Rizal Fahreza, S.P., lulus kuliah langsung berkebun jeruk.

Rizal Fahreza, S.P., lulus kuliah langsung berkebun jeruk.

Jeruk garut pernah nyaris punah. Rizal Fahreza, S.P, mengembangkan jeruk berkualitas prima sekaligus agrowisata jeruk. Penghasilannya setara karier di lembaga keuangan, konsultan, atau produsen produk konsumsi.

Lulus kuliah dengan indeks prestasi 3,32 tak membuat Rizal Fahreza, S.P, tergiur bekerja di perusahaan bonafide atau pegawai negeri. Sarjana Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu malah bekerja di ladang jeruk rintisannya sendiri. Rizal mengelola kebun jeruk di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemuda 25 tahun itu mengebunkan 1.400 pohon jeruk jenis siam asal Garut di lahan 1,2 hektare.

“Dari populasi itu yang tersisa saat ini sekitar 1.200 pohon karena ada beberapa pohon yang tumbuh kurang optimal dan mati,” ujar alumnus Program Studi Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB itu. Ia panen perdana pada 2016 ketika pohon berumur 3 tahun. Kini Rizal memanen rata-rata 5—10 kg jeruk dari setiap pohon per tahun. Rizal menjual hasil panen kepada para pengunjung yang datang ke kebun.

Agrowisata

Para pengunjung dapat menikmati jeruk siam dengan memetik sendiri di kebun.

Para pengunjung dapat menikmati jeruk siam dengan memetik sendiri di kebun.

Sejak Februari 2017, Rizal membuka kebun untuk dikunjungi masyarakat umum. “Jadi konsepnya sebagai kebun edukasi dan agrowisata,” tutur anggota Dewan Pakar Himpunan Alumni IPB 2013—2017 termuda itu. Para pengunjung memetik sendiri buah jeruk matang. Cirinya kulit buah sudah mulai bersemburat kuning. Setelah memetik, pengunjung menimbang buah dan membayarnya di kasir.

Rizal membanderol harga jual jeruk Rp20.000 per kg. Menurut Rizal dengan konsep kebun edukasi dan agrowisata itu mampu menyerap hasil panen hingga 600 kg jeruk per bulan. Artinya omzet Rizal rata-rata Rp12 juta sebulan. “Sektor pertanian juga bisa menjadi salah satu pilihan karier yang penghasilannya setara dengan sektor lain, seperti lembaga keuangan, konsultan, dan produsen produk konsumsi,” kata pemuda kelahiran 8 Mei 1991 itu.

Rizal juga menyediakan beberapa saung bambu di area kebun. Di sana para pengunjung dapat beristirahat dan menikmati hidangan nasi liwet khas Parahyangan. Menurut Rizal dengan konsep kebun edukasi dan agrowisata itu menarik minat pelancong. “Kadang-kadang kami kekurangan pasokan karena saat pengunjung datang jumlah buah yang siap panen sedikit. Kekurangan itu saya tutupi dengan jeruk dari pekebun mitra,” kata pemuda 25 tahun itu.

Ide Rizal Fahreza mengembangkan jeruk tercetus saat bertemu dengan Ir. Achmad Syamsudin, M.B.A (kanan). Keduanya sepakat mengembangkan jeruk yang pernah menjadi ikon Kabupaten Garut.

Ide Rizal Fahreza mengembangkan jeruk tercetus saat bertemu dengan Ir. Achmad Syamsudin, M.B.A (kanan). Keduanya sepakat mengembangkan jeruk yang pernah menjadi ikon Kabupaten Garut.

Konsep kebun edukasi dan agrowisata jeruk itu adalah hasil inovasi Rizal bersama tim, yaitu Chikameriana Adyanisa, S.Komp. dan Dasep Badrussalam, S.T. Sebelumnya Rizal bersama kedua rekannya hanya fokus menggenjot produksi. Ia membudidayakan jeruk secara intensif, lalu menjual hasil panen kepada konsumen. “Pada awalnya kami menyasar niche market (pasar khusus, red),” tutur anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Baca juga:  Komunitas Kopi: Jatuh Hati pada Kopi

Ia menjual hasil panen kepada perusahaan-perusahaan katering, koperasi karyawan di perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan hotel bintang lima di kawasan Jakarta dan Kota Bogor, Jawa Barat. Karena target pasarnya kalangan khusus, Rizal hanya menjual jeruk berkualitas prima. Oleh sebab itu, ia menyortir hasil panen menjadi dua kelas, yaitu besar dan sedang.

Kelas besar terdiri atas jeruk berukuran sekilogram isi 8—9 buah, sedangkan kelas sedang sekilogram isi 10—12 buah. Di luar kedua kelas itu berakhir sebagai jeruk peras. Rizal menjual jeruk yang lolos sortir dengan harga Rp17.000—Rp20.000 per kg. Ia mengemas jeruk dalam dus karton berisi 3 kg per dus.

Laris manis

Kebun produksi seluas 1,2 hektare berisi 1.200 pohon.

Kebun produksi seluas 1,2 hektare berisi 1.200 pohon.

Harga jual itu relatif terjangkau. Di sebuah pasar swalayan di Kota Bogor, harga jeruk lokal berkisar Rp19.000—Rp26.000 per kg. Menurut Rizal dengan harga jual itu masih untung. Padahal, ia harus mengeluarkan biaya kirim dari Garut ke Kota Bogor. Dari Kota Hujan ia mendistribusikan jeruk kepada para pemesan di Jakarta dan sekitarnya. Rizal menuturkan biaya produksi jeruk di kebunnya rata-rata Rp3.500 per kg.

Itulah sebabnya jeruk produksi Rizal laris manis. Bahkan ia pernah kewalahan melayani permintaan sehingga terpaksa membeli jeruk dari pekebun lain di Kabupaten Garut. “Namun, karena tidak dibina sebelumnya, ternyata kualitas jeruk dari pekebun itu mengecewakan,” tutur salah satu pendiri gerakan Revolusi Oranye, yaitu kampanye pengembangan buah Nusantara dalam skala perkebunan yang digagas IPB.

Namun, Rizal tak ingin hanya fokus menggenjot produksi jeruk. “Saya juga ingin membuat pusat pembelajaran pertanian,” tutur pemuda kelahiran 8 Mei 1991 itu. Ia juga berharap dapat menjadi contoh bahwa bertani itu keren dan kekinian. Pada 2016 ia bersama rekannya, Chikameriana Adyanisa dan Dasep Badrussalam mendirikan kebun edukasi bernama Eptilu. Dalam mengelola Eptilu ketiganya berbagi tugas.

Rizal Fahreza mengembangkan jeruk dengan membuka kebun edukasi dan agrowisata bernama Eptilu.

Rizal Fahreza mengembangkan jeruk dengan membuka kebun edukasi dan agrowisata bernama Eptilu.

Chikameriana bertugas sebagai bagian pemasaran dan Dasep bertanggung jawab dalam pengembangan bisnis. “Alhamdulillah setiap minggu mulai banyak pelajar serta mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi seperti IPB, Universitas Padjadjaran, Universitas Garut (Uniga), dan perguruan tinggi swasta lokal lain yang berkunjung ke kebun kami,” ujarnya. Bahkan para pejabat di lingkungan Kabupaten Garut dan Provinsi Jawa Barat pun pernah menyambangi kebun Eptilu.

Baca juga:  Selamatkan Anggrek Tien Soeharto

Kemitraan
Sayangnya sejak mendirikan Eptilu serta membuka kebun edukasi dan agrowisata, para konsumen di Jabodetabek sering kali tak kebagian pasokan karena buah selalu habis di kebun. Harap mafhum, pengunjung terus berdatangan meski saat hari kerja. “Kalau akhir pekan bahkan seringkali tidak tertampung,” ujarnya. Untuk memenuhi kekurangan pasokan ia berencana bermitra dengan para pekebun jeruk lain di 4 kecamatan di Kabupaten Garut.

Rizal Fahreza, S.P., menerima penghargaan Youth Social Entrepreneurs Award 2017 dari ASEAN di Filipina.

Rizal Fahreza, S.P., menerima penghargaan Youth Social Entrepreneurs Award 2017 dari ASEAN di Filipina.

Petani mitra itu mengelola total 14 ha. “Sebetulnya potensi jeruk di Kabupaten Garut yang sudah saya identifikasi mencapai 75 ha. Nanti secara bertahap akan kami perluas,” ujar juara I Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Tingkat Nasional 2016 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga itu. Ide Rizal mengembangkan jeruk sejatinya tercetus sejak 2012. Ketika itu ia bertemu dengan Ir. Achmad Syamsudin, M.B.A., yang juga alumnus IPB angkatan 21.

Dalam pertemuan itu tercetuslah visi dan misi untuk membangun pertanian di Indonesia. Sebagai langkah awal, Rizal meneliti komoditas buah bernilai ekonomi tinggi. Menurut hitung-hitungan Rizal, jeruk berpeluang bisnis yang besar. Seandainya jumlah penduduk Indonesia sebanyak 200 juta jiwa dan 25% di antaranya mengonsumsi jeruk, maka kebutuhan jeruk nasional mencapai 3,7 juta ton per tahun.

“Apalagi jeruk pernah menjadi ikon Kabupaten Garut,” tutur peraih penghargaan Young on Top Duta Petani Muda Indonesia 2016 itu. Itulah sebabnya saat Rizal lolos mengikuti International Agriculture Internship Program, program magang yang diselenggarakan IPB bekerja sama dengan The Ohio State University, Amerika Serikat, ia memilih magang di sebuah perusahaan produsen jeruk di Kalifornia.

Selain wisata petik jeruk, pengunjung juga dapat menikmati hidangan nasi liwet di saung-saung yang dibangun di dalam area kebun.

Selain wisata petik jeruk, pengunjung juga dapat menikmati hidangan nasi liwet di saung-saung yang dibangun di dalam area kebun.

“Di sana saya dapat banyak ilmu tentang jeruk dan bisa saya terapkan untuk pertanian jeruk di sini,” ujar putra dari Dikdik Sontani itu. Meski baru berumur 7 purnama, Rizal senang kebun edukasi dan agrowisata Eptilu yang ia kembangkan ternyata turut membangkitkan ekonomi masyarakat sekitar. Pondok Pesantren Nurul Falah yang berlokasi di dekat kebun Eptilu memperoleh pendapatan tambahan dari karcis masuk dan jasa parkir.

Rizal menuturkan, ada juga produsen makanan ringan skala rumahan milik masyarakat sekitar yang menitipkan produknya di kedai Eptilu. Dengan berbagai upaya dan hasil yang telah dicapai pantas bila Rizal mewakili Indonesia sebagai salah satu penerima penghargaan pada ajang Youth Social Entrepreneurs Award 2017 dari Assosiation of South East Asia Nation (ASEAN) dalam rangka ulang tahun ke-50 ASEAN di Filipina. “Namun, perjalanan masih panjang. Dari target 100%, baru tercapai 2%,” tutur Rizal. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d