Laba Lebih Besar

Laba Lebih Besar 1

Kopi Organik

Harga kopi organik lebih tinggi daripada nonorganik.

Harga kopi organik lebih tinggi daripada nonorganik.

Budidaya kopi organik lebih menguntungkan.

Katiran bahagia meski produktivitas kebun kopi robusta miliknya menurun. Sebelumnya pekebun kopi di Amadanom, Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu memanen 750 kg green bean alias kopi beras—biji kopi kering yang telah dikupas kulit tanduknya dan belum disangrai—per tahun dari lahan 5.000 m2. Kini ia hanya menuai 350 kg kopi beras di lahan sama. Meski begitu Katiran senang karena harga kopinya meningkat 3—4 kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Semula harga kopi beras produksi Katiran Rp35.000—Rp40.000 per kg sehingga ia mendapatkan omzet minimal Rp26,25 juta. Kini Katiran menjual kopi beras Rp90.000—Rp150.000 per kg dan mengantongi omzet minimal Rp31,5 juta. Artinya meski produktivitas kebun merosot, omzet Katiran melambung 20%. Apa rahasia Katiran sehingga konsumen rela membeli kopi dengan harga lebih tinggi?

Organik
“Saya membudidayakan kopi secara organik,” kata pria yang berkebun kopi sejak 2001 itu. Harga jual lebih tinggi makin meneguhkan Katiran berkebun tanaman anggota famili Rubiaceae itu secara organik. Beberapa pekebun di sekitar kebun Katiran pun berkebun kopi secara organik.

Jajang Slamet Soemantri (kiri) dan Katiran mengembangkan budidaya kopi organik sejak 2014.

Jajang Slamet Soemantri (kiri) dan Katiran mengembangkan budidaya kopi organik sejak 2014.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dampit, Jajang Slamet Soemantri, mengatakan total jenderal terdapat 139 petani yang tergabung dalam 4 kelompok tani pembudidaya kopi organik di Desa Amadanom dengan lahan 50 hektare. Para pekebun itu rata-rata membudidayakan kopi secara organik sejak 2016 setelah ada program demo plot dari Dinas Perkebunan Provinsi, Jawa Timur. Desa Amadanom terpilih melaksanakan program itu karena kebun kopinya tertata baik.

Selain itu bisnis kopi lebih menjanjikan di desa itu lantaran sudah terbentuk klaster kebun. Menurut Jajang hasil panen perdana kopi yang dibudidayakan organik menurun 40—50% seperti pengalaman Katiran dan rekan. Produktivitas yang tadinya 1 ton kopi beras per hektare per tahun anjlok menjadi 500 kg. “Itu konsekuensi jika pekebun menginginkan pendapatan tinggi plus kebun kopi sehat alami,” kata alumnus Universitas Padjadjaran.

Baca juga:  Kedaulatan Benih

Lebih lanjut ia menuturkan penurunan produksi terjadi karena asupan nutrisi tidak sebesar saat menggunakan pupuk kimia. Tanaman masih beradaptasi sehingga produksi pun anjlok. Selang tiga tahun kopi organik berproduksi normal seperti budidaya menggunakan pupuk kimia. Sebelum budidaya organik, Katiran memupuk dengan NPK (300 kg), Urea (400 kg), dan pupuk kandang (1 ton). Pemupukan dua kali setahun.

Kini Katiran dan pekebun lain hanya memanfaatkan bokashi yang terbuat dari 20% pupuk kandang dan 80% campuran bahan organik (kulit kopi, jerami padi, dan batang pisang). Ia mencampur 1 ton bahan bokashi dengan 1 liter formula organik kompos (FOK) dan 25 kg kapur pertanian, lalu mendiamkannya sepekan agar terfermentasi. FOK berisi 49 bakteri salah satunya Lactobacillus sp.

Bokashi

Katiran mengandalkan bokashi sebagai pupuk kebun kopi.

Katiran mengandalkan bokashi sebagai pupuk kebun kopi.

“Bakteri memfermentasi bahan organik, sedangkan kapur pertanian menetralisir proses agar pH bokashi stabil,” kata Jajang. Para pekebun memberikan 1—3 ton bokashi per hektare per tahun. Pakar pupuk hayati dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Iswandi Anas Chaniago, mengatakan bahan organik dalam bokashi memasok nutrisi pada tanaman dan membantu meningkatkan kesuburan tanah.

Sementara mikrob seperti Trichoderma berperan meningkatkan penyerapan unsur hara dari tanah serta melawan hama dan penyakit. Mikrob juga memperbaiki daya tanah menahan air. Katiran pun tidak lagi menggunakan beragam pestisida berbahan aktif mankozeb dan diazinon untuk mengatasi hama dan penyakit kopi. Kini ia memanfaatkan tanaman sekitar seperti mindi Melia azedarach, kipahit Tithonia diversifolia, mahoni Swietenia mahagoni, dan tuba Derris elliptica sebagai pestisida nabati.

Menurut Jajang pestisida nabati bisa bersifat insektisida dan fungisida sekaligus jika ramuannya tepat. Pestisida nabati bikinan Katiran terdiri atas 100 g daun dan buah mindi, 100 g daun dan buah mahoni, 100 g daun kipahit, serta 100 g akar dan batang kipahit. Ia lalu memblender semua ramuan, mencampurnya dengan 1 liter air, dan mendiamkan larutan sehari agar terfermentasi.

Budidaya kopi organik lebih menguntungkan dan ramah lingkungan.

Budidaya kopi organik lebih menguntungkan dan ramah lingkungan.

Pekebun lalu mencampur 1 liter larutan pestisida nabati dengan 10 liter air sebelum digunakan di lahan. Pekebun menyemprotkan pestisida nabati itu sekali dua pekan. Jajang mengatakan pestisida nabati efektif mengendalikan hama dan penyakit tanaman jika penyemprotan rutin terutama untuk pencegahan. Penyakit utama kopi antara lain cendawan akar cokelat dan putih, cendawan upas pada batang, dan nematoda yang kerap menyerang akar.

Baca juga:  Asa Hidup di Luar Rumah

Sementara hama merugikan yaitu penggerek batang, penggerek buah, penggerek cabang, dan kutu putih. Penggerek buah kopi bisa merugikan petani hingga 30%, jamur upas 10—20%, sedangkan nematoda mematikan tanaman. Kehadiran semut juga mengganggu pemanenan kopi. Untuk mengatasinya, pekebun memasang potongan bambu berisi ikan asin dan dedaunan.

Semut akan masuk ke bumbung lantaran tergoda aroma ikan asin dan nyaman di dalam karena ada dedaunan sehingga kondisinya menyerupai sarang. Pekebun tinggal mengambil lalu membuang bambu itu untuk menyingkirkan semut. “Peletakan bumbung 3 hari sebelum panen dan diambil pagi hari sebelum siangnya panen,” kata Jajang. Satu hektare lahan memerlukan 20 bambu. Dengan budidaya kopi organik pekebun lebih untung dan ramah lingkungan. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x