Laba Lovebird Luar Biasa 1
580-H014-1

Lovebird euwing violet fischeri betina (depan) dan biola jantan koleksi Anton Purnawijaya.

Menangkarkan burung lovebird menjanjikan keuntungan tinggi.

Cericit burung sayup-sayup terdengar dari sebuah rumah dua lantai di kawasan Durikosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Begitu pintu gerbang terbuka, tampaklah deretan kandang memadati ruang tamu. Deretan kandang juga terlihat di lantai dua rumah dan kamar-kamar. Di sanalah Anton Purnawijaya menangkarkan 88 pasang lovebird. Anton menangkarkan si burung cinta di dua tempat. Ia juga menangkarkan 100 pasang lovebird di lantai dua rumahnya.

Anton menangkarkan berbagai jenis lovebird, mulai dari jenis berharga terjangkau hingga jenis premium. Dari 188 pasang induk lovebird itu sekitar 30% di antaranya jenis lovebird berharga induk rata-rata Rp50 juta per ekor, seperti varian hasil persilangan biola jantan dan parblue. Ada juga yang berharga lebih dari Rp100 juta per ekor, seperti dun fallow, pale fallow, dan bronze pallow. Ia juga menangkarkan aneka jenis lovebird berharga terjangkau, yakni berkisar Rp10 juta per ekor. “Sisanya jenis-jenis lama yang saya suka, buat penyemangat saya,” ujanya.

Dari jumlah pasangan induk itu Anton memanen rata-rata 30 ekor anakan per pekan atau total 120 anakan per bulan. Harga jual bervariasi tergantung jenis dan umur burung. Menurut Anton permintaan konsumen beragam, ada yang berminat membeli anakan, siapan, atau indukan. Anakan biasanya baru berumur 3 bulan atau saat sudah bisa makan sendiri. Adapun siapan berumur 5—7 bulan, dan indukan umur lebih dari 8 bulan. Untuk melayani permintaan konsumen, Anton juga menjual lovebird impor. Pria 35 tahun itu menyediakan rata-rata 200—300 ekor lovebird setiap bulan.

580-H014-2

Anton Purnawijaya (kiri) bersama Teddy Posh 3 (kanan), langganan Anton.

Anton mulai menjadi penangkar lovebird sejak 2011. Sebelumnya ia hobi merawat kenari. Namun, ketika itu harga kenari jatuh lantaran maraknya kenari impor. Salah seorang sahabat menyarankan Anton untuk memilih lovebird karena prospeknya lebih bagus meski permintaannya tak sesemarak burung berkicau. “Lovebird diprediksi lebih langgeng karena yang disukai adalah kecantikannya. Permintaan akan selalu ada setiap kali muncul mutasi warna baru,” ujar ayah dua anak itu.

Baca juga:  Burung Cinta Tetap Sentosa

Oleh karena itu, para penangkar ditantang selalu menghadirkan varian warna baru jika ingin bisnis lovebird makin langgeng. Anton menuturkan, biaya produksi untuk menangkarkan lovebird juga relatif terjangkau. Berdasarkan pengalamannya, dalam berternak lovebird modal indukan akan kembali modal hanya dalam waktu minimal 6 bulan. Besar-kecilnya modal tergantung jenis lovebird yang ditangkarkan. Bagi para pemula Anton menyarankan sebaiknya memulai dari jenis induk berharga terjangkau.

Jika berhasil, hasil dari penjualan anakan ditabung untuk membeli jenis induk yang berharga lebih tinggi, begitu seterusnya. Tentu saja dalam perjalanannya tak selalu mulus. “Yang penting adalah mental harus kuat. Jangan berhenti ketika merugi. Jika berhenti kerugian itu tidak akan terganti,” tutur pria yang juga pernah berbisnis telepon genggam itu. (Imam Wiguna)

580-H015-1

Tags: analisis usaha, Anton Purnawijaya, biola, dan bronze pallow, dun fallow, Indukan, Laba Lovebird, lovebird, Lovebird euwing violet fischeri, Lovebird impor, pale fallow, Teddy Posh 3

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments