Padi inpari 43 agritan GSR berumur genjah, panen umur 111 hari.

Padi inpari 43 agritan GSR berumur genjah, panen umur 111 hari.

Berproduksi tinggi dan adaptif terhadap perubahan iklim global adalah keunggulan padi varietas terbaru.

Kuswanto sangat bahagia lantaran memanen 7,5—8 ton gabah kering giling (GKG) pada Juli 2017 dari lahan satu hektare. Saat itu harga gabah Rp4.200 sehingga ia memperoleh omzet Rp33 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi Rp20 juta, maka Kuswanto menangguk untung Rp13 juta. Pada September 2017 ia menuai 8—8,5 ton GKG sehingga mengantongi omzet Rp35 juta—Rp36 juta.

Hasil panen itu lebih tinggi dibandingkan dengan hasil panen petani lain di Cilacap, Jawa Tengah. Mereka rata-rata hanya memanen 6 ton GKG per hektare dan mendapat omzet Rp24 juta—Rp25 juta. Produksi padi milik Kuswanto meroket 40% setelah mengganti varietas padi dari semula ciherang menjadi inpari 42 agritan green super rice (GSR) dan inpari 43 agritan GSR.

Produktif
Selain berproduksi lebih tinggi, inpari 42 dan 43 agritan GSR pun relatif tahan serangan wereng. Buktinya Kuswanto masih bisa memanen 60 kuintal GKG saat terjadi ledakan wereng cokelat di berbagai daerah seperti Karawang (Jawa Barat), Cilacap dan Kebumen (Jawa Tengah) pada 2017. Ketika itu petani lain banyak yang gagal panen lantaran padi terserang serangga kecil itu.

Padi inpari 42 agritan GSR menghasilkan 8—8,5 ton per hektare.

Padi inpari 42 agritan GSR menghasilkan 8—8,5 ton per hektare.

Keunggulan lain, kedua varietas anyar Oryza sativa itu juga tahan terhadap penyakit seperti blas dan hawar daun bakteri (HDB). Potensi hasil kedua varietas itu sekitar 10 ton per hektare. “Hasil panen bisa lebih tinggi jika kondisi lingkungan lebih optimal,” kata pria yang menanam padi sejak 2000 itu.

Hasil panen inpari 42 dan 43 agritan GSR juga tetap tinggi meski petani hanya memberikan 75% pupuk dari dosis rekomendasi. Masing-masing varietas itu menghasilkan 5,2 ton/ha dan 6,71/ha. Hasil panen itu lebih tinggi ketimbang jenis lain, seperti ciherang yang hanya memproduksi 4,7 ton/ha. Peneliti padi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Subang, Jawa Barat, Dr. Untung Susanto, S.P, M.P., mengatakan produksi kedua padi itu lebih baik karena memiliki perakaran dalam sehingga mampu menyerap air dan hara yang lebih dalam.

Baca juga:  Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional

Kemampuan itu berguna ketika musim kemarau. Itulah sebabnya kedua varietas padi itu mampu berproduksi tinggi di lahan dengan kondisi suboptimum seperti kekeringan dan kebanjiran alias bersifat amfibi. Budidaya kedua varietas anyar itu pun menguntungkan karena penggunaan pestisida, pupuk kimia, dan air berkurang. Lihat saja pengalaman Kuswanto yang kini hanya mengandalkan 1 liter pestisida pembasmi serangga seperti wereng. Ia juga menghemat biaya pupuk karena dosis pupuk berkurang. Kuswanto memberikan pupuk NPK mutiara dan Phonska berdosis masing-masing 400 kg per hektare pada musim tanam (MT) I. Pada musim tanam II pemberian pupuk berkurang menjadi 300 kg per hektare.

Genjah
Kuswanto juga memanen inpari 42 agritan GSR lebih cepat, yakni pada umur 112 hari setelah tanam (HST) dan inpari 43 agritan GSR 111 HST. Adapun varietas lain seperti ciherang baru bisa dipanen pada umur 120 HST. Menurut Untung sosok kedua varietas itu hampir sama. Bedanya inpari 42 agritan GSR lebih tinggi dan tegak dibandingkan inpari 43 agritan GSR. Malai kedua varietas itu lebat dan berada di tengah daun bendera sehingga terhindar dari serangan burung.

Untung Susanto, S.P, M.P., peneliti padi inpari GSR.

Untung Susanto, S.P, M.P., peneliti padi inpari GSR.

Rendemen padi kering giling inpari 42 dan 43 agritan GSR tinggi mencapai 70%. Artinya, jika petani memanen 100 kilogram padi maka hasilnya 70 kilogram GKG. Derajat pengapuran pun rendah sehingga penampilan beras lebih bening seperti kristal. Salah satu anggota tim peneliti inpari GSR, Dr. Ir. Satoto, MS., menuturkan cita rasa nasi kedua varietas itu pulen sehingga disukai masyarakat Indonesia.

Menurut Untung perakitan kedua varietas GSR itu dilakukan di Chinesse Academy for Agricultural Sciences (CAAS), Beijing, Tiongkok. Pada 2009 sebuah lembaga sosial yang dipelopori Bill Gates, Bill and Melinda Gates Foundation, bekerja sama dengan pemerintah Tiongkok memberikan bantuan untuk menguji galur-galur GSR di benua Asia dan Afrika. Upaya itu sebagai bentuk amal kepada negara-negara tropis dunia seperti Indonesia. Perakitan kedua varietas itu juga hasil kolaborasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian dengan International Rice Research Institute (IRRI).

Baca juga:  Domba Lokal 180 Kg

Untung menuturkan kedua varietas itu telah teruji di beberapa lokasi di Indonesia, seperti Indramayu, Bandung, Purwakarta, Subang, dan Cianjur (Jawa Barat), serta Bantul (Yogyakarta), Malang (Jawa Timur), dan Bali. Keduanya bahkan sudah ditanam di mancanegara, seperti India, Bangladesh, Filipina, dan Kamboja. (Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d