Kopi robusta asal Indonesia diminati pasar dunia.

Kopi robusta asal Indonesia diminati pasar dunia.

Semula kopi robusta terkesan inferior dan kalah pamor dibandingkan dengan arabika. Kini beragam kopi robusta premium bercita rasa khas memasok pasar mancanegara.

Bermodal perkusi jembe dan gitar akustik, duet “10 cm” asal Korea Selatan, Kwon Jung-yeol dan Yoon Cheol-jong, melantunkan lagu berjudul Americano. Melalui lagu berdurasi 3 menit itu, keduanya mengisahkan kegemaran mereka menyesap kopi apa pun kondisinya. Saat bahagia usai berkencan, ketika kehabisan uang setelah membayar sewa rumah, atau sekadar bingung karena banyaknya pilihan menu, sajian kopi americano hitam menjadi pilihan tepat.

Dok Kopi Sulingan Penanaman kopi secara polikultur di Jatimulyo, Kulonprogo.

Dok Kopi Sulingan Penanaman kopi secara polikultur di Jatimulyo, Kulonprogo.

Lagu itu menggambarkan kegemaran masyarakat Korea Selatan mengonsumsi kopi. Salah satu kopi yang tersaji di sana adalah robusta asal Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Sejak 2016, kopi pupuan meluncur ke Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok. Buah kopi robusta itu diminati masyarakat mancanegara lantaran cita rasanya superior.

Harga tinggi

Uji cita rasa dan aroma atau cupping di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember menghasilkan skor 83. Nilai uji kopi spesialti di atas 80. Angka itu menjadikan robusta pupuan yang tumbuh di 14 desa di Kecamatan Pupuan itu tergolong kelas fine, setara kopi arabika premium kelas spesialti. “Kopi robusta pupuan menjadi juara nasional sampai 2 kali,” kata pekebun, pengolah, dan pengusaha kopi di Desa Pujungan, Pupuan, Wayan Dira.

Karakter khas kopi pupuan adalah aroma harum, adanya sedikit rasa cokelat, dan karakter body yang tipis hingga sedang. Kekhasan itu terbentuk lantaran di Pupuan tumbuh 8 klon kopi berbeda dengan ketinggian 750—900 meter di atas permukaan laut (dpl). Terjadinya penyerbukan silang antarklon memunculkan rasa unik. Penanaman secara tumpangsari dengan berbagai tanaman seperti avokad, manggis, atau kakao juga menyebabkan munculnya aroma khas yang hanya muncul di kopi pupuan.

Dok Kopi Sulingan Kopi sulingan tumbuh di lereng perbukitan Menoreh, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Dok Kopi Sulingan, Kopi sulingan tumbuh di lereng perbukitan Menoreh, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Pada Desember 2016, mereka mengajukan permohonan indikasi geografis (IG) ke Direktorat Merk dan Indikasi Geografis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Upaya itu bersambut dengan terbitnya sertifikat IG kopi robusta pupuan pada Januari 2017. Sertifikasi IG mempunyai syarat-syarat ketat. Wayan Dira dan semua pekebun kopi pupuan harus memenuhi standar cara panen dan pengolahan pascapanen sesuai anjuran dinas setempat.

Baca juga:  Bugar Sepanjang Ramadan

Semua pekebun kopi di Pupuan memetik selektif buah kopi robusta Coffea canephora yang sudah matang berkulit merah. Pengolahan pascapanen buah kopi menyesuaikan keinginan pembeli, yang menginginkan natural, honey, atau fullwash. Jumlah pekebun dan luasan tanam juga menjadi persyaratan IG. Sertifikat itu menjamin originalitas robusta pupuan. Tidak ada yang bisa mengaku menanam kopi pupuan di daerah lain.

Bagi pekebun, hal itu jelas menguntungkan. Mereka menikmati harga jual oce atau kopi beras (green bean) Rp39.000—Rp40.000 per kg. Harga robusta lain bahkan tidak sampai Rp30.000. Kini Wayan menganjurkan rekan-rekannya sesama pekebun kopi pupuan untuk menggunakan pupuk organik. “Kesuburan dan karakter tanah terjaga, hasil panen lebih berkualitas, masa produksi pohon lebih panjang,” kata Wayan.

Ramah lingkungan

Nun di Desa Kemuning, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kopi robusta tumbuh di antara pohon sengon, pisang, berbagai jenis rimpang, dan beragam pohon hutan. Sebagai penaung, pekebun di Kemuning menanam gamal dan lamtoro. Menurut salah satu pekebun kopi di Kemuning, Tumardi, kopi di sana mungkin sejak masa kolonial Belanda. Pasokan air minim menjadikan masyarakat Kemuning terbiasa memproses biji kopi secara honey alias tanpa pembilasan.

Kebiasaan unik itu, ditambah karakter habitat berketinggian 600—800 meter dpl dan penanaman tumpangsari, menjadikan rasa kopi kemuning superior. Pengujian oleh Puslitkoka Jember menghasilkan skor cupping 84. Ditambah letak Kemuning yang berbatasan dengan hutan, menjadikan lembaga perlindungan alam Javan Wildlife Institute (JaWI) menjadikan Kemuning sebagai desa binaan mereka sejak 2016. Manajer Program JaWI, Wiwid Prayoga menyatakan bahwa hutan dan kebun warga Kemuning menjadi habitat berbagai satwa liar.

Dok Javan Wildlife Instute ,Manager program JaWI, Wiwid Prayoga, memanen kopi bersama pekebun.

Dok Javan Wildlife Instute ,Manager program JaWI, Wiwid Prayoga, memanen kopi bersama pekebun.

Melalui JaWI, Yoga—panggilan Wiwid—mengusahakan agar kopi kemuning memperoleh sertifikasi Bird Friendly Coffee atau kopi ramah lingkungan. Sertifikasi itu digagas Smithsonian Migratory Bird Center (SMBC), yang merupakan bagian kebun binatang nasional Smithsonian di Amerika Serikat.

Baca juga:  Santan Seteru Asam Urat

Keragaman tanaman itu menyediakan naungan dan makanan bagi burung migran dan berbagai satwa lain, selain juga menyerap karbon. Harga kopi kemuning terbilang tinggi, mencapai Rp60.000 per kg. Menurut Yoga kopi kemuning selalu laku meskipun mahal. Sertifikasi serupa juga diupayakan Imam Taufiqurrohman, Kelik Suparno, dan Sidiq Harjanto untuk kopi sulingan dari Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Desa di lereng perbukitan Menoreh itu menyimpan tanaman kopi robusta yang lama terbengkalai. “Tinggi pohon bisa sampai 10 m sehingga panen harus dipanjat,” kata Imam. Uji cupping di Puslitkoka pada 2016 lalu menghasilkan skor 81,7 untuk hasil proses natural dan 80 untuk kopi yang diolah secara fullwash. Harga kopi sulingan fantastis, Rp20.000 per pak 100 g atau Rp200.000 per kg. Meski sangat mahal untuk ukuran robusta, kopi itu selalu laku. Maklum, desa itu juga menjadi tujuan wisata.

Dok Kopi Sulingan  Panen kopi di Jatimulyo harus memanjat karena pohon tinggi.

Dok Kopi Sulingan
Panen kopi di Jatimulyo harus memanjat karena pohon tinggi.

Menurut penggemar kopi di Jakarta dan penggagas komunitas Coffee Lovers Indonesia (CLI), Jamil Musanif, Indonesia menyimpan banyak potensi kopi kelas premium. “Variasi topografi, jenis tanah, vegetasi, dan sifat berbagai klon tanaman kopi membuat rasa kopi berbeda-beda setiap daerah,” kata Jamil. Robusta yang memiliki sertifikat IG di Kementerian Kehakiman adalah Empat Lawang asal Kabupaten Empatlawang Sumsel, Semendo (Muaraenim Sumsel), Lampung, Tambora (Tambora NTB), dan Pinogu (Bonebolango Gorontalo). Seiring tren kopi di seluruh dunia, robusta-robusta bercita rasa tinggi lain dari tanah air bakal bermunculan. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d