Lakor Kambing Tangguh 1
Kambing asal Pulau Lakor berperan penting memajukan ekonomi rakyat di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

Kambing asal Pulau Lakor berperan penting memajukan ekonomi rakyat di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

Kambing lakor adapatif di daerah dengan sumber pakan terbatas. Tahan penyakit.

Kambing lakor merupakan kambing lokal di Pulau Lakor, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku. Sebagai ternak lokal yang berkembang hingga puluhan generasi, kambing lakor mampu beradapatasi dengan iklim dan lingkungan setempat. Itulah sebabnya karakteristik kambing lakor sangat khas. Ia mampu bertahan hidup dengan pakan berkualitas rendah, mudah beradaptasi dengan iklim setempat, serta daya tahan yang tinggi terhadap penyakit dan parasit lokal.

Keunggulan genetik itu berpotensi untuk perbaikan kualitas kambing di Indonesia. Upaya perbaikan mutu kambing melalui persilangan berbagai jenis kambing berkualitas tinggi. Ketika Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan 2014 di Malang, kambing lakor sebagai juara harapan satu pada ekspo peternakan. Pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2912/Kpts/OT.140/6/2011 menetapkan kambing lakor sebagai salah satu rumpun kambing lokal Indonesia asal Maluku pada 2011.

Pulau kering
Ciri khas kambing lakor berwarna tubuh kombinasi warna polos dan belang putih kehitaman. Bagian kepala dominasi warna hitam dan belang putih dengan warna sekitar mata umumnya hitam serta memiliki garis muka melengkung. Warna telinga mengikuti warna tubuh dominan dengan bentuk panjang dan menggantung. Kambing jantan dan betina bertanduk dengan ukuran kecil sampai sedang mengarah ke atas dan ke belakang.

Kambing lakor jantan pada umur 3 tahun berbobot rata-rata 80 kg, sedangkan betina 46 kg. Tinggi pundak pejantan 86 cm dan betina 81 cm. Panjang tubuh kambing lakor jantan 91 cm dan betina 86 cm. Sistem produksi ternak kambing di Pulau Lakor pada umumnya sistem pastoral. Para peternak mengeluarkan kambing dari kandang pada pukul 09.00 untuk digembalakan sampai pukul 17.00. Setelah itu peternak mengandangkan kembali.

Baca juga:  Tumbuh Besar dari Trotoar

541_ 40-2Ada juga peternak yang menggembalakan kambing pada pagi pukul 09.00—12.00 kemudian mengandangkan kembali. Kemudian peternak itu menggembalakan lagi pada pukul 15.00—17.00. Selama penggembalaan berlangsung, semua proses perkawinan ternak dan makan berlangsung secara alami. Peternak menyediakan kebutuhan air minum bagi kambing karena kondisi Pulau Lakor cukup kering, apalagi saat kemarau.

Penduduk setempat membuat kandang kambing dari susunan batu karang di padang penggembalaan yang disebut lutur. Dalam bahasa Lakor lutur berarti pagar batu. Para peternak membuat lutur berbentuk lingkaran dengan tinggi 1,5—2 m dan diameter
20—25 m. Susunan batu karang berfungsi sebagai dinding kandang kambing dan sebagai pagar untuk melindungi tanaman pangan dari serangan ternak.

Kemarau
Lutur untuk kandang kambing dan tanaman pangan pada umumnya digabung. Posisi lutur kandang kambing di bagian tengah dari lutur tanaman pangan. Tujuannya agar mempermudah menampung kotoran ternak sebagai pupuk organik bagi tanaman pangan yang diusahakan. Penggunaan lutur sebagai kandang kambing hanya berlangsung pada musim hujan, sedangkan pada kemarau ternak kambing dipelihara secara bebas untuk merumput di padang penggembalaan alami yang ada.

Meski pemeliharaan kambing lakor masih ekstensif, produksi cukup tinggi. Sebab kambing lakor memiliki sifat reproduksi induk yang baik, yakni angka kebuntingan 97% dan angka kelahiran 134%. Kelahiran tunggal 33% dan kelahiran kembar dua 66%. Populasi kambing lakor pada 2013 mencapai 17.649 ekor. Dengan adanya produksi ternak yang tinggi, populasi ternak kambing di Pulau Lakor juga berkembang baik.

Itu berdampak pada tingkat penjualan ternak yang juga cukup tinggi. Pemasaran kambing lakor dalam bentuk ternak hidup melalui sistem perdagangan antarpulau. Alat transportasi utama dalam perdagangan ternak adalah kapal perintis dan kapal feri. Pemasaran kambing lakor mencapai Ambon, Kupang, Timor-Timur, Tual, Saumlaki, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Kapal perintis milik Pemda Provinsi Maluku alat transportasi andalan untuk kegiatan ekonomi termasuk perdagangan antarpulau

Kapal perintis milik Pemda Provinsi Maluku alat transportasi andalan untuk kegiatan ekonomi termasuk perdagangan antarpulau

Lakor diduga peranakan ettawa (PE) yang didatangkan oleh para saudagar Arab ke Maluku sebelum penjajahan Belanda di Indonesia. Cerita yang berkembang di masyarakat Pulau Lakor saat itu pedagang Arab melakukan pertukaran barang antara kambing yang mereka bawa dengan air tawar dari daratan Pulau Lakor untuk keperluan logistik selama pelayaran. Pertukaran barang sebuah kebiasaan pedagang Arab yang lazim dilakukan selama masa perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku.

Baca juga:  Amat Banyak Aral Avokad

Kambing yang ditukar dengan air minum, kemudian dipelihara oleh penduduk Pulau Lakor dan berkembang hingga kini. Menurut Dinas Pertanian Provinsi Maluku, wilayah sebaran geografis kambing lakor yakni Pulau Lakor sebagai pusat sebaran, Pulau Moa, Kisar, Tepa, dan Leti. Kambing lakor sebagai kekayaan sumberdaya genetik ternak lokal Indonesia perlu dilindungi, dilestarikan, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Keberadaan kambing itu perlu dilindungi dan dilestarikan sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia untuk merakit varietas unggul. Tujuannya memperoleh keturunan yang lebih produktif. Dalam jangka panjang diharapkan mendukung keragaman pangan, pertanian, dan budaya, serta lebih efektif dalam mencapai tujuan ketahanan pangan lokal. (Ir Jerry F. Salamena, MSi dosen Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura dan Isak P. Siwa, SPt MP, konsultan ahli SDGH Dinas Pertanian Provinsi Maluku)

Posisi pulau Lakor strategis untuk perekonomian karena berada di antara Pulau Timor dan Papua

Posisi pulau Lakor strategis untuk perekonomian karena berada di antara Pulau Timor dan Papua

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments