Ratih Indrawati (kanan) bersama ibunya mengolah nangka menjadi camilan sejak 2010.

Ratih Indrawati (kanan) bersama ibunya mengolah nangka menjadi camilan sejak 2010.

Ratih Indrawati mengolah nangka dan rambutan yang terbuang menjadi keripik buah yang lezat.

Ratih Indrawati meraup omzet Rp17,55 juta per bulan. Omzet itu hasil penjualan 121,5 kg keripik nangka dan 13,5 kg keripik rambutan. Dari jumlah penjualan itu Ratih mengutip laba 50%. Warga Desa Pagon, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, itu mengolah nangka dan rambutan menjadi keripik sejak 2010. Ratih tertarik memproduksi keripik nangka dan rambutan karena kedua buah itu melimpah di daerahnya.

Sayangnya, serapan pasar relatif rendah tak sebanding dengan ketersediaan buah. Akibatnya, harga jual kedua buah itu murah. Harga sekilogram daging buah nangka segar yang sudah dikupas dan tanpa biji hanya Rp10.000 dan rambutan Rp5.000 per kg. Buah nangka dan rambutan matang juga sering kali terbuang karena mudah busuk hanya dalam 3 hari. Kondisi itu mendorong Ratih mengolahnya menjadi keripik.

Bantuan alat

Nangka bahan baku keripik buah melimpah di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Nangka bahan baku keripik buah melimpah di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Menurut ibu kandung Ratih, Caswati, pada 2008 gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerahnya memperoleh bantuan alat penggorengan kedap udara atau vacuum frying pan dari pemerintah untuk memanfaatkan pasokan buah yang melimpah. Alat itu mangkrak selama 2 tahun karena penerima manfaat belum mengetahui cara menggunakannya. Ratih dan Caswati mulai memanfaatkan alat itu untuk memproduksi keripik buah pada 2010.

Ketika itu Ratih memperoleh pelatihan penggunaan wajan kedap udara dan beberapa kali percobaan. Pada awal produksi hanya 30% keripik buatan ibu dan anak itu yang bermutu bagus. Kini Ratih sukses menghasilkan 80% keripik bermutu prima. Rahasianya, “Bahan baku mesti nangka masak sempurna. Tekstur daging buah yang agak berair menghasilkan camilan lembut dan tidak terlalu keras saat dikunyah,” kata anak pertama dari 2 bersaudara itu.

Baca juga:  Tin Penghancur Batu Ginjal

Ratih mengolah 24 kg nangka segar untuk menghasilkan 4,5 kg keripik nangka atau rendemen 18%. Proses produksi berlangsung selama 2—2,5 jam. Ciri keripik matang bila buih yang muncul saat pemasakan semuanya hilang. Setelah matang Ratih meniriskan keripik nangka selama 10—15 menit dengan memasukkannya ke mesin pemutar sentrifugal untuk memisahkan minyak. Setelah itu Ratih menyortir kemudian mengemas keripik dalam kemasan 140 g.

Ratih Indrawati (kanan) bersama Seksi Perdagangan Uni Eropa, Raffaele Quarto, pada acara ASEAN Learning Center pada 25—26 Oktober 2017.

Ratih Indrawati (kanan) bersama Seksi Perdagangan Uni Eropa, Raffaele Quarto, pada acara ASEAN Learning Center pada 25—26 Oktober 2017.

Ia lalu menggunakan merek Anugerah Jaya yang diambil dari nama gapoktan di daerahnya. Alumnus Fakultas Agrobisnis dan Rekayasa Pertanian, Universitas Subang, Jawa Barat, itu memasarkan keripik nangka di toko pusat oleh-oleh di Subang seperti kawasan wisata Ciater dengan harga Rp15.000 per kemasan. Pada awal produksi Ratih hanya mampu menjual 20 kemasan per bulan.

Lama-kelamaan konsumen mulai mengenal produk keripik nangka produksi Ratih. Jumlah penjualan pun terus meningkat. Kini Ratih menjual rata-rata 600 kemasan per bulan. Sebanyak 50% laba hasil penjualan ia setorkan untuk membiayai kegiatan gapoktan. Keripik produksi Ratih mendapat sanjungan President of Conseil Europeen Des Jeunes Agriculteurs (CEJA), Janes Maes. Janes mencicipi keripik nangka itu saat berpartisipasi pada acara ASEAN Learning Series pada 25—26 Oktober 2017.

“Rasanya renyah, gurih, dan manis,” kata pria asal Belgia itu. Dalam acara yang mempertemukan para pelaku pertanian muda se-Asia Tenggara dan praktisi pertanian muda asal Eropa  itu Ratih juga menjadi salah satu undangan.

Ratih Indrawati

Ratih Indrawati

Peluang ekspor
Pada 2015 Ratih mulai mengolah rambutan menjadi keripik. Kabupaten Subang salah satu sentra rambutan sehingga pasokannya melimpah. Ratih memanfaatkan rambutan yang tidak terjual. Menurut penikmat camilan buah di Depok, Jawa Barat, Supriyadi, bentuk camilan rambutan bikinan Ratih mirip olahan lengkeng kering ala Thailand. “Cita rasa keripik rambutan manis dan masam,” kata Supriyadi.

Baca juga:  Diabetes Mellitus

Namun, saat ini produksi keripik rambutan masih terbatas, yakni hanya 10% dari total produksi keripik buah. Menurut Ratih di masa mendatang olahan keripik buah bakal menjadi peluang bisnis menjanjikan. Seorang eksportir asal Jakarta meminta Ratih untuk memasok 150 kg keripik buah per pekan untuk memenuhi pasar Jepang. Sayangnya Ratih terpaksa menolak permintaan itu karena keterbatasan sarana produksi.

Maklum, ia hanya mengandalkan penggorengan kedap udara yang hanya mampu menghasilkan 4,5 kg keripik buah per hari atau total 31,5 kg per pekan. Seandainya kapasitas produksi bertambah, Ratih bakal menembus pasar Jepang dengan keripik buah. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d