Lada dan Buah 1

Beberapa bulan terakhir ini percakapan di dalam grup jejaring sosial yang diikuti redaksi Trubus kerap kali berisi tentang gairah bertanam lada perdu. Harap mafhum lada perdu dianggap punya sejumlah keunggulan dibandingkan dengan lada rambat. Lada perdu hanya setinggi 1 m sehingga buah gampang dipanen; lada rambat tumbuh merambat di tajar setinggi 3—4 m. Soal produktivitas per tahun yang hanya 0,4 kg per tanaman (umur 3 tahun) memang kalah dibanding dengan produksi lada rambat yang mencapai 1 kg per tanaman per tahun pada umur sama.

Reporter Majalah Trubus Fajar Ramadhan (kanan) saat meliput lada di sentra Bangka.

Reporter Majalah Trubus Fajar Ramadhan (kanan) saat meliput lada di sentra Bangka.

Namun, lada perdu lebih cepat berproduksi: umur 8 bulan setelah tanam. Lada rambat mulai berbuah umur 3 tahun. Lagi pula pekebun menghemat biaya investasi hingga 63% karena tidak perlu menyiapkan tiang rambatan. Lada perdu sejatinya bibit lada rambat yang diambil dari tunas samping lada biasa. Karena bersosok pendek dan tajuknya ringkas, lada perdu cocok untuk penanaman di perkotaan.

Meski demikian bukan berarti penanaman lada perdu tanpa aral. Karena sosok pendek, justru pekebun kerap mengeluh capai membungkuk saat panen. Belum lagi potensi serangan penyakit tular tanah akibat cipratan air hujan lebih gampang menyerang. Terlepas dari itu, penanaman lada baik perdu maupun rambat memang tengah merebak. Sentra penanaman lada yang semula di Bangka dan Belitung meluas hingga ke Jawa dan Kalimantan.

Musababnya harga lada yang ajek tinggi. Harga di tingkat pekebun pada Agustus 2016—pada saat peliputan—mencapai Rp130.000 per kg kering. Harga itu bertahan bahkan cenderung naik sejak 5 tahun terakhir. Kenaikan itu terjadi karena pasar kekurangan pasokan. Menurut Direktur Eksekutif Ketua International Pepper Community, WDL Gunaratne, permintaan pasar dunia makin besar, tetapi produksi menurun karena faktor cuaca.

Baca juga:  Sejahtera Karena Merica

Kini ketika harga kembali terkerek naik, pekebun kembali melirik lada. Ketua Statistical Offiicer International Pepper Community, Moch Taufiq WH, menyebut harga tinggi bertahan hingga 4 tahun ke depan. Harga memang agak turun sedikit, tetapi masih lebih baik daripada 10 tahun terakhir. Pertumbuhan permintaan lada cenderung meningkat. Pembaca terhormat, sajian tentang peluang pasar mengebunkan lada kami sajikan sebagai topik utama edisi ini.

Informasi lain tentang kreasi akuaponik, penerapan teknologi aeroponik pada penanaman krisan sehingga lebih cepat panen, teknologi mulsa organik yang baik untuk kesehatan tanah, dan penanaman jeruk dekopon di dataran rendah. Dekopon yang biasanya ditanam di dataran tinggi kini tengah melejit menjadi salah satu buah yang diincar pasar. Harga premium Rp70.000 per kg. Pasar modern membutuhkan pasokan, sementara jumlah pekebun masih jarang. Ceruk pasar masih besar. Anda kini punya pilihan: menanam lada atau dekopon? Selamat membaca. ***

Tags: bangka, lada

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *