Legit Nian Raja Musang 1
580-H069-1

Durian musang king dari kebun Priyanto di Malang, Jawa Timur. Priyanto membanderol Rp150.000 per kg.

Durian introduksi, musang king, di Malang, Jawa Timur, berbuah perdana pada umur 3,5 tahun. Cita rasa legit, manis, dan agak pahit.

Sepongge durian musangking meluncur di rongga mulut Ahut F Hendarul. Sejurus kemudian, penggemar durian di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, itu mengulumnya hingga habis dan hanya menyisakan biji yang kempis. “Manis, creamy, dan harum khas musang king sudah muncul. Namun rasa pahit masih kurang dalam,” ujarnya. Rasa itu mengingatkan Arul—sapaan akrabnya ketika berkunjung ke Penang, Malaysia, setahun silam.

Di sana ia mencicip si raja musang langsung dari sentranya. “Yang saya cicip di Malang masih kalah dari pahit dan kedalaman rasa dibanding musang king di Penang. Kemungkinan karena umur tanaman masih muda. Namun, teksturnya lebih lengket dan legit,” ujar anggota Komunitas Maniak Durian itu. Durio zibethinus yang Arul cicip itu memang bukan dari kebun di Penang, Malaysia, melainkan dari Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Terenak di Indonesia

Priyanto membudidayakan 50 pohon musang king di lahan 7.500 m2. “Sebagian berumur 2 tahun, sebagian lagi sudah 3,5 tahun,” ujar pekebun di Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu. Pada Januari 2018, Priyanto memanen 20 buah durian musang king, rata-rata berbobot 2—2,5 kg per buah. Satu buah terdiri dari 5—6 juring. Ketika ia mengabarkan kepada rekan-rekannya sesama pencinta durian, musang king Priyanto langsung ludes terjual.

580-H070-1

Para penikmat durian dari kiri: Ahut F Hendarul, Priyanto, dan Teguh Adminto menikmati durian musang king.

Ia membanderol durian istimewa itu Rp150.000 per kg. Artinya harga sebuah durian minimal Rp300.000. “Banyak konsumen tidak kebagian duriannya karena kehabisan stok, tapi mereka rela menunggu buah lain yang sedang proses pematangan,” kata ayah dua anak itu. Ketua Yayasan Durian Indonesia, Adi Gunadi, juga mencicip tiga buah musang king dari kebun Yanto—sapaan Priyanto. “Saya kira, ini (musang king di kebun Yanto, red) salah satu musang king terenak di Indonesia,” ujar Gunadi.

Baca juga:  Anto Widi: Omzet Bisnis Yakon Rp20-Juta Sebulan

Perpaduan manis, pahit, dan legit. “Dua buah sudah ada rasa pahitnya, satu buah lagi masih belum muncul pahitnya. Tapi secara umum sudah sangat baik performa musang kingnya,” kata  penikmat durian di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu. Padahal, Priyanto panen durian ketika musim hujan. Hujan kerap mempengaruhi rasa durian. Biasanya membuat pulur buah bagian tengah agak basah dan itu mempengaruhi kepekatan atau kedalaman rasa durian.

Akibatnya, “Rasa daging buahnya jadi hambar,” ujar Adi Gunadi. Pulur tengah yang basah juga ada pada musang king dari kebun Priyanto. Namun menurut Gunadi, hal itu tidak mempengaruhi rasa durian musang king alias rasanya tetap kuat. “Kalau saya makan durian yang pulurnya basah, biasanya saya hanya makan satu pongge setelah itu saya tinggal. Nah, yang musang king ini saya makan sampai habis,” ujar Gunadi.

Menurut Gunadi jika dibandingkan dengan musang king di Malaysia, musang king di kebun Priyanto memang tidak seimbang. “Umur musangking di sentra-sentra durian Malaysia rata-rata sudah di atas 15 tahun. Agroklimatnya sangat cocok, plus perawatan yang superintensif dan mahal. Jadi wajar kualitas dan harganya istimewa,” ujar penikmat durian yang sudah mencicip musangking di 5 negara bagian di Malaysia itu.

580-H071-1

Bobot rata-rata durian musangking dari kebun Priyanto 2—2,5 kg per buah. Musang king dari kebun Priyanto berbiji kempis.

Intensif

Selain nikmat, musang king di kebun Priyanto juga unggul dari penampilan luar maupun dalam. Penampilan luar buah berbentuk lonjong sempurna, tidak bengkok-bengkok. “Tiap juring juga penuh terisi pongge plus warna daging buah yang kuning pekat. Jadi sempurna penampilannya,” ujar Arul. Menurut Arul performa musang king di kebun Priyanto sangat baik. “Tinggal tunggu pohon lebih tua lagi plus tetap dirawat intensif, musang king itu akan makin sempurna. Karena karakter pohon musang king, jika umurnya makin tua, maka rasanya akan makin ‘dalam’,” tuturnya.

Priyanto memang membudidayakan musang king secara intensif. Ia mendatangkan bibit dari rekan sesama pencinta buah di Jawa Tengah pada 2014. Saat itu bibit setinggi 1—1,2 meter hasil grafting. Mula-mula ia membuat lubang tanam berbentuk persegi dengan panjang sisi-sisinya 70 cm sedalam 70 cm. Ketika menanam bibit itu, Priyanto memasukkan pula media tanam campuran tanah dan pupuk kandang kambing perbandingan 1 : 1 sedalam 35 cm. Kemudian ia menambahkan tanah hingga lubang tanam penuh media.

Baca juga:  Terpincut Bonggol Adenia

Sebulan kemudian, lelaki kelahiran Malang itu memberikan pupuk NPK berimbang 16-16-16 sebanyak 2 sendok makan per tanaman. “Pemberian pupuk selanjutnya tiga bulan sekali dosisnya 2 sendok makan per tanaman. Setelah umur satu tahun, ia meningkatkan dosis pupuk menjadi segenggam NPK berimbang. Umur 2 tahun dan seterusnya, dosis pupuk menjadi 3 genggam,” ujar Priyanto.

Namun, saat mulai muncul bunga, ia menghentikan pemberian pupuk NPK berimbang dan mengganti dengan pupuk NPK berkalium tinggi, yaitu 13-10-30. Dosis per tanaman 75 g per 10 hari sekali. Untuk pupuk kandang kambing, ia memberikan setahun sekali saat musim kemarau. Per tanaman mendapat 2 sak pupuk kandang dengan bobot per saknya sekitar 30 kg. “Saat tanaman umur 3 tahun, dosis pupuk kandang menjadi 3 sak,” ujarnya.

580-H071-2

Pohon durian musang king Priyanto berbuah pada umur 3,5 tahun pascatanam.

Pembuktian

Untuk pengendalian hama dan penyakit, Priyanto menyemprotkan beragam pestisida di antaranya berbahan aktif profenofos, difenokonazol, dan deltametrin secara bergiliran 2 pekan sekali. “Konsentrasinya 1 ml pestisida dicampur seliter air,” ujarnya. Ia juga menyemprotkan zat pengatur tumbuh dua pekan sekali. Konsentrasinya sama dengan pestisida. Menjelang kemarau, tanaman stres dengan ciri merontokkan daun.

Priyanto membiarkannya tanpa penyiraman air selama sebulan. Selang sebulan, bunga mulai muncul dan ia segera menyiraminya plus memupuk. Saat seukuran bola tenis, ia menyeleksi buah terbaik dan menyisakan maksimal dua buah per tangkai. “Dipilih buah yang penampilannya sempurna dan tidak terserang hama,” ujar lelaki kelahiran 1981 itu. Pada Agustus 2017, sekitar 8 tanaman mulai berbunga dan pada Januari 2018, Priyanto memanen 20-an buah dari enam pohon.

Guru besar Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Sumeru Ashari, menuturkan, salah satu ciri durian introduksi sudah adaptif di daerah baru adalah proses pembungaan dan pembuahan yang sempurna. Pohon durian musang king di kebun Priyanto salah satu bukti sudah adaptif. Ketinggian lahan 500 meter di atas permukaan laut “Tinggal melihat produksi pada tahun-tahun yang akan datang. Apakah stabil atau tidak? Begitu juga dari segi rasa,” tutur Prof Sumeru.   (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *