Permintaan anggrek cenderung meningkat untuk memenuhi berbagai keperluan seperti dekorasi dan upacara keagamaan

Permintaan anggrek cenderung meningkat untuk memenuhi berbagai keperluan seperti dekorasi dan upacara keagamaan

Permintaan dendrobium cenderung meningkat.

Dedek Setia Santoso tak pernah khawatir pundi-pundi keluarga akan berkurang. Omzet Dedek setidaknya Rp30-juta per bulan hasil penjualan 6.000 pot dendrobium. Harga tanaman belum berbunga Rp5.000 per pot. Pekebun anggrek di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, itu menjajakan seedling di kebun 1.000 m2. Seedling tanaman berdaun 6 helai hasil pembesaran bibit botolan selama 4 bulan. Di tangan pehobi, dendrobium itu bakal berbunga 6 bulan kemudian.

Sejatinya permintaan pasar mencapai 10.000 pot per bulan. Namun, Dedek hanya mampu memenuhi 80% sebab kemampuan kebun terbatas. Memenuhi 6.000—8.000 pot saja Dedek kewalahan. Buktinya pria ramah itu kerap kali harus berkeliling ke pekebun-pekebun anggrek lain untuk mencukupi pasokan. Pekebun anggrek itu menuturkan berbisnis anggrek sangat menguntungkan. “Anggrek jarang sepi peminat dan tidak tergerus oleh tren,” ujarnya.

Variasi warna dan bentuk dendrobium membuat konsumen tak pernah bosan

Variasi warna dan bentuk dendrobium membuat konsumen tak pernah bosan

Sepetak
Penjualan 6.000—8.000 pot per bulan pada saat bulan ramai. Sebaliknya pada bulan sepi, omzet Dedek melorot 50% alias hanya R15-juta. Untungnya bulan sepi itu durasinya lebih singkat. Menurut Dedek bulan sepi dalam setahun adalah sebulan sebelum Ramadan, Idul Fitri, dan sesudah Lebaran. Di luar ketiga bulan itu Dedek mampu menjual hingga 8.000 pot per bulan.

“Nyaris 75% dari total koleksi anggrek yang saya miliki adalah dendrobium, sisanya phalaenopsis, vanda, dan cattleya,” ujar Dedek. Ia menuturkan dendrobium memiliki keunggulan dibanding genus lain yaitu bentuk dan warna beragam sehingga konsumen tidak bosan. Setiap pekebun anggrek memang memiliki spesialisasi. Ada yang mengkhususkan diri pada phalaenopsis, paphiopedilum, atau dendrobium bergantung agroklimat tempat tinggal.

Baca juga:  Konsistensi Tolak Angin

Pria berusia 36 tahun itu rutin menyilangkan dendrobium-dendrobium koleksinya untuk menghasilkan jenis baru. Targetnya adalah dendrobium berpetal keriting atau spatula. Setiap hibdrida yang lahir diproduksi terbatas. “Saya menitikberatkan pada variasi jenis yang banyak, bukan jumlah tanaman,” ujar sarjana Manajemen alumnus Universitas Brawijaya itu. Untuk hibrida yang berkarakter istimewa, ia membanderol harga minimal Rp100.000 per pot.

Dendrobium hasil seedling berumur 4 bulan

Dendrobium hasil seedling berumur 4 bulan

Pemilik nurseri DD Orchid itu jatuh cinta pada keelokan dendrobium sejak 2005. Semula ia hanya memiliki 2 pot Dendrobium ‘muang thai’ yang disimpan di sepetak lahan berukuran 2 m2. “Ternyata merawat dendrobium cukup mudah,” ujarnya. Sejak itu ia getol mendatangkan jenis-jenis lain untuk melengkapi koleksinya. Ia juga menjalin hubungan dengan komunitas anggrek lokal dan nasional untuk menimba ilmu budidaya.

Manisnya berkebun anggrek juga dicecap oleh As’ary di Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. As’ary memasok dendrobium ke berbagai kota seperti Malang, Jakarta, Makassar, dan Medan. Ia memilih dendrobium bertipe spatula sebagai tumpuan utama sebab bernilai tinggi dan disukai kolektor. Selain itu ketersediaan dendrobium keriting di tanahair masih sedikit.

Dendrobium berpetal keriting idaman para kolektor

Dendrobium berpetal keriting idaman para kolektor

“Sebagian besar jenis yang beredar saat ini adalah stok dari penangkar-penangkar lawas,” ujarnya. As’ary menjual dendrobium keriting berbunga dengan rentang harga Rp100.000—Rp500.000 per pot. Penjualan tiap bulan cenderung meningkat. Pada November 2014, ia menjual 50 pot dendrobium berbunga dan 1.000 pot seedling. Harga sepot seedling Rp10.000. Di lahan seluas 700 m2 itu, As’ary juga mengebunkan phalaenopsis dan vanda.

Dendrobium hasil silangan antara D. salak dengan D. cristabela

Dendrobium hasil silangan antara D. salak dengan D. cristabela

Unggulan
Keistimewaan lain, dendrobium adaptif di dataran rendah. Bunganya tahan hingga 1 bulan sehingga bisa dinikmati lebih lama. Bandingkan dengan cattleya yang sudah rontok 2 pekan setelah mekar. Itu yang menyebabkan konsumen gemar dendrobium sehingga bisnisnya terus menggeliat. Hingga kini Indonesia mengekspor dan mengimpor bunga itu. Data ekspor anggrek Indonesia menurut Badan Pusat Statistika (BPS) pada 2008 mencapai US$ 740.751, sementara impornya US$ 78.265.

Baca juga:  Satu Pot Tiga Rempah

Indonesia mengekspor anggrek ke berbagai negara seperti Jepang, Taiwan, Singapura, Hongkong, dan Belanda. Menurut Prof Dr Ir Achmad Suryana, MS, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian periode 2004—2008, permintaan anggrek terus meningkat dimana pun di dunia untuk berbagai keperluan seperti upacara keagamaan, hiasan dan dekorasi ruangan, ucapan selamat serta untuk ungkapan dukacita. Dalam berbagai suasana itu, masyarakat tetap membutuhkan dendrobium. (Andari Titisari/Peliput: Bondan Setyawan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d