Hidroponik bertingkat

Hidroponik bertingkat

Fenomena kaum urban di perkotaan, menanam sayuran hidroponik di lahan sempit, separuh lapangan voli atau dua kali meja pingpong. Agar laba berlipat ganda, mereka menanam di rak bertingkat-tingkat.

Bertahun-tahun lahan 100 m2 itu menganggur. Hanya rerumputan liar yang memenuhi permukaan tanah. Kini lahan sempit itu menjadi sumber pengisi pundi-pundi Bayu Widhi Nugroho. Petani di Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, itu memperoleh pendapatan Rp6-juta per bulan dari lahan di seberang rumahnya. Bayu meraih omzet itu dari hasil budidaya sayuran hidroponik bertingkat.

Pria muda berusia 27 tahun itu memanfaatkan lahan kosong milik pamannya untuk membangun 12 instalasi hidroponik bertingkat berbentuk huruf A atau segitiga. Jarak antarkaki 1 m dan panjang pipa 4 m. “Satu instalasi dibuat 7 tingkat kanan-kiri dengan total 14 pipa,“ kata Bayu. Sebuah pipa berukuran 3 inci itu terdiri atas 20 lubang—jarak antarlubang 20 cm. Satu instalasi memiliki 280 lubang tanam.

Sayuran hasil budidaya hidroponik lebih bersih dan renyah dibandingkan konvensional

Sayuran hasil budidaya hidroponik lebih bersih dan renyah dibandingkan konvensional

240 kg
Dari 12 instalasi itu Bayu memanen 20 kg sayuran per hari. “Satu kilogram terdiri dari 10—12 sayuran,” kata petani hidroponik beragam sayuran seperti selada keriting, romaine, dan bayam itu. Bayu menjual sayuran hidroponik ke pengepul seharga Rp5.000—Rp15.000 per kg. Dengan begitu omzet ayah satu anak itu rata-rata Rp200.000 per hari atau Rp6-juta per bulan.

Menurut Sarjana Sains alumnus Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada itu biaya produksi sekitar Rp400.000 per siklus penanaman. Bayu mendapat keuntungan Rp5,4-juta per bulan. Bayu Widhi Nugroho bukan satu-satunya penangguk laba hidroponik bertingkat. Yustinus Agung juga memanfaatkan lahan sempit untuk berhidroponik bertingkat. Lahannya cuma empat kali lapangan tenis meja. Itu pun di dak di lantai 2 rumahnya di Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta.

Di dak itu Agung membangun 4 instalasi hidroponik. Dari 4 instalasi hidroponik bertingkat itu ia panen 120 kg sayuran per 3 pekan. “Satu kilogram biasanya berisi 10 sayuran,” kata petani hidroponik sejak April 2014 itu. Seluruh hasil panen untuk memenuhi kebutuhan sayuran di restoran. Pria 34 tahun itu mengembangkan restoran Chicken Kingdom di Prambanan, Yogyakarta.

Bayu Widhi Nugroho bertani sayuran secara hidroponik bertingkat sejak setahun silam

Bayu Widhi Nugroho bertani sayuran secara hidroponik bertingkat sejak setahun silam

Dengan begitu Agung menghemat biaya belanja sayuran. Biasanya ia membeli beragam sayuran hingga 5 kg per hari. Diasumsikan harga sayuran di pasar tradisional Rp15.000 per kg. Setelah dikurangi biaya produksi sayuran hidroponik, Agung mendapat keuntungan dari menekan pengeluaran belanja restorannya Rp1,3-juta per bulan. Selain itu Agung memperoleh sayuran berkualitas, segar, dan sehat. Sebab, lokasi restoran di lantai satu, sedangkan budidaya sayuran di dak lantai dua.

Tren
Setahun terakhir petani hidroponik bertingkat seperti Bayu Widhi Nugroho dan Yustinus bermunculan di berbagai daerah. Santo di Denpasar, Provinsi Bali, membudidayakan sayuran hidroponik bertingkat dan konvensional di lahan seluas 2.300 m2. Pehidroponik sejak Juni 2014 itu mengadopsi sistem nutrient film technique (NFT). Begitu juga Very Wijaya di Medan, Provinsi Sumatera Utara, menerapkan hidroponik bertingkat dengan sistem serupa.

Jumlah sayuran yang ditanam per meter persegi lebih banyak dengan hidroponik bertingkat

Jumlah sayuran yang ditanam per meter persegi lebih banyak dengan hidroponik bertingkat

Di Yogyakarta ada Lisa Sanjaya yang membudidayakan sayuran hidroponik bertingkat sejak September 2014. Pehobi golf itu memiliki 3 instalasi hidroponik bertingkat di lahan seluas lapangan voli di samping rumahnya. Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan, Kabupaten Bandung, As As Masitoh Fourstar, memiliki instalasi hidroponik 4 tingkat berukuran 1 m x 1 m dengan 80 lubang tanam di depan rumah.

Baca juga:  Demam Jambu Madu di Luar Sentra

Bahkan, kini tren hidroponik bertingkat juga menjalar ke lingkungan kantor dan sekolah di Kabupaten Bandung. “Mereka memanfaatkan halaman di lingkungan kantor dan sekolah untuk membudidayakan sayuran hidroponik,” kata As As. Di halaman kantor Kementerian Agama, kantor Kecamatan Pameungpeuk, Dinas Industri dan Perdagangan, serta Dinas Catatan Sipil Kabupaten Bandung berhias hidroponik bertingkat.

Hidroponik bertingkat di Prefektur Chiba, Jepang. Produktivitas selada 100 kali dibanding penanaman konvensional di lahan

Hidroponik bertingkat di Prefektur Chiba, Jepang. Produktivitas selada 100 kali dibanding penanaman konvensional di lahan

Menurut Kepala Dinas Catatan Sipil Kabupaten Bandung, Drs H Salimin MSi, kehadiran hidroponik di kantornya membawa banyak manfaat. “Hal itu ternyata memicu antusiasme masyarakat untuk mengurus sendiri catatan sipilnya tanpa perantara calo,” kata Salimin. Kehadiran sayuran hidroponik pun dapat mengurangi kejenuhan masyarakat saat menunggu proses pengurusan catatan sipil. Harap mafhum, setidaknya setiap hari ada 400—500 orang yang datang mengurus berkas catatan sipil.

Efisiensi lahan
Beberapa sekolah di Kabupaten Bandung seperti SMAN 24, SMAN 11, SMKN 11, dan SMKN 12 juga demam hidroponik bertingkat. Kehadiran hidroponik bertingkat di SMAN 11 bahkan mendorong munculnya kegiatan ekstrakulikuler baru, yaitu klub hidroponik. “Padahal biasanya ekstra kurikuler yang berkaitan dengan kegiatan pertanian kurang diminati,” kata guru pendidikan Lingkungan Hidup SMAN 11, Nani Sumarni SPd.

Fenomena memanfaatkan lahan sempit untuk budidaya sayuran melanda masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Masyarakat perkotaan di Bangkok, Thailand, juga demikian. Kepada Trubus, pengelola Ack Hydroponic, Julalak B mengatakan, “Penghuni apartemen-apartemen di Bangkok banyak yang berhidroponik. Karena tak perlu lahan luas, 1 m x 2 m sudah cukup untuk berhidroponik.

"Ternyata memicu antusiasme masyarakat untuk mengurus sendiri catatan sipilnya tanpa perantara calo," kata Kepala Dinas Catatan Sipil Kabupaten Bandung, Drs H Salimin MSi

“Ternyata memicu antusiasme masyarakat untuk mengurus sendiri catatan sipilnya tanpa perantara calo,” kata Kepala Dinas Catatan Sipil Kabupaten Bandung, Drs H Salimin MSi

Di sebuah pabrik sayuran di Prefektur Chiba, Jepang, selada tumbuh subur di dalam bangunan tertutup. Sayuran itu tumbuh di rak bertingkat 12 dengan sistem budidaya NFT. Setiap tingkat dilengkapi lampu LED sebagai sumber energi pengganti matahari. Prof Toyoki Kozai, penemu teknologi plant factory with artificial light (PFAL) itu menyebut produktivitas PFAL per tahun bisa 100 kali lipat dibanding penanaman di lahan terbuka dengan teknik konvensional.

Mengapa kaum urban gandrung berhidroponik bertingkat di lahan sempit? Ketua Jurusan Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor, Ir Leni Lidya MM, menuturkan dengan budidaya sayuran secara bertingkat akan dihasilkan produksi lebih tinggi di lahan terbatas dibandingkan konvensional.

Hal itu menarik para petani sayuran hidroponik. Apalagi di pasaran harga sayuran hidroponik lebih tinggi daripada konvensional sehingga pendapatan petani hidroponik bertingkat pun lebih besar dibandingkan hidroponik konvensional. Itulah yang membuat Bayu memilih budidaya sayuran secara hidroponik bertingkat. “Lahan saya terbatas sehingga perlu teknologi untuk mendapat hasil tinggi dari bisnis pertanian,” kata mantan karyawan perusahaan multinasional pengembang aplikasi game itu.

 "Hidroponik di Indonesia saat ini masih dalam tahap peralihan dari pengenalan menuju perkembangan. Artinya umur hidroponik masih sangat panjang. Itu tentu menjadi peluang bagi para pehobi. Sebab, pasar hidroponik akan semakin besar," kata Dr Ir Arief Daryanto MEc.

“Hidroponik di Indonesia saat ini masih dalam tahap peralihan dari pengenalan menuju perkembangan. Artinya umur hidroponik masih sangat panjang. Itu tentu menjadi peluang bagi para pehobi. Sebab, pasar hidroponik akan semakin besar,” kata Dr Ir Arief Daryanto MEc.

Investasi tinggi
Di lahan 150 m2 pekebun hidroponik bertingkat dapat memanen 630 kg sayuran, sedangkan hidroponik konvensional hanya 150 kg. Dengan harga jual Rp40.000 per kg, omzet pekebun hidroponik bertingkat Rp25-juta per siklus budidaya atau 30 hari. Sementara pendapatan pekebun hidroponik konvensional hanya Rp6-juta dalam waktu sama. Biaya produksi hidroponik bertingkat relatif sama dengan konvensional, Rp475 per tanaman. Artinya, laba hidroponik bertingkat lebih tinggi dibandingkan dengan konvensional (baca: “Besarkan Laba Lahan Sempit” halaman 16—17).

Baca juga:  Sprinkler

Menurut Direktur Program Pascasarjana Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto MEc, budidaya sayuran hidroponik memikat masyarakat yang sadar akan hidup sehat. “Penduduk kota yang hanya memiliki lahan terbatas sudah dapat membudidayakan sayuran di rumah untuk dikonsumsi sendiri,” kata Ketua Asosiasi Program Magister Manajemen Indonesia itu.
Itu persis yang dialami Ely Sufianti di Margahayu, Kota Bandung, Jawa Barat. “Kesadaran hidup sehat mendorong saya bertanam sayuran secara hidroponik di rumah. Dengan begitu saya merasa aman untuk mengonsumsinya,” kata alumnus Agronomi Institut Pertanian Bogor itu.

Sepintas hidroponik bertingkat menjanjikan laba besar. Padahal, untuk meraihnya banyak hambatan menghadang. (baca boks “Bertingkat Lalu Tamat?” halaman 16). Pekebun hidroponik bertingkat di Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Roni Hartanto Gunawan, menuturkan, “Untuk skala ekonomis, pekebun hidroponik konvensional membutuhkan lahan minimal 450 m2. Sementara hidroponik bertingkat cukup 150 m2.”

Pegawai di Dinas Industri dan Perdagangan Kabuipaten Bandung memanen sayuran hidroponik di halaman kantor

Pegawai di Dinas Industri dan Perdagangan Kabuipaten Bandung memanen sayuran hidroponik di halaman kantor

Permintaan
Selain budidayanya yang bersih, sayuran hasil budidaya hidroponik pun lebih enak. Menurut Ely sayuran yang ditanam dengan hidroponik jauh lebih renyah dibandingkan dengan konvensional. Sekretaris Dinas Industri dan Perdagangan Kabupaten Bandung, Uwais Qorni SH, MSi, berpendapat serupa. “Rasa sayuran dengan sistem hidroponik jauh lebih renyah dan tidak pahit,” katanya.
Wajar jika karyawan Dinas Industri dan Perdagangan Kabupaten Bandung selalu antusias saat panen sayuran hidroponik di halaman kantor. “Biasanya semua langsung turun sambil bawa kantung keresek,” kata Qorni. Minat masyarakat mengonsumsi sayuran hasil budidaya hidroponik memang tinggi.

Menurut Direktur Produksi dan Kemitraan PT Kebun Sayur Segar (KSS), Yudi Supriyono, produksi sayuran hidroponik dari kebunnya kini mencapai 2.000 pak setara 500 kg sayuran per hari. Jumlah itu meningkat dibandingkan setahun silam yang hanya 375 kg sayuran sehari. Meski sudah meningkatkan volume produksi, PT KSS masih belum bisa memenuhi permintaan yang datang.

Semakin banyak masyarakat mengonsumsi makanan sehat, semakin tinggi permintaan sayuran hidroponik

Semakin banyak masyarakat mengonsumsi makanan sehat, semakin tinggi permintaan sayuran hidroponik

“Pada musim kemarau permintaan sayuran hidroponik mencapai 2.500 pak, sedangkan musim hujan 3.500 pak,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, itu. Pada musim kemarau sayuran hasil budidaya konvensional bagus, sehingga beberapa konsumen dari hotel, restoran, dan kafe beralih ke sayuran konvensional.

Permintaan tinggi pun Kusuma Agro Wisata (KAA) alami. Menurut Manajer Budidaya KAA, Ir Rudi Setiawan, kapasitas produksi hidroponiknya 500 kg sepekan. Sementara, “Permintaan bisa dua kali lipatnya,” kata Rudi. Menurut Arief Daryanto tingginya permintaan terhadap produk hidroponik disebabkan saat ini masyarakat Indonesia mengedepankan produk berbasis “clean and green”.

Permintaan
Mereka sanggup membayar dengan harga tinggi asalkan produk bersih, bebas pestisida, dan rasa lebih enak. Apalagi masyarakat di negara berkembang umumnya masih melihat suatu produk berdasarkan tekhniknya. “Ketika mendengar itu adalah sayuran hidroponik mereka sudah mau membayar dengan harga lebih tinggi,” kata Arief.

Displai sayuran hidroponik di sebuah pasar swalayan di Palembang, Sumatera Selatan

Displai sayuran hidroponik di sebuah pasar swalayan di Palembang, Sumatera Selatan

Selain itu, meningkatnya taraf hidup masyarakat Indonesia membuat daya beli terhadap produk-produk premium menjadi lebih tinggi. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5—6% per tahun,” katanya. Saat ini 45-juta masyarakat Indonesia tergolong menengah. Hal itu menyebabkan selera konsumsi pun bergeser dari karbohidrat ke protein. “Di masa depan masyarakat akan lebih menggemari sayuran daripada nasi,” ujarnya.

Hidroponik di Indonesia pun saat ini masih dalam tahap peralihan dari pengenalan menuju perkembangan. Artinya umur hidroponik masih sangat panjang. Berbeda dengan negara maju yang umumnya sudah dalam tahap “mature”. Itu tentu menjadi peluang bagi para pehobi. Sebab, pasar hidroponik akan semakin besar.

Namun, Arief pun tetap mengingatkan pada para pekebun agar lebih dahulu mengetahui pasar yang dituju baru berproduksi. Seringkali pekebun bersemangat meningkatkan produksi tanpa tahu ke mana harus menjual produknya. Membudidayakan sayuran dengan sistem hidroponik bertingkat salah satu jalan untuk mengisi ceruk pasar yang terus tumbuh itu. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andari Titisari, Bondan Setyawan, Muhammad Awaluddin, Muhammad Hernawan Nugroho, dan Rizky Fadhilah).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d