Lezat Ara Tiada Tara

Lezat Ara Tiada Tara 1
Teh daun tin.

Teh daun tin.

Beragam olahan buah tin yang lezat.

Aliyaa Suraiya melangkah sembari membawa nampan. Ia agak membungkuk ketika menyodorkan semangkuk es krim gelato fico. Di bagian atas es krim itu terdapat karamel buah tin yang meleleh sehingga menggugah kelenjar saliva. Buah Ficus carica diolah dengan gula merah dan bumbu khusus. Itulah suguhan istimewa ketika berkunjung ke Mutiara Figs Garden, di Shah Alam, ibukota negara bagian Selangor, Malaysia.

Kebun tin Mutiara mengelola beragam variet as di lahan 200 m2. Selain itu pemilik kebun, Mohamad Hilmi Yusoff, juga mengolah buahnya untuk para pengunjung. Menurut Hilmi pengunjung bisa memesan caramelised fig di atas roti, keju, pancake, atau salad dalam kondisi hangat atau dingin. Saking enaknya banyak pengunjung menambah lagi gelato fico itu. Pilihan lain terutama bila belum sarapan, fig relish yang diolah bersama jahe dan raisins.

Keluarga Mohd Fariz Hilmi Yusoff, bekerja sama olah tin jadi berbagai produk.

Keluarga Mohd Fariz Hilmi Yusoff, bekerja sama olah tin jadi berbagai produk.

Beragam olahan
Bila enggan sarapan nasi, pengunjung dapat memesan steak, burger, tacos, keju, dan biskuit, yang semuanya ada tambahan figs relish. Pengunjung mencicip menu-menu itu usai berkeliling kebun untuk menyaksikan deretan pohon tin aneka varietas. Produk lain ialah daun tin siap seduh dalam kemasan kaleng cantik. Hilmi menambahkan bunga telang Clitoria ternatea yang berkhasiat untuk membersihkan mata dan menjernihkan penglihatan.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Hilmi mengandalkan pasokan dari kebun sendiri di belakang rumah. Hilmi bin Yusoff mengelola kebun itu beserta putranya, Mohd Fariz Hilmi. Selain itu Hilmi juga bekerja sama dengan beberapa petani tin. Mutiara Fig memang perusahaan keluarga. Hilmi menugaskan putrinya, Ilani Hana Masturah dan Aliyaa Suraiya, untuk mengolah buah.

Es krim gelato fico, favorit pengunjung Mutiara Figs Garden.

Es krim gelato fico, favorit pengunjung Mutiara Figs Garden.

“Saya hobi masak yang menurun dari nenek dan ibu. Selebihnya belajar otodidak,” kata Farida Hasni Binti Ramli, istri Hilmi yang mengontrol produk makanan. Di Sungai Buloh, Selangor, Malaysia, Ridzuan Abdullah, juga mengolah daun dan buah tin menjadi berbagai produk. Ia mengolah daun tin dengan mencampur madu hingga siap seduh mirip daun teh Camellia sinensis.

Baca juga:  Menjala Berkah Laut

Ridzuan mengolah buah tin menjadi beragam penganan seperti selai, saus spaghetti, dan jus. Petani tin itu mengelola lebih dari 1.000 tanaman tin terdiri atas 45 varietas di atas lahan 500 m2 yang terbagi dalam 3 greenhouse. Tiga varietas dominan, yaitu misui douphine (MD) sebanyak 400 pohon, taiwan green fig (200), dan red khurtmani (100). Selebihnya tanaman masih kecil.

Aneka produk buah dan daun tin.

Aneka produk buah dan daun tin.

Ketiga varietas itu mempunyai buah besar 130—150 g. “Sebenarnya kalau pokok tin telah lebih 1 tahun, buahnya saat matang pun cukup besar. Kulitnya bagus, tekstur lembut, dan sangat enak,” kata Ridzuan. Ia memilih daun hasil pangkasan untuk membuat teh daun tin agar tak mengganggu pembuahan. Setelah pemangkasan tanaman mengeluarkan pucuk dan daun baru. Kemudian cabang baru tumbuh tinggi hingga 50 cm.

Toiletris
Di cabang itulah bermunculan buah yang matang 1,5 bulan kemudian. Ia selalu merotasi pangkas untuk memenuhi kebutuhan daun dan buah. Kini produk olahan daun masih lebih banyak daripada produk berbahan buah. Menurut Suyanti Satuhu, mantan peneliti utama pascapanen di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Kementerian Pertanian, teknik pengolahan buah beragam karena tekstur setiap buah berbeda-beda.

Mutiara Figs Garden wisata agrowisata dan kuliner.

Mutiara Figs Garden wisata agrowisata dan kuliner.

Untuk itu pekebun yang akan mengolah buah, harus mencoba terus. Misalnya untuk membuat selai, produsen harus mencoba beberapa kali agar persentasi gula pasir yang ditambahkan sesuai preferensi konsumen. Menurut periset kelahiran 65 silam itu, bahan baku kebanyakan berupa buah apkir yang lebih murah. Buah apkir tetap dapat diolah asal tanpa cacat atau luka. Sebab, buah luka menjadi jalan masuk kuman atau mikrob.

Bila memanfaatkan buah rusak, olahan itu cepat rusak karena mengandung mikrob. Suyanti memaparkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh pengolah, yaitu menjaga higienitas buah sebelum dan saat pengolahan. “Alat, air, serta ruangan yang dipakai, semuanya harus bebas mikrob alias steril, termasuk pelaku atau selama pemrosesan,” kata Suyanti.

Ridzuan (kiri) dan putranya membidik pasar luar negeri untuk produknya.

Ridzuan (kiri) dan putranya membidik pasar luar negeri untuk produknya.

Selain beragam penganan, para produsen juga mengolah buah tin menjadi produk toiletris seperti sabun dan parfum. Pengunjung Mutiara Fig Garden dapat membawa beragam sabun berbahan baku tin sebagai buah tangan. Buah tin mengandung nutrisi lengkap sehingga menjadi pilihan untuk menghaluskan wajah, mengurangi kerutan, dan membuat lebih bercahaya.

Baca juga:  Terima Kasih Telah Berbagi

Untuk mengolah menjadi sabun, Farida Hasni Binti Ramli, istri Hilmi mencampur tin dengan madu trigona yang kaya antioksidan, propolis, dan kolagen rumput laun. “Bahan-bahan itu membuat wajah berseri dan tidak tampak kusam,” kata Farida. Untuk memproduksi sabun, Hilmi bekerja sama dengan industri rumah tangga danmenghasilkan sabun beraroma stroberi dan peach.

Bisnis bibit pun amat ramai di Malaysia.

Bisnis bibit pun amat ramai di Malaysia.

Ridzuan memproduksi sabun berbahan buah tin dan serai sehingga baik untuk kesehatan kulit. “Sebenarnya pasar kita bukan untuk dalam negeri, tetapi untuk luar negeri,” kata pemilik Figs Fiesta One Malaysia itu. Saat ini produk-produk mereka mengisi pasar Brunei Darussalam dan Singapura. Ridzuan melayani permintaan 1.000 kotak ke Brunei, permintaan dari Singapura masih terbatas. (Syah Angkasa)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x