Ladang Mutiara

Ladang Mutiara 1
Eka Budianta*

Eka Budianta*

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mendapat gelar doktor honoris causa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Pidato pengukuhannya berjudul “Mempertahankan Keberlanjutan Peningkatan Produktivitas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Indonesia.” Itu adalah gelar doktor kedua setelah yang diberikan Universitas Diponegoro, Semarang, pada Desember 2016 genap setahun yang lalu.

Apa istimewanya sehingga dalam setahun Susi Pudjiastuti mendapat dua gelar doktor honoris causa?  Susi melakukan yang sesuai dengan visi pemerintah untuk menjadikan laut sebagai sumber pangan masa depan. Ia berjuang agar pasokan ikan tetap terjamin dan laut berfungsi optimal sebagai sumber kehidupan.  Agromaritim, pertanian laut, tentu masuk dalam pikiran dan diperjuangkan terus dalam tindakan.

Ikon bangsa
Desember sebaiknya dijadikan bulan kelautan.  Enam puluh tahun silam, pada 13 Desember 1957, dicanangkan deklarasi Djuanda bahwa tiga perempat wilayah Republik Indonesia merupakan laut sebagai sumber kemakmuran dan kedaulatan.  Presiden Abdulrachman Wahid mengingatkan hal itu.  Lantas mulai 2001, Presiden Megawati mencanangkan 13 Desember sebagai Hari Nusantara.

Sepantasnya dirayakan sebagai hari nasional dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pertemuan negara-negara Asia Pasifik (APEC) di Da Nang, Vietnam,  Presiden Joko Widodo pun mengedepankan pentingnya pembangunan ekonomi kelautan.  Mulai dari jasa kelautan, industri maritim, sampai budidaya pangan laut.  Peran laut sebagai sumber mineral dan farmasi juga didorong sebaik-baiknya. Contoh tindakan yang segera ditempuh adalah pembukaan ladang-ladang garam baru maupun intensifikasi ladang garam lama.

Sementara itu budidaya mutiara laut selatan sedang diupayakan menjadi ikon bangsa. Sejak 2015 Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) memformulasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).  Bagi pekerja di bidang budidaya mutiara, standar kompetensi penting dan sejalan dengan program Masyarakat  Ekonomi Asean (MEA).

Mutiara hasil budidaya kerang yang dikelola oleh PT Cendana Indopearls di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

Mutiara hasil budidaya kerang yang dikelola oleh PT Cendana Indopearls di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

SKKNI juga diperlukan untuk menyaring tenaga ekspatriat yang selama ini lebih dominan dalam menggarap potensi mutiara kita. Bisnis mutiara laut selatan (south sea pearl) sudah dimulai sejak 1920.  Karena pemodal dan pemainnya didominasi perusahaan asing, Indonesia hanya mendapat nama. Keuntungan dan keahlian masih dimiliki bangsa-bangsa lain. Oleh karena itulah, Jokowi ingin mengirim tenaga ahli mutiara kita ke Jepang.

Baca juga:  Ikan Cupang Halfmoon dan Serit (Crowntail)

Mutiara laut selatan dalam proyeksi diharapkan dapat menyaingi mutiara hitam dari Tahiti.   Pengamat bisnis mutiara, N. Gustaf F. Mamangkey, berkata, “Jepang terkenal dengan diamond policy yang mempelitkan diri berbagi ilmu, karena diatur oleh kesepakatan nasionalnya.” Menurut Gustaf Bisnis mutiara Indonesia menggunakan kerang Pinctada maxima yang ukurannya besar dengan cara spesifik.

Sementara anak Indonesia di Jepang mempelajari hal serupa pada kerang kecil Pinctada imbricata (P. fucata) yang memiliki anatomi sedikit berbeda.  Oleh karena itu dia mengusulkan agar pemerintah membuat regulasi permutiaraan Indonesia termasuk dengan penerapan kualitas mutiara layak ekspor yang ketat sehingga bisa “memaksa” pembudidaya menghasilkan mutiara pasaran dunia yang bernilai tinggi.

Risiko tinggi
Akhir tahun begini, sedang terjadi obral mutiara besar-besaran.  Tengok saja katalog kalung mutiara laut selatan yang diedarkan dealer Miss Joaquim Pearl. Kalung besar mutiara laut selatan yang biasanya dibanderol US$15.000 harganya dicoret sampai di bawah US$12.000– sekitar Rp150 juta.  Adapun kalung kecil yang biasanya berkisar US$7.000 turun sampai  US$ 4.000-an.

Teknologi penanaman mutiara semakin berkembang. Pertumbuhan kerang mutiara perlu waktu dua sampai lima tahun. Sukses ladang mutiara tergantung pada faktor ketrampilan manusia dan keberuntungan yang diberikan oleh alam.  Bisa saja dari beribu-ribu kerang yang diternakkan mendadak hancur seluruhnya bila air laut terkena pencemaran, perubahan suhu, diserang topan badai,  maupun mati terluka dan sakit ketika menjalani operasi.

Jadi ladang mutiara merupakan bisnis berisiko tinggi. Setelah panen pun, seleksi ketat diperlukan untuk mendapatkan mutiara berkualitas tinggi.  Dari panen sebanyak 700.000 butir setahun, misalnya, Miss Joaquim Pearl menyatakan hanya 75% punya kualitas yang bagus. Mutiara dihasilkan oleh kerang, dengan intervensi manusia.  Kalau masih ada mutiara alam, kabarnya kurang dari seper seribu persen produk mutiara di seluruh dunia.

Kerang Pinctada maxima salah satu kerang penghasil mutiara. Sebuah kerang hanya menghasilkan satu mutiara selama 4 tahun.

Kerang Pinctada maxima salah satu kerang penghasil mutiara. Sebuah kerang hanya menghasilkan satu mutiara selama 4 tahun.

Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai produsen golden pearl – mutiara emas jenis Pinctada maxima, dengan harga paling mahal.  Pertumbuhan jenis itu didukung oleh perairan di Lombok yang tenang sesuai dengan habitat yang diperlukan.  Industri mutiara pada masa lalu mengandalkan bibit-bibit tiram yang  hidup bebas di alam. Sekarang bibit dari alam sudah jauh berkurang.

Baca juga:  Tin Kualitas Top

Kalau ada ukurannya tidak sama dan kualitaasnya berbeda-beda. Peternakan modern bisa memilih telur indukan yang terbaik dan sperma tiram jantan pilihan. Semua dikembangkan di laboratorium peternakan.  Keuntungannya ukuran yang seragam, dan warna-warnanya bisa ditandai menurut spesiesnya. Tiram Pinctada maxima mempunyai warna cangkang bervariasi dengan warna dasar kuning pucat, kuning tua, cokelat kemerahan, merah anggur, dan kehijauan.

Adapun Pinctada martensii cangkangnya cembung berwarna abu-abu kuning dengan garis cokelat ungu.  Ukurannya setelah dewasa, sekitar 4 inci atau 10 cm, warna interiornya perak kehijauan. Jenis ketiga, Pinctada margaritifera, agak pendek berwarna baja dan hijau metalik.  Untuk investasi 10.000 tiram perlu modal Rp1 miliar. Sentra budidaya mutiara laut selatan terdapat di Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi, Halmahera, dan Papua.

Selain perairan yang jernih dan tenang, suhu air laut ideal untuk beternak kerang mutiara berkisar antara 25—30°C. Indonesia dewasa ini memasok 26% mutiara laut selatan di dunia. Ladang-ladang mutiara itulah sisi agromaritim kita yang memerlukan ahli-ahli manajemen kelautan, sebagaimana telah diberikan contoh oleh Susi Pudjiastuti dengan dua doktor honoris causa.***


*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktifis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x