar sebesar 60.000 kl. Muhammad Ayyub SH di Malang, Provinsi Jawa Timur, juga megolah plastik menjadi bahan bakar.

Baca juga:  Tembikai Baru Zonder Biji

Warna plastik
Ayyub kemudian memisahkan sampah plastikberdasarkan warna. Plastik berwarna terang seperti putih atau kuning menghasilkan warna terang pada produk akhir sehingga cocok sebagai pengganti solar. Adapun kresek hitam, hijau, atapun biru cenderung menghasilkan cairan berwarna gelap sehingga lebih pas dijadikan pelumas atau oli.

Minyak hasil pirolisis bisa menjadi campuran solar dengan konsentrasi 5—10%.

Minyak hasil pirolisis bisa menjadi campuran solar dengan konsentrasi 5—10%.

Ayyub mengolah sampah di lahan 5 m x 6 m. Saudagar emas itu memasukkan kresek yang sudah dipilah ke dalam reaktor terbuat dari drum bekas. Ia lantas memanaskan rrum hingga mencapai suhu 400°C. Uap hasil pembakaran yang terkumpul dialirkan melalui pipa ke penampung bejana berbahan baja nirkarat. Selanjutnya uap menempuh perjalanan melalui uliran spiral dan mengkristal.

Lantaran terus-menerus dipanasi, kristal lalu mencair menjadi minyak. Sekali proses penyulingan membutuhkan waktu 2 jam. Dari 3 kg kresek, Ayyub mampu menghasilkan 1 liter minyak. Menurut Ayyub perlu penambahan zat aditif pada minyak plastik itu. Tujuannya mendongkrak kandungan oktan agar dapat dimanfaatkan kendaraan bermotor. (Faiz Yajri, kontributor Trubus di Jakarta)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d