Panen sayuran dari hidroponik substrat dengan lampu LED tabung cukup untuk makan keluarga selama sebulan.

Selada air berjajar memenuhi bak plastik berukuran 20 cm x 25 cm. Sayuran itu tumbuh di media tanam rockwool di atas netpot. Netpot-netpot itu tersusun di atas bak dengan penopang lembaran stirofoam setebal 2 cm. Lembaran itu menahan netpot agar tidak jatuh ke dalam larutan nutrisi di dalam bak. Ketinggian larutan nutrisi separuh ketinggian bak sehingga ada rongga udara agar akar dapat bernapas.

Setiap bak setinggi 15 cm itu berisi 12 tanaman. Bak-bak itu tersusun di atas rak besi karbon yang tersusun 3 tingkat dengan setiap tingkat berisi 4 bak. Dengan demikian, setiap rak berisi 12 bak dengan jumlah total 144 tanaman. Sayuran-sayuran itu berada dalam ruangan tanpa pernah terkena sinar matahari sedetik pun. Meskipun demikian, selada air tumbuh subur.

Sayuran tumbuh subur dalam ruangan. Tanpa sinar matahari, tanpa pompa air, hanya mengandalkan lampu LED.

Lampu LED Hidroponik Menyala 24 jam

Ihwal selada tumbuh subur, kuncinya adalah lampu tabung yang terletak 30 cm di atas bak. Jika sayuran di lahan terkena sinar matahari paling lama 11 jam, maka lampu tabung menyala 24 jam sebagai pengganti matahari. Artinya, sayuran itu tersinari nonstop sehingga lebih cepat tumbuh dan siap panen dalam 21 hari sejak semai.

Rak hidroponik selada air itu adalah percobaan Dr Yudi Sastro SP MP, kepala bagian Kerja sama, Pelayanan, dan Pengkajian (KSPP) Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Provinsi (BPTP) DKI Jakarta.

Penggunaan lampu LED secara komersial di pabrik tanaman sayuran hidroponik di Jepang.
Penggunaan lampu LED secara komersial di pabrik tanaman sayuran hidroponik di Jepang.

Di setiap tingkat berisi 4 bak, Yudi memasang 3 jajar lampu dengan setiap jajar terdiri dari 2 lampu sepanjang 60 cm. Itu semata-mata lantaran ia salah membeli lampu. “Sebenarnya di gerai pasar modern ada lampu tabung sepanjang 120 cm,” kata Yudi.

Jika menggunakan lampu panjang, maka setiap tingkat hanya memerlukan 3 lampu. Teknologi lampu tabung yang Yudi gunakan selangkah lebih maju daripada lampu tabung konvensional, yang lazim disebut neon.

Ia menggunakan lampu tabung berteknologi light emitting diode (LED) yang awet dan irit. Setiap lampu sepanjang 60 cm itu menyerap daya listrik sebesar 8 watt per jam sehingga total daya listrik setiap rak dengan 3 tingkat adalah 144 watt per jam. Jika lampu menyala selama 24 jam sehari 7 hari sepekan, maka konsumsi daya selama 21 hari masa produksi adalah 72,58 kWh.

Harga listrik dari jaringan umum Rp800 per kWh (2015) sehingga biaya listrik setiap rak 3 tingkat selama 1 siklus hanya Rp58.060 (2015). Menurut Ir Etty Herawati MSi, kepala BPTP DKI Jakarta, hidroponik dalam ruangan itu tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi rumahtangga kecil dengan 4 anggota keluarga. “Setiap tingkat rak berisi 4 bak cukup untuk konsumsi seminggu,” kata Etty.

Baca juga:  Bertingkat Lalu Tamat?
Dr Yudi Sastro SP MP (kanan) dan Ir Etty Herawati MSi mengembangkan teknologi hidroponik sederhana.
Dr Yudi Sastro SP MP (kanan) dan Ir Etty Herawati MSi mengembangkan teknologi hidroponik sederhana.

Dengan demikian setiap rumahtangga idealnya memiliki 1 rak dengan 4—5 tingkat atau 16—20 bak tanam untuk memenuhi kebutuhan sebulan. Jika menanam di rak dengan 5 tingkat selama 30 hari, maka pertambahan biaya listrik setiap bulan adalah Rp173.000 (2015). Ditambah benih dan media tanam, biayanya berkisar Rp200.000 (2015) per bulan. Mahal? “Untuk sayuran segar, baru, dan bebas pestisida, harga itu sangat murah,” kata Etty.

Lebih murah

Etty mengasumsikan biaya belanja sayuran rumah tangga minimal Rp10.000 per hari atau Rp300.000 per bulan. Dengan menanam sayuran hidroponik dalam ruangan, setiap rumahtangga menghemat minimal Rp100.000 per bulan. Menurut Yudi kelebihan LED tabung adalah memberikan sinar minus panas. “Proses fotosintesis tanaman membutuhkan cahaya, bukan panas,” kata sarjana alumnus Jurusan Agronomi Universitas Bengkulu itu.

 Sumbu dari bahan rumbai pengepel.
Sumbu dari bahan rumbai pengepel.

Ia lantas mencoba menggunakan lampu LED tabung komersial yang tersedia di toko-toko lampu dan gerai pasar modern. Lantaran bertujuan memberikan percontohan bagi masyarakat awam, Yudi pun menggunakan sistem hidroponik paling sederhana, yaitu hidroponik substrat. Semula ia meniupkan udara menggunakan aerator akuarium.

Ternyata kecepatan tumbuh dan kualitas hasil antara sistem substrat dengan rakit apung sama. Saat wartawan Trubus Ian Purnamasari mengunjungi kantor Yudi dan Etty di Ragunan, Jakarta Selatan, selang dan aerator masih terpasang tetapi tidak difungsikan lagi. Kelebihan lain sistem substrat adalah praktis dan bebas perawatan karena tidak menggunakan pompa atau jaringan selang.

Setiap tingkat rak menggunakan 3 jajar lampu LED tabung.
Setiap tingkat rak menggunakan 3 jajar lampu LED tabung.

Sudah begitu, peralatan itu sangat awet. Bak plastik, stirofoam, dan rak bisa digunakan ribuan kali. “Mungkin yang paling cepat rusak adalah lampu, tetapi jenis LED mempunyai umur pakai hingga 40.000 jam atau hampir 5 tahun,” kata Yudi. Bahan yang harus diganti setiap penanaman baru hanya benih dan media tanam. Lantaran terletak dalam ruangan yang bebas sinar matahari, sistem itu juga tidak ditumbuhi lumut.

Agar tidak bosan, ragam sayuran yang ditanam bisa bervariasi. “Bisa menanam bayam, kangkung, atau berbagai jenis selada, yang penting masa panennya tidak lebih dari sebulan,” ujar Etty. Kelebihan bayam atau kangkung adalah sekali tanam bisa panen hingga 3 kali karena hanya diambil daunnya. Jenis selada hanya bisa panen sekali karena ketika panen seluruh bagian tanaman diambil.

Jika menggunakan media tanam rockwool, penanaman berikutnya harus menggunakan media tanam baru. Kelebihan media tanam asal pembekuan batu cair itu adalah mampu menyimpan air. Penggunaan media yang mampu menyerap air dalam sistem rakit apung sifatnya wajib. Pasalnya, tidak ada pergerakan cairan nutrisi sehingga tanaman hanya mengandalkan daya serap akar dan media tanam.

Semai sampai panen

Penanaman di rak hidroponik rumahtangga itu berlangsung sejak semai sampai panen. “Setiap bak plastik ditanami berturutan setiap hari sehingga panen juga berturutan,” kata Yudi Sastro. Saat benih baru disemai, cairan nutrisi diserap oleh media tanam melalui sumbu. Yudi menggunakan sumbu dari kain pengepel lantai yang mudah diperoleh di kios pasar tradisional.

Baca juga:  Piraweh Ampalu: Buah Jambu Biji Merah Unggulan
Kit PFAL kreasi periset Chiba University, Jepang.
Kit PFAL kreasi periset Chiba University, Jepang.

“Gunakan yang baru jangan bekas pakai. Bisa juga menggunakan sumbu kompor,” kata pria kelahiran Bengkulu itu. Rumbai pel itu murah, awet dan bisa digunakan berkali-kali. Namun menurut Ir Kunto Herwibowo, praktikus hidroponik di Pondokcabe, Tangerang Selatan, sumbu kompor tidak bertahan lama jika digunakan dalam sistem hidroponik.

“Sumbu kompor akan cepat rusak oleh larutan nutrisi yang mempunyai partikel besar,” kata pemilik Kebun Hidroponik’koe itu.

Partikel larutan nutrisi berukuran besar karena banyak mengandung senyawa kimia kompleks seperti EDTA. Namun, pemakaian larutan nutrisi hal wajib dalam sistem budidaya hidroponik dalam ruang. Untuk menyokong pertumbuhan sayuran daun, Yudi menggunakan larutan nutrisi dengan konsentrasi 0,5 mS. Ia meracik sendiri larutan nutrisi A dan B dengan bahan-bahan dari toko kimia.

Hidroponik sistem NFT dengan LED di Pusat Pengetahuan Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat.
Hidroponik sistem NFT dengan LED di Pusat Pengetahuan Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat.

“Sekilogram racikan A dan B cukup untuk membuat 1.000 l larutan nutrisi,” kata Yudi. Seliter cairan nutrisi per bak plastik bisa untuk 2—3 kali penanaman sehingga setiap menanam hanya membutuhkan maksimal 10 liter larutan nutrisi. Dengan demikian, sekilogram pupuk AB bisa untuk 100 kali menanam. “Sangat ekonomis,” kata Yudi.

Sederhana

Penggunaan LED sebagai sumber cahaya buatan untuk penanaman dalam ruangan bukan barang baru. Gedung Pusat Pengetahuan Universitas Tarumanagara pernah melakukan hal serupa dengan menggunakan growlight alias lampu khusus berwarna merah dan biru dan mengadopsi sistem narrow film technique (NFT). Namun, sistem NFT lebih rumit lantaran harus memperhitungkan debit air.

Sistem itu juga memerlukan pompa untuk menaikkan cairan nutrisi dari penampungan. Sudah begitu, harga growlight juga jauh lebih mahal ketimbang lampu LED tabung. Nun di Jepang, hidroponik dalam ruangan dengan memanfaatkan lampu LED sudah diterapkan secara komersial.

Petani modern menanam sayur daun secara hidroponik NFT di bangunan tertutup mirip pabrik dengan LED sebagai pengganti sinar matahari. Mereka menyebutnya pabrik tanaman bercahaya buatan (plant factory with artificial lights, PFAL).

Sayuran hasil penanaman di kit hidroponik rumah tangga di BPTP DKI Jakarta.
Sayuran hasil penanaman di kit hidroponik rumah tangga di BPTP DKI Jakarta.

Saat mengunjungi Negeri Matahari Terbit itu pada September 2014 lalu, wartawan Trubus Evy Syariefa melihat PFAL komersial di kawasan industri. Ada juga PFAL mini untuk para pehobi yang dipajang di pusat perbelanjaan, hotel, restoran, perpustakaan, bahkan rumahsakit.

Setiap kit dilengkapi pengukur parameter yang terhubung secara daring (online) ke gawai masing-masing pemilik. Setiap saat pemilik kit bisa berkonsultasi dengan konsultan teknologi hidroponik, produsen kit, dan sesama pehobi.

Kit hidroponik dalam ruangan kelas rumahtangga hasil percobaan Yudi Sastro tidak banyak melibatkan teknologi tinggi yang rumit. Teknologi yang ia libatkan hanya lampu LED tabung yang merupakan teknologi lampu terbaru. Selebihnya sederhana dan praktis. Yudi sukses membuktikan bahwa teknologi tinggi bisa dipadukan dengan cara sederhana untuk memenuhi kebutuhan nutrisi rumahtangga secara murah, mudah, praktis, dan higienis.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d