Limbah Mete Berfaedah

Limbah Mete Berfaedah 1

Tidak hanya biji legit, limbah jambu mete pun menjadi berbagai olahan bermanfaat.

Buah jambu mete varietas flotim 1. Seluruh bagian jambu mete dapat dimanfaatkan.

Buah jambu mete varietas flotim 1. Seluruh bagian jambu mete dapat dimanfaatkan.

Pengepul dan pengupas kacang mete di Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Fitria Handayani, mengolah 14 ton biji jambu mete menjadi kacang mete siap olah per pekan. Limbah kupasan berupa cangkang atau pembungkus biji itu hanya teronggok di halaman rumah dan hancur perlahan menjadi tanah. Ia juga membiarkan buah membusuk dan hancur untuk mempermudah pekebun mengumpulkan gelondong mete.

Padahal sejatinya seluruh bagian buah mete itu berfaedah. Buah semu itu misalnya, ternyata menjadi berbagai macam olahan makanan yang memiliki nilai jual tinggi. Ary Gunawan dan rekan, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, membuat abon dan sirop berbahan dasar buah mete. Cara pengolahannya mereka ajarkan kepada warga Desa Semin, Kecamatan Ngutoronandi—salah satu sentra kebun mete di Wonogiri, Jawa Tengah.

Kaya nutrisi
Menurut Ary selama ini pekebun tidak memanfaatkan buah semu jambu mete karena rasanya yang sepat dan membuat tenggorokan gatal. Maklum bagian itu banyak menyimpan tanin, asam anakardat, dan kardol. Padahal buah semu itu mengandung beragam zat bermanfaat, seperti riboflavin (vitamin B2), asam askorbat (vitamin C), dan kalsium serta senyawa aktif pencegah tumor atau kanker.

Kandungan vitamin C pada buah anggota famili Anacardiaceae itu cukup tinggi, mencapai 180 mg per 100 g. Dengan sedikit sentuhan, buah jambu mete menjadi produk komersial seperti sari buah, manisan, selai, buah kalengan, dan abon. Sebelum pengolahan, Ary merendam buah jambu mete selama 4 jam dalam larutan garam 2% untuk menghilangkan tanin yang menyebabkan tenggorokan gatal serta menimbulkan rasa gurih.

Asap cair kulit mete dapat dijadikan campuran vernis.

Asap cair kulit mete dapat dijadikan campuran vernis.

Selanjutnya ia membilas, menghaluskan, lalu menyaring buah semu sehingga memperoleh ekstrak cair mete. Larutan itu menjadi sirop setelah penambahan asam sitrat dan gula dilanjutkan dengan pemasakan, pengemasan, dan pasteurisasi. Sementara ampas sisa penyaringan menjadi abon setelah penambahan bumbu dan penggorengan. Citarasa abon buah kerabat mangga itu pun lezat.

Baca juga:  Saat Taman Tegak Meraja

Untuk membuat manisan, cuci bersih buah jambu mete dalam rendam larutan garam. Gunakan air panas untuk membasuh buah hingga benar-benar bebas garam. Selanjutnya rendam buah dalam larutan gula pekat kemudian keringkan. Bagian lain jambu mete yang banyak terbuang adalah cangkang. Pengupasan biji jambu mete menghasilkan limbah berupa cangkang biji. Bobot limbah itu mencapai 70—80% total bobot gelondong mete.

Pekebun bisa memanfaatkan cangkang menjadi arang, asap cair, minyak mete (cashew nut shell liquid, CNSL), dan pupuk organik. Periset di Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Budhijanto PhD, mengolah cangkang mete menjadi lem untuk industri kayu. Berbeda dengan lem berbasis formaldehida yang lazim digunakan pabrik, lem asal minyak mete itu ramah lingkungan.

Bahan vernis
Menurut Budhijanto kulit biji jambu mete mempunyai kandungan minyak mencapai 20—30%. Cairan itu merupakan sumber fenol alami yang potensial menggantikan fenol dari bahan baku minyak bumi. Budhijanto memodifikasi molekul minyak mete sehingga strukturnya mirip fenol. Menurut Budhijanto industri minyak mete memberi banyak keuntungan antara lain mendorong industri jambu mete mengekspor biji mete kupasan.

565_-101Saat ini ekspor justru dalam bentuk gelondongan atau biji tanpa kupas. Penelitian itu sekaligus menjawab tantangan membuat perekat 100% terbarukan tanpa fenol sintetis. Cangkang mete yang selama ini teronggok di halaman itu juga bisa menjadi briket arang dan asap cair. Asap cairnya bisa menjadi vernis atau pengilap kayu. Riset Ikhwal STP dari Jurusan Teknologi Hasil Perkebunan Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa melalui pemanasan dalam suhu dan waktu optimal, asap cair mete bisa menjadi vernis berkualitas.

Kulit biji mete dapat dimanfaatkan sebagai arang aktif.

Kulit biji mete dapat dimanfaatkan sebagai arang aktif.

Kulit biji mete juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena memiliki unsur hara makro yang bermanfaat bagi tanaman seperti N (0,84%), P (0,21%), Ca (0,13%), dan Mg (0,24%). Nur Sakinah dari Fakultas Pertanian Universitas Dayanu Ikhsanuddin Kendari, Sulawesi Tenggara, meneliti pengaruh kompos kulit biji mete terhadap pertumbuhan dan serapan hara bibit mete.

Baca juga:  Model Setiap Zaman

Hasilnya pemberian kompos kulit biji mete sebanyak 50 g dan 100 g per polibag meningkatkan tinggi bibit, jumlah daun, diameter batang, dan panjang akar bibit setelah 3 bulan tanam. Kompos cangkang mete itu bahkan lebih baik ketimbang kotoran kambing. Terbukti pemberian 50 g kompos kulit mete per polibag setara dengan pemberian 100 g pupuk kandang kambing per polibag. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x