Nasubi dibutuhkan restoran masakan Jepang

Nasubi dibutuhkan restoran masakan Jepang

Bisnis sayuran membonceng tren budaya oriental.

Agus Ali Nurdin, SE akhirnya memperluas penanaman nasubi dari 1.000 m2 menjadi 5.000 m2 pada Februari 2014 karena permintaan tinggi. “Permintaan pasar swalayan di Bandung dan pemasok di Cianjur mencapai 30 kg per hari,” kata pekebun di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu. Sementara dari luasan 1.000 m2 Agus hanya memanen  nasubi atau terung jepang 50 kg per pekan.

Setelah memperluas lahan, Ali Nurdin memanen 250 kg nasubi per pekan. Agar bisa panen rutin setiap pekan, Agus menanam 1.500 bibit nasubi setiap bulan. Sebuah tanaman menghasilkan 2—3 kg nasubi. Dengan penambahan areal tanam 5 kali lipat itu pun Agus baru dapat memenuhi permintaan pasar swalayan di Bandung dan pemasok di Cianjur, Jawa Barat. Padahal, “Masih ada  permintaan dari beberapa pemasok pasar swalayan lain sebesar 50 kg per hari,” ujar Guslee—sapaan Agus Ali Nurdin.

Bechu sayuran oriental paling diminati

Bechu sayuran oriental paling diminati

Permintaan tinggi

Agus Ali Nurdin menjual nasubi Rp12.000 per kg. Pasar menghendaki sayuran buah anggota famili Solanaceae itu berwarna ungu kehitaman, bobot rata-rata 200 gram per buah, dan panjang 10—15 cm.  Agus mengatakan biaya untuk menghasilkan 1 kg nasubi mencapai Rp3.500—Rp4.000 per kg. Selain nasubi, Agus Ali Nurdin juga kewalahan memenuhi permintaan kyuri yang mencapai 50 kg per hari. Itu karena produksi kyuri atau mentimun jepang dari lahan seluas 0,5 ha hanya 20 kg per 2 hari.

“Padahal, permintaan pasar mencapai 50 kg per hari,” kata Ali Nurdin yang membudidayakan sayuran jepang sejak 4 tahun silam. Artinya, ada ceruk pasar 1,2 ton kyuri per bulan. Untuk memenuhi permintaan sayuran jepang yang tinggi Agus bermitra dengan 8 pekebun di lahan 4 hektar. Total jenderal Agus menanam 8 jenis sayuran oriental. Permintaan tinggi bukan hanya terjadi pada sayuran jepang, tapi juga sayuran asal Korea Selatan seperti bechu, altari, dan kaenip. Kedua negara itu—Jepang dan Korea Selatan—berada di Asia timur. Oleh karena itu sayuran dari kedua negeri itu sohor sebagai sayuran oriental.

Berbagai jenis sayuran oriental di pasar Swalayan

Berbagai jenis sayuran oriental di pasar Swalayan

Pekebun di Cianjur, Jawa Barat, Fariyadi, juga mendapat order kwari kochu atau cabai manis. Dari permintaan 1 ton per bulan, ayah 2 anak itu cuma sanggup memasok separuhnya. Permintaan datang  dari 18 restoran dan 10 pasar swalayan di Jakarta dan Bandung. Untuk memenuhi permintaan itu Feri—sapaan Fariyadi—pun membina 30 petani di Cianjur, Jawa Barat, untuk menanam 40 jenis sayuran asal Korea Selatan di lahan 9 ha.

Baca juga:  Setelah 7 Kerabat Wafat

Menurut Feri hampir 100% produksi pekebun mitra mampu memenuhi standar kualitas restoran dan pasar swalayan. Untuk  kwari kochu, misalnya, pasar mensyaratkan cabai korea itu berukuran panjang buah 12—13 cm dan berdiameter 2 cm. Bobot sebuah kwari gochu 14—15 gram. Petani mitra rata-rata menanam sayuran kwari kochu di lahan 500 m2 dengan produksi mencapai 3—4 kg per tanaman. Kwari kochu berbuah perdana pada umur 2 bulan setelah tanam. Panen berikutnya dengan interval 3 hari dan akan berakhir setelah tanaman berumur 4 bulan.

Kendala

Bisnis sayuran oriental menggiurkan? Jika ingin menggeluti bisnis sayuran oriental, beragam kendala menghadang. Untuk memperoleh benih, misalnya, pekebun mesti mengimpor lantaran belum tersedia di pasar domestik. Para pekebun memanfaatkan teknologi internet untuk memesan bibit. Selain ongkos kirim yang mahal,  total pembelian benih minimal    Rp8-juta per order atau 9—10 kg benih. Artinya berkebun sayuran oriental mesti berkantong tebal.

Membudidayakan sayuran oriental juga bukan perkara mudah. Pada 2013, Agus pernah gagal menanam kyuri di lahan 3.000 m2. Warna kulit buah tidak hijau mulus dan bebercak cokelat. Itu terjadi lantaran hujan turun saat tanaman mulai berbunga. Akibatnya, tanaman kurang mendapat sinar matahari. Bagi pemasok, mesti bersabar lantaran pembayaran dari pasar swalayan dan restoran dilakukan 2 bulan setelah sayuran dikirim. Penipuan juga menjadi faktor yang mesti diwaspadai pemasok. Musababnya, “Pernah ada yang kabur dan tidak membayar sayuran yang sudah saya kirim,” kata Feri. Jika kendala teratasi, pasar sayuran oriental pun terbentang.

Pengalaman bertahun-tahun menjadikan pekebun lihai menanam komoditas sayuran oriental. Namun sayang, lagi-lagi produksi belum mampu memenuhi permintaan pasar. Fariyadi menuturkan kebutuhan bechu—sejenis sawi, ukuran 1,5 kali dari sawi biasa—mencapai 1.000 kg per 2 hari. Namun, pekebun plasma baru mampu memasok 200 kg per 2 hari.  Dengan harga jual bechu Rp5.000 per kg, omzet Feri Rp1-juta per 2 hari atau Rp15-juta per bulan.

Baca juga:  Kaki Ganda untuk Pamelo

Dengan biaya produksi R3.000 per kg, artinya Feri memperoleh laba Rp6-juta per bulan hanya dari sebuah komoditas. Padahal ayah 2 anak itu juga memasarkan 39 sayuran korea lain yang juga menyumbangkan laba bervariasi. Cikeri—sejenis selada—memberikan tambahan untung Rp1-juta per bulan. Total jenderal, pemasok sayuran korea sejak 22 tahun lalu itu meraup untung Rp30-juta sebulan.

Bisnis sayuran oriental dipicu permintaan masakan Korea dan Jepang

Bisnis sayuran oriental dipicu permintaan masakan Korea dan Jepang

Budaya Korea

Tiga tahun terakhir bisnis sayuran oriental terus menggeliat. Itu karena jumlah pasar swalayan dan restoran yang menyediakan khusus masakan Jepang dan Korea terus meningkat. Menurut Asosiasi Perdagangan Jepang di Jakarta, jumlah pasar swalayan dan restoran di Jakarta pada 2013 meningkat 35% ketimbang tahun sebelumnya. Saat ini terdapat lebih dari 100 restoran dan 10 pasar swalayan khusus masakan Jepang di Jakarta.

Menurut Agus, semakin populernya budaya Jepang dan Korea, terutama di kalangan anak muda, memicu peningkatan restoran oriental. Dampaknya, permintaan sayuran pun melambung. Para pekebun sayuran oriental seperti Agus dan Feri  menangkap peluang bisnis itu. Permintaan sayuran oriental tak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Sebut saja Pitoyo Ngatimin yang menanam daikon atau lobak jepang untuk memenuhi permintaan Malaysia sejak pertengahan 2010. Pekebun di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu mengirim 20—30 kg lobak per pekan.

Pitoyo menanam daikon di lahan 100 m2. Total luas lahannya mencapai 0,5 ha untuk membudidayakan tiga jenis sayuran oriental. Total jenderal Pitoyo mengeksor 1 ton sayuran per bulan. Jenis yang banyak diminta pasar mancanegara antara lain lobak mencapai 200 kg, terung  (100 kg), tomat (200 kg), dan buncis perancis (100 kg). Harga jual lobak US$1,5—US$2 per kg. Ia memperoleh pasar mancanegara berkat bantuan teknologi informasi. Untuk pengiriman Pitoyo menggunakan jasa angkutan udara sehingga dalam waktu 6 jam pascapanen, lobak tiba di tangan pembeli di negeri jiran. (Kartika Restu Susilo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d