Bambang Istiawan mengubah lahan tandus dan gersang seluas 25 hektare menjadi hutan. Ia menolak tawaran pengembang yang akan membeli lahan itu ratusan miliar rupiah.

Pohon matoa Pometia pinnata tumbuh di hutan organik.

Pohon matoa Pometia pinnata tumbuh di hutan organik.

Pohon-pohon damar atau rasamala berukuran dua pelakukan orang dewasa menjulang tinggi di hutan itu. Setidaknya 54 spesies pohon menghijaukan hutan di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seluas 25 hektare. Di beberapa titik terdapat sumber mata air yang tak pernah kering meski kemarau panjang. Warga Cipendawa, Kecamatan Megamendung, yang tinggal di sekitar hutan merasakan manfaat keberadaan hutan.

Hutan lebat itu “mengundang” beragam satwa antara lain tupai, aneka burung, dan rusa. Padahal, 15 tahun sebelumnya lahan marginal itu amat memprihatinkan. Tandus, kerontang, tak ada sumber air. “Tujuh puluh persen lahan ditumbuhi alang-alang, pH tanah hanya 2,5—4, mata air mati, tak ada cacing,” kata Bambang Istiawan yang membeli lahan pada 2000 mengenang. Ia pernah menggali tanah hingga 40 meter, tetapi air belum juga keluar.

Lahir mata air

Perkembangan lahan tandus menjadi hutan organik. Foto atas diambil pada 2002, foto bawah, 2009.

Perkembangan lahan tandus menjadi hutan organik. Foto atas diambil pada 2002, foto bawah, 2009.

Lokasi itu hanya sebagian kecil dari lahan marginal di Indonesia. Bambang mengutip data Pusat Perpetaan Kehutanan, Badan Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan yang menyebutkan bahwa total lahan kritis di seluruh Indonesia pada Mei 2002 mencapai 96,30-juta hektare. Lahan 25 ha yang kini dikelola Bambang itu bekas hak guna usaha seorang pengusaha besar yang mengembangkan ayam dan teh.

Bambang Istiawan mencoba menghijaukan lahan kritis itu dengan menanam total 40.000 bibit beragam spesies antara lain avokad, jati, kayu afrika, dan mahoni. Namun, upaya Bambang gagal. Beragam jenis pohon itu gagal tumbuh. Pria 62 tahun itu tak putus asa. Bambang kembali menanam ribuan bibit setahun berselang pada Agustus 2001. Ia membuat lubang tanam lebih besar hingga 50 cm dan membenamkan hingga 0,5 m³ pupuk kandang per lubang tanam. Pada penanaman pertama ia menggali lubang sesuai ukuran polibag.

Kayu afrika Maesopsis eminii spesies cepat tumbuh, akar kuat mencegah erosi, dan sumber pakan ternak.

Kayu afrika Maesopsis eminii spesies cepat tumbuh, akar kuat mencegah erosi, dan sumber pakan ternak.

Penanaman kedua di lahan 13 ha itu berhasil, bibit tumbuh. Itulah sebabnya ia kembali menanam beragam bibit seperti sungkai, gamal, kayu afrika, dan damar di lahan lain seluas 12 ha. Populasinya 600 bibit per ha atau total 7.200 bibit. Bambang menanam pohon afrika Maesopsis eminii di lahan yang miring. Di lokasi itu terdapat lahan berkeimiringan 15 derajat hingga 80 derajat.

Baca juga:  Telomoyo Kembali Hijau

Penanaman itu membuahkan hasil. Aneka spesies tumbuh menjulang. Perlahan-lahan hutan mulai terbentuk. Mata air yang semula mati dalam 10 tahun, muncul kembali 4 tahun setelah penanaman beragam pohon atau pada 2005.
Anak bungsu Bambang, Yuhan Subrata, yang memandu Trubus menyusuri hutan mengatakan, mata air tak pernah kering sepanjang tahun. Menurut Bambang densitas populasi pohon sangat mempengaruhi produksi mata air. Bambang mengatakan, “Di lokasi hutan dengan populasi di atas 1.200 pohon per hektare, mata air tetap berproduksi normal walaupun tidak hujan selama 100 hari.

Bambang Istiawan memeluk pohon afrika. Ia menghijaukan lahan tandus di Blok S Cipendawa, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Bambang Istiawan memeluk pohon afrika. Ia menghijaukan lahan tandus di Blok S Cipendawa, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ia membandingkan dengan lokasi dengan populasi 600 pohon per hektare. Di lokasi itu mata air tidak berproduksi sama sekali setelah 44 hari tidak hujan. Oleh karena itu ia menyarankan rehabilitasi lahan kritis sebaikya lebih dari 1.200 pohon per hektare.

Zonasi hutan
Keberhasilan Bambang menghutankan lahan kristis antara lain berkat penerapan strategi tumpangsari untuk merawat pohon-pohon itu. Di sekitar penanaman bibit, ia membudidayakan beragam komoditas sayuran seperti tomat, labu siam, terung, dan selada. Untuk itu ia melibatkan masyarakat di sekitar hutan untuk bercocok tanam. Mereka akan menyiangi gulma dan memberi pupuk memadai agar dapat menuai tanaman hortikultura.

Menurut Bambang dengan merawat sayuran, mereka juga secara tidak langsung merawat beragam pohon. Selain itu Bambang juga membudidayakan kambing sebagai sumber pupuk kandang. “Peternakan hewan sebagai sumber pupuk organik untuk mendukung kegiatan rehabilitasi ekosistem, akan memberikan nilai ekonomi yang potensial,” kata Bambang. Ia mulai membudidayakan sepasang kambing pada 2003. Populasinya terus meningkat hingga kini 33 ekor campuran kambing dan domba.

Agroforestri atau tumpangsari di area hutan organik sekaligus merawat pepohonan, terutama pada awal penanaman.

Agroforestri atau tumpangsari di area hutan organik sekaligus merawat pepohonan, terutama pada awal penanaman.

Ayah dua anak itu membiayai sendiri upaya untuk menghijaukan lahan kritis. Untungnya istrinya, Rosita Istiawan dan kedua anaknya mendukung upaya Bambang. “Keprihatinan kami terhadap semakin meluasnya lahan kritis, semakin membulatkan tekad untuk lebih serius dalam membuat hutan. Keyakinan kami hutan adalah solusinya,” kata Bambang. Hasil penelitian hidrologi membuktikan, kawasan itu tidak dilalui oleh urat air.

Baca juga:  Tanam Tiram Organik

Setelah satu setengah tahun penanaman pohon terlihat tanda berfungsi kembali mata air yang telah mati. Hingga kini mata air tetap berfungsi seiring dengan pertumbuhan pohon. “Mata air berfungsi kembali karena vegetasi,” ujar Bambang. Selama 15 tahun membangun hutan ekosistem, Bambang menyimpulkan bahwa rehabilitasi lahan kritis melalui proses penghutanan adalah cara terbaik untuk mengembalikan kesuburan lahan.

Lantai hutan tertutup beragam tanaman.

Lantai hutan tertutup beragam tanaman.

Sementara itu tumpang sari cara terbaik untuk percepatan pertumbuhan pohon sekaligus menyejahterakan pelakunya dan menghemat biaya. Bambang membagi total hutan 25 hektare menjadi tiga wilayah, yakni area konservasi, ekonomi, dan utilitas. Area konservasi di lokasi sekitar mata air dengan luas 6 hektare terdiri atas 15.000 pohon hasil penanaman pada 2001–2006. Itu zona terlarang melakukan kegiatan apa pun kecuali kegiatan konservasi.

Adapun zona ekonomi seluas 4 hektare terdiri atas 5.000 pohon hasil penanaman pada 2003–2009. Area itu merupakan zona kegiatan pertanian tumpangsari dengan beragam komoditas tanaman sayuran dan perkebunan seperti kopi, lada, dan vanili. Zona utilitas seluas 2 hektare terdiri atas 2.500 pohon hasil penanaman pada 2003–2006. Area itu merupakan seluruh bangunan pendukung kegiatan percobaan. Total luas bangunan 500 m² berupa ruang pertemuan, hunian, dan kamar bagi tamu yang menginap.

Incaran pengembang

Akar wangi Andropogon zizanioides salah satu pencegah erosi yang andal. Akar kuat dan tebal hingga mencengkeram tanah sedalam 8 meter.

Akar wangi Andropogon zizanioides salah satu pencegah erosi yang andal. Akar kuat dan tebal hingga mencengkeram tanah sedalam 8 meter.

Bambang Istiawan berhasrat membangun hutan—ia menyebutnya hutan organik—demi impiannya. Ketika melakukan relokasi warga di tepi hutan di Kalimantan Timur ia mengagumi keelokan hutan alam. “Hawanya lebih enak, semuanya lebih nyaman,” kata Bambang. Ketika itu pada 1970-an ia nekad tinggal di hutan dan menghentikan pengiriman logistik untuk konsumsi sehari-hari. Sebagai gantinya ia memasak sendiri dan menangkap ikan di sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

Hutan Kalimantan pada saat itu masih terjaga. Ketika itulah Bambang bermimpi, jika pensiun kelak ingin tinggal di tepi hutan. Ia berjuang mewujudkan impian masa mudanya itu. Kini hutan itu terwujud, ia menghuni sebuah bangunan di dalamnya. Suasana amat tenang, sejuk. Ketika pagi itu pukul 06.10 Trubus tiba di hutan organik, terdengar suara serangga bak orkestra yang menenteramkan jiwa.

Mata air yang 10 tahun mati, muncul kembali setelah penanaman beragam pohon.

Mata air yang 10 tahun mati, muncul kembali setelah penanaman beragam pohon.

Saking cintanya pada hutan, Bambang Istiawan berpesan agar 12 hektare hutan tidak akan diwariskan kepada anaknya. Ia ingin agar hutan itu tetap lestari. Itulah sebabnya ia bersikeras menolak tawaran dua pengembang besar yang menawar lokasi itu dengan harga miliaran rupiah. Oleh para pengembang hutan itu bakal bersalin rupa menjadi hunian atau vila. Bambang memilih mempertahankan hutan dan terus menikmati masa pensiun di tepi hutan sebagaimana impiannya dahulu. (Sardi Duryatmo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d