Lengkeng Leci Ludes Sekejap 1

Nama lengkeng leci boleh jadi asing di telinga kebanyakan orang. Namun, wisatawan dan masyarakat Kota Batu, Jawa Timur, akrab dengan nama itu. Lengkeng istimewa itu manis, dan wangi. Ukurannya setengah kali lebih besar ketimbang lengkeng lokal. Saat ini lengkeng leci hanya dijual di lapak milik Djunaedi, pengepul lengkeng leci di Batu. Menurut Djunaedi, pada musim liburan 100 kg lengkeng leci bisa ludes hanya dalam 2 hari.

Lengkeng leci diminati wisatawan dan masyarakat di Kota Batu, Jawa Timur

Lengkeng leci diminati wisatawan dan
masyarakat di Kota Batu, Jawa Timur

Lengkeng itu memang banyak diburu pengunjung Kota Batu. Oleh karena itu, Djunaedi memanen pada Jumat, Sabtu, dan Ahad. Ia mengambil dari pohon milik 67 petani yang tersebar di beberapa desa seperti Dau, Junrejo, Bumiaji, dan Karangploso. Masing-masing petani memiliki 2—3 pohon yang berumur 10—30 tahun dengan tinggi 3—4 meter. Djunaedi membeli lengkeng leci dari petani seharga Rp5.000 per kg dengan sistem tebas. Ketika pohon berbunga, ia memperkirakan volume panen yang bakal ia peroleh.

Jika taksiran volume panen mencapai 100 kg, maka ia menebas pohon itu seharga Rp500.000 pada pemilik pohon. Dengan begitu, seluruh buah selama satu periode itu menjadi milik Djunaedi. Saat buah pentil, ia membungkus dompolan-dompolan buah. Ia membutuhkan 350 bungkus untuk 100 kg buah dengan harga bungkusan Rp1.000 per buah. Jadi, biaya yang dikeluarkan untuk bungkusan Rp350.000. Sementara biaya tenaga kerja Rp150.000. Total jenderal, Djunaedi merogoh kocek Rp1.000.000 untuk menebas 1 pohon lengkeng.

Ia membayar harga tebas sama dengan lengkeng biasa, Rp5.000/kg di kebun. “Masyarakat belum mengetahui keunggulan lengkeng leci sehingga harga jual di petani sama dengan lengkeng biasa,” kata Djunaedi. Ia menjual lengkeng leci seharga Rp25.000—30.000 per kg; lengkeng biasa, Rp10.000—15.000/kg. Dengan harga itu, di atas kertas ia mendulang laba Rp2-juta/pohon.

Baca juga:  Pasok Pasar Moringa dengan BUDIDAYA & OLAHAN

Djunaedi memanen lengkeng leci 30—40 hari pascabungkus. Seminggu menjelang panen lengkeng leci menguarkan aroma harum. Sementara lengkeng lokal dipanen 60 hari pascabungkus dan tidak menguarkan aroma harum. Baik lengkeng leci maupun lengkeng lokal masa panennya sama yakni Februari, Maret, dan April. Sepanjang musim panen itu, Djunaedi memanen 5 ton lengkeng leci dan 5 ton lengkeng lokal. Pada 2008 Djunaedi sempat memasok lengkeng leci ke supermarket. Sayang, produksi yang tidak kontinu dan kualitas buah tidak seragam membuat pasokan itu terhenti. Musababnya pekebun tidak menyeleksi buah, sudah begitu cuaca turut berpengaruh. Saat musim penghujan, lengkeng cepat busuk karena kadar air tinggi. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Andari Titisari)

FOTO:

–              Lengkeng leci diminati wisatawan dan masyarakat di Kota Batu, Jawa Timur

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *