Lasmi: Ratu Jamu Gendong 1
Bahan baku kunyit dipasok dari pekebun di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.

Bahan baku kunyit dipasok dari pekebun di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.

Jamu gendong warisan leluhur yang harus lestari.

Kesibukan selalu mewarnai sebuah bangunan sederhana di Kelurahan Kuningan Barat, Kecamatan Mampang, Jakarta Selatan. Belasan perempuan paruh baya asyik mencuci, menumbuk, dan merebus aneka rimpang seperti jahe, kencur, temulawak, dan serai. Mereka adalah anggota kelompok kerja Lestari di yang memproduksi jamu gendong. Para penjaja jamu gendong lalu memasarkan minuman kesehatan tradisional itu.

Jamu siap minum itu dikemas dalam botol-botol kaca bervolume 600 ml. Mereka mampu menjual 5.000 botol jamu per bulan. Bahan baku seperti kunyit, temulawak, dan kencur sebanyak 4 kuintal diperoleh dari pekebun di Bogor, Jawa Barat. Kelompok jamu gendong Lestari lahir dari tangan seorang perempuan tangguh bernama Lasmi. Pada 2015, ia mampu meraup untung Rp200-juta dari hasil penjualan jamu gendong.

Lasmi menekuni bisnis jamu gendong sejak 1986.

Lasmi menekuni bisnis jamu gendong sejak 1986.

Melestarikan jamu
Lasmi sudah akrab dengan dunia jamu sejak masih kecil. Maklum, ia adalah generasi ketiga dari keluarga pembuat jamu. Lasmi kecil terbiasa membantu ibunya meracik jamu. Itu sebabnya ia ingat semua resep jamu tradisional. Perempuan asal Sukoharjo, Jawa Tengah, itu menggeluti profesi tukang jamu gendong pada 1986 saat masih berusia 16 tahun. Ketika itu, ia sudah menikah dan menetap di Surabaya.

Di Kota Pahlawan ia meramu dan menjajakan jamu hasil olahannya. Pada 1993, ia dan keluarga memutuskan berpindah ke Jakarta. Di kota metropolitan itu ia melanjutkan profesinya sebagai tukang jamu gendong keliling. Ibu tiga anak itu gigih menjalani pekerjaannya hingga bertahun-tahun. Pada 2010 ia mengikuti kontes pemilihan ratu jamu gendong yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan jamu ternama.

Baca juga:  Gaharu Normalkan Gula Darah

Hasilnya di luar dugaan. Ia menyabet gelar juara ratu jamu gendong teladan. Semangat Lasmi semakin berkobar untuk menyebarluaskan jamu gendong. Lambat laun usahanya berkembang. Ia melakukan sejumlah terobosan, misalnya membuat produk jamu baru. Tujuannya agar konsumen tidak bosan. Jamu-jamu lawas seperti beras kencur, kunyit asam, dan pahitan sudah lama dikenal konsumen.

COVER 1.pdfLasmi meracik sanapis (sawi, nanas, jeruk nipis), sinom segar, dan minuman alang-alang. Keberhasilan berbisnis jamu gendong tak membuat Lasmi menepuk dada. Ia justru menularkan ilmunya kepada warga setempat. Langkah itu sebagai upaya meregenerasi tukang jamu gendong. “Jamu gendong tak boleh punah,” ujarnya. Ia mengajari teman dan kerabatnya untuk membuat dan menjual jamu gendong.

Perempuan berusia 45 tahun itu bertekad mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja. Lasmi mendirikan kelompok jamu gendong Lestari beranggotakan 30 orang. Kelompok kecil itu cikal-bakal perkumpulan jamu gendong Indonesia. Lasmi tampil sebagai ketua. Anggotanya mencapai 5.000 orang yang tersebar di seluruh tanahair. Di wilayah Jakarta saja terdapat 1.500 orang.

Membuat toga
Menurut Lasmi, “Peran perkumpulan antara lain menyalurkan bantuan seperti sepeda, botol kaca, alat penggiling, bahan baku, dan kompor gas,” ujar Lasmi. Ia sukses memandirikan lebih dari 30 kelompok jamu gendong untuk berkembang menjadi kelompok baru. Kelompok Assifa, misalnya, memperoleh pendapatan Rp1,1-juta setiap pekan. Ia memotivasi kaum wanita untuk mencintai bisnis jamu gendong.

 Lasmi (berkebaya jingga) bersama staf Kementerian Kesehatan dalam acara Bude (Bugar dengan Jamu).

Lasmi (berkebaya jingga) bersama staf Kementerian Kesehatan dalam acara Bude (Bugar dengan Jamu).

Perempuan kelahiran 1970 itu memperkenalkan aneka tanaman obat, mengajari cara sterilisasi botol, dan memasarkan produk. Di pasaran banyak beredar produk jamu siap pakai. Namun, Lasmi bergeming. Ia tetap meracik jamu dari bahan-bahan alami. Kesetiaannya menekuni usaha jamu gendong membuat Lasmi didaulat menjadi pembicara dan motivator di berbagai acara.

Baca juga:  Aral Tanaman Air

Ia pernah berbicara di hadapan mahasiswa, akademsi, petani, dan pelaku usaha. Ia aktif menularkan ilmu ke berbagai kota seperti Kendari dan Jambi. Di tangan Lasmi, profesi tukang jamu gendong tak bisa dipandang sebelah mata. Jamu produksinya sudah merambah hingga pejabat pemerintah dan kalangan atas. Kini ia berkolaborasi dengan 12 kementerian untuk menggelar acara minum jamu bersama dan bugar dengan jamu (Bude).

Kegiatan minum jamu bersama dilakukan 2 kali sepekan. Semua produk jamu besutan Lasmi diolah secara higienis dan sudah uji bukan BKO (Bukan Kimia Obat). Beragam prestasi itu membuktikan keteguhan Lasmi untuk melestarikan warisan budaya. Pada pengujung 2015, ia kembali mendapat penghargaan bergengsi Trubus Kusala Swadaya dari Yayasan Bina Swadaya, induk dari Majalah Trubus. (Andari Titisari).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *