Lima Liter Lebih Banyak 1
Populasi sapi perah di Pondokranggon, Jakarta Timur, mencapai 1.500 ekor

Populasi sapi perah di Pondokranggon, Jakarta
Timur, mencapai 1.500 ekor

Rahmat Hidayat Baghory memerah 15 liter susu, produksi rata-rata peternak lain 10 liter per ekor per hari.

Kandang-kandang itu berderet rapi. Seribu lima ratus sapi menghuni kandang berlantai semen itu. Panorama itu bukan di daerah nun jauh di pelosok, tetapi di Pondokrangon, Jakarta Timur. Itu separuh dari total populasi sapi perah di ibukota negara. Data Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian menunjukkan populasi sapi perah di Jakarta pada 2012 mencapai 2.775 ekor.

Rahmat Hidayat Bughory memerah 300—350 liter susu per hari dari 25 ekor sapi yang ia miliki

Rahmat Hidayat Bughory memerah 300—350
liter susu per hari dari 25 ekor sapi yang ia
miliki

Menurut peternak di Pondokrangon, Rahmat Hidayat Baghory, 1.500 sapi itu milik 34 orang. Dengan kepemilikan beragam per peternak. Rahmat mengatakan para peternak itu semula membudidayakan sapi di Kuningan, Jakarta Selatan. Pemerintah memindahkan lokasi peternakan ke Pondokrangon pada 1990. Rahmat memiliki 25 sapi berbobot rata-rata 400—450 kg per ekor. Dari seekor sapi, Rahmat memperoleh 15 liter susu per hari.

Antitoksin

Rahmat mengelola 25 ekor sapi perah sehingga memperoleh total 375 liter per hari. Volume itu jauh lebih tinggi dibandingkan peternak lain di lokasi yang sama, rata-rata 10 liter per hari. Bahkan, “Bila dipacu seekor sapi bisa menghasilkan 25 liter per hari,” kata pemilik Cibugary itu. Produksi tinggi itu karena Rahmat memanfaatkan antitoksin. Menurut Dr Ir Idat Galih Permana MSc dari Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, antitoksin sebetulnya semacam prebiotik antara lain berfungsi mensterilkan pakan. dan meningkatkan nafsu makan.

Antitoksin mengandung mineral alumunium dan silikat. Rahmat mengatakan, antitoksin juga berguna untuk mengikat racun di dalam pakan sehingga aman bagi ternak. Menurut Abdan Syakur, manajer produksi Cibugary, menyimpan pakan dalam jangka lama memicu kehadiran cendawan. Pria lulusan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, itu menerangkan konsentrat pada dasarnya tercemar sejak pembuatan, pengangkutan, dan penyimpanan.

Baca juga:  Jamu di Sela Batu

“Pada pakan ayam biasanya antitoksin sudah terkandung di dalamnya,” ujarnya. Kehadiran cendawan di pakan menyebabkan pertumbuhan bobot harian menurun, pengurangan nafsu makan, dan berujung pada penurunan produksi susu. Oleh karena itu peternak memerlukan mold inhibitor atau anticendawan yang bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan cendawan di dalam pakan. Itulah sebabnya Rahmat memanfaatkan antitoksin untuk sapi-sapinya.

Peternak sapi sejak 1990 itu mencampur 0,25 kg serbuk antitoksin itu dengan konsentrat atau pakan sebelum diberikan kepada sapi. Konsentrat merupakan campuran dedak padi, bungkil kelapa sawit, dan dedak singkong. Antitoksin tersedia di toko pakan dengan harga Rp15.000—Rp75.000 per kg. Menurut Rahmat ia memberi pakan sebanyak 10% dari bobot sapi atau berkisar 40—50 kg setiap ekor per hari.

Sebanyak 60% atau 30 kg berupa merupakan ampas tahu dan konsentrat yang diberikan 2 kali masing-masing 15 kg pada pukul 06.00 dan 15.00. Adapun 40% atau 20 kg berupa hijauan seperti rumput yang diberikan 2 kali masing-masing 10 kg pada pukul 07.00 dan 17.00. Setiap kali pemberian pakan konsentrat,  Rahmat menambahkan 0,25 kg antitoksin per kg pakan. Jadi pada pukul 06.00 saat memberikan 15 kg pakan, ia menambahkan 4 kg antitoksin. Sementara pada pemberian pakan hijauan, ia tak menambahkan antitoksin. Sebab, pakan hijauan pada umumnya masih segar.

Selain pemberian antitoksin, menurut Rahmat memandikan sapi minimal 2 kali sehari supaya produksi susu meningkat.  Menurut Dr Ir Idat Galih Permana MSc mandi pada sapi berpengaruh pada suhu tubuh dan nafsu makan. Nafsu makan sapi di daerah panas seperti Pondokrangon umumnya lebih rendah. Hal itu karena panas saat metabolisme di tubuh sapi membuat suhu tubuh meningkat. “Bisa juga disiasati dengan menggunakan kipas,” ujarnya.

Baca juga:  Anggur Idola Baru

Menurut Idat, tingkat stres sapi di daerah panas meningkat pada pukul 11.00—15.00. “Jadi mandikan sapi pada waktu-waktu itu,” katanya. Syarat lain produksi tinggi menurut Idat adalah memastikan kandungan protein pada konsentrat di atas 16%. Peternak lain di Pondokrangon yang juga menggunakan antitoksin adalah Aziz Ali. Ia memberikan antitoksin kepada 10 sapi. “Supaya pakan lebih steril, sapi juga lebih sehat. Sapi lebih lahap makannya,” ujarnya.

Kualitas

Susu produksi para peternak di Pondokrangon bermutu tinggi. Saat ini Rahmat bisa menjual dengan harga eceran Rp10.000 per liter dan Rp7.000 bagi pelanggan. Harga itu dibedakan bergantung pada jumlah pembelian susu. Menurut  Ahmad Fahrurozi, ketua kelompok peternak sapi perah di Pondokrangon dengan kepemilikan 200 sapi, memasok 70% produksi susu sapi miliknya ke PT Frisian Flag Indonesia. “Produksi saya sekitar 700—1.000 liter per hari,” ujarnya.

Ahmad menuturkan susu sapi yang dikirim ke PT Frisian Flag harus memenuhi syarat antara lain total solid (TS) minimal 11,0%, tanpa penambahan air, tak mengandung peroksida, alkohol, atau zat antibiotik. Selain itu kadar total plate count (TPC) tidak boleh lebih dari 3-juta koloni per ml. Susu hasil sapi milik Ozi—sapaan akrab Ahmad—sudah memenuhi syarat dengan TS 13,1% dan TPC di bawah 500.000 koloni per ml.

Dengan ribuan sapi di lahan 11 ha mereka mampu memasok kebutuhan susu sapi yang kian meningkat setiap tahun. Kebutuhan susu nasional pada 2010 mencapai 3.173.000 ton, dengan volume pasokan 909.533 ton, baru terpenuhi sekitar 29%. “Kami bertekad menggalakkan gerakan putih nasional (gemar konsumsi secangkir susu segar setiap hari dari produksi susu lokal, red),” ujar Rahmat. Salah satunya dengan pemberian antitoksin sehingga produksi susu meningkat. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *