Ciinten, lada unggul dari Sukabumi, Jawa Barat.

Ciinten, lada unggul dari Sukabumi, Jawa Barat.

Lada asal Sukabumi yang genjah dan produktif.

Iko Nobi tergiur rupiah setelah mendengar kabar harga lada di Provinsi Lampung mencapai Rp125.000 per kg. Pada 2009, warga Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu memperbanyak 3 tanaman lada peninggalan orangtuanya menjadi 50 tanaman. Tahun berikutnya dia memanen total 30 kg buah segar dari 50 tanaman.

Melihat hasil yang cukup memuaskan itu, Iko terus memperbanyak tanaman dengan cara setek. Panen berikutnya—tahun ketiga pascatanam—produksi meningkat menjadi 80 kg buah segar. Jumlah itu meningkat lagi pada 2012 menjadi 180 kg, yang merupakan panen ketiga. Setiap tahun ia menambah tanaman, sayang ia tidak ingat lagi jumlah tanaman pada 2011 dan 2012 itu.

Lada unggul
Kini jumlah tanaman lada di kebun Iko mencapai 1.000 batang. Panen pada 2015, dari 200 batang tanaman yang sudah mampu berbuah, Iko dapat memanen hingga 1,1 ton lada segar atau setara 5,7 kg per tanaman. Itu luar biasa lantaran lazimnya lada baru belajar berbuah pada tahun ke-2 pascatanam. Sudah begitu, produksi tanaman Piper nigrum tinggalan orangtua Iko itu sangat moncer—30 kg buah dari 50 tanaman atau rata-rata 600 g lada segar per tanaman di umur 2 tahun.

Keunggulan lada di kebun Iko menarik perhatian peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor. Pada awal 2015, Dr Ir Nurliani Bermawie, peneliti di Kelompok Penelitian Budidaya Balittro memilih 20 sampel tanaman yang tengah berbuah di kebun Iko. Total lada segar dari 20 tanaman itu mencapai 110 kg alias 5,5 kg buah per tanaman.

Lada kualitas unggul bermalai panjang dan produktivitas tinggi, hingga 5 kg per tanaman.

Lada kualitas unggul bermalai panjang dan produktivitas tinggi, hingga 5 kg per tanaman.

“Bahkan beberapa tanaman menghasilkan 8,5 kg lada segar,” kata Nurliani. Produktivitas lada jenis lain yang biasa ditanam pekebun rata-rata hanya 2—3 kg. Nurliani membandingkan dengan produksi lada jenis petaling yang ditanam di lokasi sama. Hasilnya jauh. Panjang malai lada petaling 7,86 cm dengan buah sebanyak 60 dan bobot total per malai 5,6 g.

Baca juga:  Bisnis Sayuran di Jagat Maya

Persentase buah jadi petaling 60,5—64,6% dan bobot per 100 butir 40,1 g. Kadar minyak asiri lada putih petaling 2,79%; lada hitam, 2,63%. Setelah melakukan pengamatan, Nurliani akhirnya yakin dengan keunggulan lada dari kebun Iko. Pada 23 Oktober 2015, Kementerian Pertanian melepas lada dari kebun Iko sebagai lada unggul lokal dengan nama ciinten.

Panjang malai ciinten 11,46 cm dengan 88 buah berdiameter 0,45 cm per malai. Bobot per malai 11 g. Persentase buah jadi 87% dengan bobot per 100 biji 51,9 g. Kadar asiri lada putih ciinten 2,93%, sedangkan asiri lada hitam 3,3%. “Tingkat kepedasan lada ciinten juga lebih pedas dibanding lada jenis lain,” kata Nurliani. Produktivitas rata-rata 5,7 kg lada segar per tanaman pada umur 5 tahun.

Lada ciinten mempunyai malai lebih panjang dan berbulir banyak.

Lada ciinten mempunyai malai lebih panjang dan berbulir banyak.

Jumlah itu setara 1,95 kg lada putih atau 2,57 kg lada hitam. Daun tanaman ciinten memiliki panjang 16 cm dan lebar 10 cm. Menurut Iko lada di kebunnya warisan orangtuanya pada dekade 1940. “Katanya lada itu bawaan brigade Inggris, Gurkha yang tergabung dalam tentara sekutu ketika mereka masuk ke tanahair setelah Jepang menyerah,” ujar Iko. Brigade Gurkha berisi warga Nepal yang direkrut menjadi tentara Inggris.

Menurut Nurliani, cerita itu mungkin benar lantaran karakter malai panjang dan lebat ciinten mirip lada asal India. “Lada lokal Indonesia umumnya bermalai pendek,” kata Nurliani. Dari Asia bagian selatan, ciinten menempuh perjalanan panjang hingga Sukabumi untuk membuktikan keunggulannya.

Tahan penyakit
Di lahannya di Warungkiara, Sukabumi, Iko menanam ciinten berjarak tanam 2 m x 4 m membujur arah timur-barat sesuai pergerakan matahari. Hal ini untuk memaksimalkan sinar matahari yang dibutuhkan untuk tanaman lada. Sebagai rambatan penegak, Iko menggunakan pohon gamal. Ikomengatakan, ”Sebenarnya pohon kelor bagus untuk rambatan karena daun kelor membentuk teduhan yang tidak terlalu rimbun sehingga matahari masih bisa sampai bawah.”
Sayangnya pohon kelor rapuh sehingga mudah patah kalau buah lada sedang lebat. Menurut Issukandarsyah, peneliti lada di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Bangka Belitung, lada memerlukan intensitas sinar matahari sebanyak 50—70%. Itu berarti tidak terbuka total tetapi juga tidak sepenuhnya ternaungi.

Dr Ir Nurliani Bermawie, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempat dan Obat.

Dr Ir Nurliani Bermawie, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempat dan Obat.

“Kalau naungan terlalu banyak, fotosintesis berkurang dan produktivitas turun,” kata Issukandarsyah. Ia menyarankan pemangkasan rutin rambatan penegak 4 kali setahun agar tanaman lada cukup mendapat sinar. Pemangkasan sekaligus mencegah perebutan nutrisi antara lada dan pohon penegak. Pengalaman Iko, lada ciinten di kebunnya belum pernah terserang penyakit.

Baca juga:  Mencegah Anoa Punah

Itu didukung penelitian Nurliani secara in vitro, yang membuktikan ciinten mempunyai ketahanan sedang terhadap busuk pangkal batang akibat cendawan Phytophthora capsici. Busuk pangkal batang menjadi momok bagi pekebun lada karena mudah menyebar dan cepat mematikan tanaman terserang. Serangan hama penggerek batang di Sukabumi, Purwakarta, dan Ciamis—semua di Provinsi Jawa Barat, nyaris nihil lantaran populasi serangga penggerek batang Lophobaris piperis yang menyerang batang tanaman lada masih terkendali.

Harga lada kian meningkat. Pada Januari 2016 harga lada di tingkat petani mencapai Rp140.000 per kg.

Harga lada kian meningkat. Pada Januari 2016 harga lada di tingkat petani mencapai Rp140.000 per kg.

Produksi optimal memerlukan asupan nutrisi cukup. Menurut Issukandarsyah, lada menyukai lahan subur di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Sebelum menanam, buat lubang tanam berukuran 40 cm x 40 cm x40 cm lalu tambahkan 10 kg pupuk kandang. Bisa juga memberikan pupuk NPK ataupun pupuk organik seperti kompos atau urine sapi. Bibit lada membutuhkan cukup air ketika dalam awal tanam. Untuk itu, pekebun sebaiknya pada awal musim hujan. Saat kemarau, lada sudah kokoh dan toleran kekurangan air.

Pemupukan berikutnya diberikan setelah panen. Iko baru memberikan pupuk setelah panen ketiga. Pria 64 tahun itu memberikan 2 merek pupuk NPK masing-masing sebanyak 1 kg per tanaman. Meski memerlukan cukup air, tanaman lada tidak tahan genangan. Pastikan lahan berdrainase baik. Untuk mempertahankan kelembapan di sekitar pangkal batang, pekebun bisa memasang mulsa plastik maupun menebar serasah daun. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d