Laba dari Hongkong 1
Bisnis ulat hongkong menggiurkan

Bisnis ulat hongkong menggiurkan

Para peternak ulat hongkong kini menjadi jutawan.

Sebagai bankir sebuah bank pelat merah, kedudukan Hary Wibowo amat nyaman. Ia menjadi pemimpin cabang pembantu bank pemerintah di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Alumnus Universitas Airlangga itu memperoleh gaji belasan juta rupiah saban bulan. Itulah sebabnya keluarganya menentang ketika Hary berniat mengundurkan diri. Orang tua mana yang senang melihat anaknya melepas pekerjaan mapan? Namun, niat Hary yang 10 tahun bekerja itu begitu kokoh.

Pada 2013 Hary mengundurkan diri dari bank pemerintah yang acap meraih laba tertinggi itu. Pindah ke perusahaan lain? Hary Wibowo justru beternak ulat hongkong. Ulat hongkong itulah yang “memberikan” pendapatan Hary dua kali lipat lebih besar daripada gaji bankir. Tambahan penghasilan 100% itu berasal dari penjualan 2,8 ton ulat hongkong per bulan.

Peternakan ulat hongkong milik Hary Wibowo di Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Peternakan ulat hongkong milik Hary Wibowo di Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Keuntungan tinggi
Harga ulat hongkong terendah di pasaran saat peliputan pada 30 Agustus 2014 mencapai Rp40.000 per kg. Dengan volume produksi rata-rata 2,8 ton omzet Hary sungguh fantastis: Rp112-juta per bulan. Hary mengatakan, biaya produksi untuk menghasilkan ulat hongkong itu Rp70-juta—Rp84-juta. Artinya laba bersih peternak itu Rp28-juta—Rp42-juta saban bulan. Dengan keuntungan melimpah itu Hary tak menyesal berhenti sebagai pemimpin cabang pembantu sebuah bank.

Semula keluarga menyayangkan keputusan Hary. Namun, kini mereka bisa menerima alasan anaknya berhenti bekerja. Sebelum memutuskan berhenti bekerja, Hary memang mulai beternak ulat hongkong. Jadi, ketika ia melepas jabatan di bank, Hary langsung berfokus pada bisnis ulat hongkong. Pria berkacamata itu mengetahui laba besar beternak ulat hongkong dari perputaran uang milik nasabah tempat ia bekerja. “Bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan,” kata Hary.

Hary Wibowo, keluar dari bank lalu beternak ulat hongkong karena keuntungan besar

Hary Wibowo, keluar dari bank lalu beternak ulat hongkong karena keuntungan besar

Ia beternak ulat hongkong secara intensif. Hary memperhatikan betul pakan serta sarana dan prasarana penunjang seperti rak dan kumbung. Ayah 2 anak itu tidak mengandalkan pengepul untuk memasarkan produknya. Dengan begitu ia memotong rantai tataniaga sehingga bisa mengontrol harga, bukan ditentukan pengepul. Hary memasarkan produknya melalui 4 tenaga pemasar yang masing-masing membawahkan wilayah Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Malang, dan Madura—semua di Provinsi Jawa Timur. Hary menargetkan setiap pemasar menjual 50 kg ulat per hari.

Menurut dosen di Universitas Negeri Semarang, Drs Supriyanto MSi, ulat hongkong adalah larva kumbang Tenebrio molitor. Ulat hongkong pakan favorit beragam satwa klangenan seperti burung dan reptil. Menurut peternak senior, H Hadi Rumpoko, ulat hongkong memang berasal dari Hongkong. Rumpoko menuturkan pada 1985 warga Sengon, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mendatangkan ulat itu ke Indonesia untuk diternak. Dari tempat itu ulat menyebar. Rumpoko, yang beternak pada 1987, salah satu peternak pemula pada awal ulat hongkong masuk ke Indonesia.

H Hadi Rumpoko menjual 17,5 ton ulat hongkong setiap bulan

H Hadi Rumpoko menjual 17,5 ton ulat hongkong setiap bulan

Berjarak 71 km dari tempat Hary, H Hadi Rumpoko menangguk untung menjadi pengepul mealworm. Ia rutin menjual 17,5 ton ulat setiap bulan. Rumpoko memperoleh ulat hongkong sebanyak itu dari para peternak di Malang dan Blitar. Pengepul di Desa Satriyan, Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, itu mematok harga terendah Rp28.000 per kg sehingga omzet Hadi Rp490-juta per bulan. Dari omzet itu ia memperoleh laba Rp80-juta. Ulat hongkong hasil peternak sejak 1987 itu menyebar ke hampir ke seluruh penjuru tanahair.

Baca juga:  Tak Selalu Semanis Madu

Peternak di Tulungagung, Jawa Timur, Robert juga menangguk laba besar dengan berniaga ulat hongkong. Penjualan 4 ton ulat hongkong memberikan omzet Rp136-juta per bulan. Ia mengambil laba bersih minimal Rp5.000 per kg sehingga penghasilan bersih mencapai Rp20-juta. Dengan penghasilan itu, pantas bila kini ulat hongkong menjadi andalan Robert untuk mengisi rekening.

Budidaya mudah
Hary mengatakan beternak ulat hongkong relatif mudah. Peternak mesti menyediakan bibit, kotak, rak, dan ruangan. Ukuran kotak bervariasi tergantung kemampuan peternak. Robert memanfaatkan kotak kayu berukuran 60 cm x 80 cm x 7 cm sebagai wadah ulat. Sementara Hary menggunakan 2 kotak berbeda ukuran yaitu 120 cm x 60 cm (kotak kecil) dan 240 cm x 120 cm (kotak besar). Kotak kecil untuk mengangkut ulat siap jual ke konsumen, sedangkan kotak besar untuk pembiakan.

Tren memelihara reptil meningkatkan permintaan ulat hongkong

Tren memelihara reptil meningkatkan permintaan ulat hongkong

Untuk meletakkan kotak-kotak berisi ulat peternak menggunakan rak. Ukuran rak juga berbeda antarpeternak sesuai jumlah dan ukuran kotak. Rak milik Hary berukuran 5 m x 10 m x 4 m. Selanjutnya rak-rak itu diletakkan dalam suatu ruangan. Jika peternak telah menyiapkan rak dan kotak, tinggal mencari bibit berupa larva. Ciri bibit berkualitas antara lain berwarna kekuningan, mengilap, dan bergerak lincah. Hary memanfaatkan gudang bekas penyimpan tembakau sebagai 2 kandang indoor berukuran 10 m x 20 m.

Kandang indoor tertutup rapat di semua sisi berfungsi melindungi kepik bertelur. Selain itu juga melindungi telur dan larva dari gangguan luar seperti kumbang kecil pemakan telur. “Jika diletakkan di kandang outdoor rentan terserang cendawan,” kata Hary. Ia juga menggunakan 2 ruangan seluas 200 m2 sebagai kandang outdoor—dinding tidak tertutup rapat alias masih ada celah. Dinding terbuat dari potongan bambu yang disusun agak renggang. Hary menggunakan kandang outdoor saat fase kepompong.

Kumbang dewasa Tenebrio molitor yang menghasilkan ulat hongkong

Kumbang dewasa Tenebrio molitor yang menghasilkan ulat hongkong

Kumbang dewasa Tenebrio molitor yang menghasilkan ulat hongkong

Siklus ulat
Hary Wibowo mengatakan siklus hidup ulat hongkong sekitar 3 bulan. Pemilik X-Fo Mealworm itu menggunakan bibit berupa kumbang berumur 15—30 hari. Menurut M P Setyolaksono dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon larva seperti ulat, halus, dan tidak memiliki bulu serta berwarna kuning terang. Larva yang tumbuh membesar mengalami pergantian kulit karena terbentur dinding tubuh yang keras. Larva mengalami pergantian kulit hingga 20 kali.

Setiap kotak besar berisi 5—6 kg ulat. Pemberian pakan setiap 2 hari. Tergantung fase yang sedang berlangsung. Hary memberi pakan berupa polar, yaitu bagian dalam kulit gandum yang mengandung pati dan protein. Pemberian polar itu menjadikan ulat hongkong milik Hary mengandung 58—62% protein, sedangkan ulat lainnya hanya 40% karena mengonsumsi sayuran. Ketika polar berkurang, Hary menambahkan secukupnya dengan cara menabur hingga rata ke dalam kotak. Selang 50 hari ulat berubah menjadi kepompong yang berwarna putih agak kekuningan.

Pada fase itu Hary tidak memberikan pakan sama sekali. Ia menjaga tidak ada gangguan dari luar seperti getaran karena kepompong bisa stres. Jika kepompong terganggu maka kumbang yang dihasilkan cacat sehingga mempengaruhi produksi telur. Setyolaksono menyatakan pada fase kepompong tidak terjadi proses makan. Akibatnya bobot tubuh menurun karena menghabiskan banyak energi untuk mengubah bentuk dan sistem pencernaan dari larva menjadi kumbang.

Pengangkutan ulat hongkong ke luar kota

Pengangkutan ulat hongkong ke luar kota

Kulit kepompong pecah dan kumbang keluar setelah kepompong berumur 10 hari. Saat baru keluar dari kepompong, tubuh kumbang Tenebrio molitor masih lunak dan lazimnya berwarna putih pucat. Pelan tapi pasti tubuh kumbang mengeras dan berwarna lebih gelap. Kumbang itu bersayap, tetapi kemampuan terbangnya kurang baik karena adanya sayap bagian atas yang keras (elytra). Pada fase kumbang Hary memberikan pakan berupa pepaya mentah dan ampas singkong.

Baca juga:  Tanam Sayuran Sepanjang Pagar

Kumbang betina menghasilkan 200 telur setelah berumur 8—10 hari. Telur berbentuk oval dan berukuran sangat kecil dengan panjang 1 mm sehingga tidak terlihat jelas. Dua pekan berselang keluarlah ulat hongkong dari telur itu. Hary menjual ulat hongkong berumur 50 hari sejak menetas. Ulat itu lazim digunakan untuk pakan burung berkicau.

Pakan Klangenan

Pakan Klangenan

Permintaan tinggi
Menurut Hary permintaan ulat hongkong cenderung melonjak seiring meningkatnya tren burung berkicau, pemancingan, dan memelihara satwa klangenan seperti ular, landak mini, dan tokek hias. Mealworm kaya nutrisi terutama protein sehingga pas sebagai pakan beragam satwa. Pemberian ulat hongkong ke satwa kesayangan juga lebih mudah, pehobi memegang ulat dan mengarahkannya ke mulut klangenan. Jika pakan berupa jangkrik, pehobi mesti membuang kaki jangkrik sebelum menyodrokan ke satwa klangenan.

Pada awal beternak ulat pada 2010 kapasitas produksi Hary hanya 700 kg per bulan. Kini Hary sanggup memanen 2,8 ton ulat per bulan. Jumlah itu baru memenuhi 50% kebutuhan pasar. Pun demikian dengan Robert. Ia berencana menambah kapasitas produksi. “Jumlah penambahan produksi belum saya tetapkan karena melihat perkembangan pasar terlebih dahulu,” kata pria kelahiran Tulungagung itu.

Pengepul ulat hongkong di Bogor, Jawa Barat, Ilham Alamsyah menduga kebutuhan ulat hongkong wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mencapai 10 ton per pekan. Pasokan terutama berasal dari Malang, Jawa Timur. Pasar menghendaki ulat hongkong besar berukuran 2,5 cm, tidak mudah mati, dan aktif bergerak. Jika musim kemarau kebutuhan meningkat sehingga pasokan 10 ton itu masih kurang. Namun, saat musim hujan, pasokan ulat banyak dan kebutuhan 10 ton itu bisa jadi mencukupi Jabodetabek. Pria berumur 40 tahun itu baru sanggup memasok 1,8 ton per bulan.

Pasar burung salah satu lokasi penjualan ulat hongkong

Pasar burung salah satu lokasi penjualan ulat hongkong

Peternak baru
Menurut Hary, “Peluang bisnis ulat hongkong masih terbuka lebar,” kata alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga itu. Keuntungan yang menggiurkan dan tingginya permintaan membuat peternak baru bermunculan. Salah satu peternak baru di antaranya Narli di Magelang, Jawa Tengah. Narli menjual 10 kg ulat hongkong per 10 hari sejak Juli 2014. Artinya dalam sebulan ia menjual 30 kg ulat seharga Rp50.000 per kg dan mendapat omzet Rp1,5-juta.

Ulat hasil ternak pria berumur 51 tahun itu tersebar di Magelang melalui seorang pengepul. Tujuan Narli beternak ulat hongkong juga untuk mengisi waktu luang. Setiap Senin—Jumat ia 2 kali menengok kotak berisi ulat hongkong yaitu pada pukul 05.00—06.00 dan 16.00—18.00. Harap mafhum Senin—Jumat pada pukul 08.00—16.00 ia bekerja sebagai pegawai di Pusat Koperasi Angkatan Darat (Puskopad) di Kota Tentara itu. Sementara pada Sabtu dan Ahad, Narli leluasa mencurahkan tenaganya untuk merawat ulat karena kerja libur.

Nun di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Domo, juga tertarik beternak ulat hongkong. “Permintaan ulat hongkong di Bogor dan sekitarnya tinggi, tapi produsen masih sedikit,” kata pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, itu. Ia tengah membangun tempat budidaya ulat hongkong seluas 200 m2. Dengan tempat baru itu ia berharap menghasilkan 2 ton ulat per bulan dari semula 40 kg. Hasil produksi itu untuk memenuhi permintaan ulat hongkong di Bogor dan sekitarnya. Mereka ramai-ramai membudidayakan ulat hongkong karena ceruk pasar masih besar dan laba menggiurkan. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Syah Angkasa)

Hidup 84 Hari

539_ 17

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *