Lidah Mertua Tak Biasa 1
S. ‘blue clone’ x S. nitida, berumur setahun, hasil silangan Fery Undaru

S. ‘blue clone’ x S. nitida, berumur setahun, hasil silangan Fery Undaru

Para pehobi terus mengawinsilangkan sansevieria demi varian baru yang unik dan cantik.

Saat orang lain terlelap, pehobi sansevieria di Wonosobo, Jawa Tengah, Fery Undaru, malah asyik menghabiskan waktu di dak belakang rumah hingga larut malam. Di sana ia sibuk mencari indukan-indukan sansevieria yang sedang berbunga untuk dikawinsilangkan.

Meski aktivitas itu melelahkan dan perlu ketekunan tinggi, tapi Fery seperti ketagihan. “Menyilangkan lidah mertua itu asyik karena karakter anakan yang dihasilkan sulit ditebak. Bisa jadi anakan yang diperoleh mirip dengan salah satu induk, kedua induk, atau tidak sama sekali,” katanya.

Silangan antara S. ballyii dengan S. trifasciata melahirkan anakan berdaun tebal dan bertepi merah

Silangan antara S. ballyii dengan S. trifasciata
melahirkan anakan berdaun tebal dan bertepi merah

Tisu

Dua pekan pascapenyerbukan buah bermunculan dan matang 2—3 bulan kemudian. Ciri buah matang berwarna jingga cerah. Fery memetik buah matang, lalu mengupas daging buah sehingga hanya tersisa biji. Ia menjemur biji-biji lidah mertua itu hingga kering untuk menghindari serangan cendawan. Selanjutnya, Fery menyemai benih-benih itu pada media tanam berupa tisu yang disemprot larutan pupuk organik cair.

Pria berusia 38 tahun itu memilih tisu sebagai media semai sebab lebih steril dibandingkan dengan media tanam biasa. “Berdasarkan pengalaman saya banyak biji yang mati di persemaian karena serangan nematoda dari media tanam yang tidak steril,” ujarnya. Akibatnya, semua benih berlubang dan mati. Ia menggunakan media tisu sejak 2012 dan terbukti berhasil menyelamatkan benih dari serangan nematoda hingga 100%.

Fery mulai tertarik menyilangkan sansevieria pada 2008. “Ketika itu hanya coba-coba,” katanya. Baru pada 2010, ia mulai serius menyilangkan lidah mertua. Sansevieria hibrida pertama yang ia hasilkan adalah hasil perkawinan silang antara S. ‘blue clone’ dan S. nitida yang ia silangkan pada pertengahan 2012.  Hasil perkawinan silang itu melahirkan lidah jin berkarakter unik.

Baca juga:  Kokedama Tumbuh di Bola Lumut

Lidah jin yang pertama mempunyai pertumbuhan daun yang rapi dan roset serta bentuk daun silindris berujung lancip. Warna daun cenderung perak, bertepi merah, dan mempunyai corak garis datar berwarna hijau. Sansevieria hibrida lain yang membuat pehobi sansevieria sejak 2008 lalu itu jatuh hati yakni silangan S. fernwood dengan S. nitida. Hasil perkawinan antara S. ballyii dan S. trifasciata pun tak kalah cantik. Hibrida itu menjadi semakin istimewa sebab berdaun tebal dan memiliki tepi daun berwarna merah. “Karakter seperti itu incaran setiap pehobi sansevieria,” ujar Fery.

Perbaikan

Bagi Santoso, pehobi senior di Temanggung, Jawa Tengah, menyilangkan sansevieria adalah cara untuk menambah ragam jenis dan memperbaiki jenis-jenis sansevieria lama. Saat ini ada beberapa sansevieria yang turun pamor sehingga jarang dilirik. “Padahal bila bertemu dengan pasangan yang cocok akan melahirkan anakan yang berkarakter lebih baik,” tutur Santoso. Misalnya S. aubrytiana. Ketika tren tanaman hias sedang marak 5 tahun lalu, harga sepot aubrytiana berdaun 4—5 bisa mencapai Rp100-ribu. Kini harga sepot S. aubrytiana hanya Rp10.000. “Saat ini aubrytiana kalah pamor padahal ia memiliki corak yang bagus,” kata Santoso.

Untuk memperbaiki karakter aubrytiana, pemilik nurseri Tunas Mekar itu menyilangkan S. aubrytiana dengan S. downsii pada 2010. Perkawinan silang itu berhasil melahirkan anakan yang sangat cantik. S. downsii mewarisi luas permukaan daun yang sempit dan runcing.

Di kediamannya, Santoso juga kerap menggunakan sansevieria hibrida sebagai indukan, misalnya S. ‘casanova’. Ia menyilangkan hibrida berwarna hijau itu dengan Sansevieria ‘frostyspear’ yang daunnya cenderung berwarna perak. Anakan yang muncul memiliki bentuk daun mirip casanova, berwarna hijau gelap dan mulus tanpa corak. Penampilannya menjadi semakin apik dengan hadirnya warna merah di tepi daun sehingga kontras dengan warna dasar daun.

Baca juga:  Penguasa Dua Ring

Masih di Temanggung, pehobi senior Soeyatno Soebekti juga tak henti menjadi penghulu tanaman kerabat hanjuang itu. Beberapa hasil silangannya menghasilkan anakan berkarakter sangat menarik. Salah satunya bali dancer. Alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu menyematkan nama itu sebab sosok tanaman meliuk mirip penari bali. Bali dancer adalah hasil silangan antara hibrida bernama pantera yang disilangkan kembali dengan tetuanya yakni S. suffruticosa ‘tom grumbley’.

Sosok unik seperti itu juga dapat ditemui pada silangan bernama gempa. Tanaman berumur 2 tahun itu lahir dari hibrida tanpa nama—hasil silangan S. kirkii dengan S. futura—yang disilangkan dengan S. ‘frostyspear’.

Hibrida lain yang tak kalah cantik adalah dark beauty hasil silangan S. personii dengan S. suffruticosa. Hibrida berusia 3 tahun itu memiliki warna daun hijau gelap cenderung hitam. Pertumbuhan daun rapat dan roset. Padahal, kedua induk berdaun bulat. Itulah uniknya sansevieria. Para penyilang tidak bisa menebak hasil silangannya. Apalagi bila indukan yang digunakan adalah hibrida. “Jika induknya hibrida hasilnya sangat beragam sebab terdapat sifat dari gen yang tersembunyi yang muncul pada anakan,” kata Soeyatno. (Andari Titisari)

FOTO:

  1. S. ‘blue clone’ x S. nitida, berumur setahun, hasil silangan Fery Undaru
  2. Silangan antara S. ballyii dengan S. trifasciata melahirkan anakan berdaun tebal dan bertepi merah
  3. S. aubrytiana yang kurang diminati mampu menghasilkan anakan yang cantik saat dipasangkan dengan S. downsii
  4. Hibrida hasil perkawinan antara S. ‘casanova’ dengan S. ‘frostyspear’
  5. Dark beauty lahir dari pasangan S. personii dengan S. suffruticosa
  6. Bali dancer, hasil silangan S. ‘tom grumbley’ dan S. futura
  7. Gempa, silangan antara hibrida tanpa nama—hasil silangan S. kirkii dengan S. futura—yang disilangkan dengan S. ‘frostyspear’

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *