Kuncinya Pasar 1
Pasar modern menghendaki produk dengan mutu ajek

Pasar modern menghendaki produk dengan mutu ajek

Kebanyakan petani sangat menguasai teknik produksi. Ketika panen raya, semua memproduksi barang yang sama, sehingga penawaran berlebih. Harga anjlok, petani tidak balik modal. Padahal, pada awal masa tanam mereka meminjam rmodal berbunga tinggi. Akhirnya mereka kehilangan lahan lalu urbanisasi ke kota besar. Keahlian menggarap lahan sampai menghasilkan tidak lagi berguna. Itu yang terjadi selama ini, petani selalu supply driven alias berorientasi produk.

Bahkan ada konsep supply can create its own demand, pasokan dapat menggerakkan permintaan. Asal saja menanam komoditas yang sama dengan tahun lalu. Petani mesti diajari membaca pasar alias market driven. Artinya mereka harus bisa membaca keinginan pasar sebagai dasar memilih komoditas yang akan diusahakan.

Menuntut lebih
Komoditas pertanian mesti diusahakan secara efisien. Semakin banyak hasil, semakin rendah biaya. Namun, untuk memperoleh harga tinggi, mereka harus menghasilkan produk yang berbeda dengan yang sudah ada. Sama-sama menanam padi, sekarang petani menanam secara organik. Berasnya dikemas secara menarik menggunakan mesin vakum sehingga menghasilkan bentuk rapat yang elegan. Kemasan itu menjadikan produk tahan lama tanpa harus menyemprotkan pengawet maupun insektisida untuk membasmi hama gudang. Perlakuan pascapanen mutlak diperlukan.

Cara lain mendapatkan harga tinggi adalah menanam produk unik seperti beras merah atau hitam. Kalau penjualan secara curah tidak mendapat respons pasar, jual olahannya seperti tepung beras merah sebagai makanan pengganti air susu ibu (ASI) atau tepung beras hitam sebagai minuman kesehatan. Lagi-lagi, itu memerlukan penanganan pascapanen yang baik. Harus ada strategi matang sebelum memulai produksi. Oleh karena itu wirausaha pertanian mesti berpikir memulai dari pasar, bukan lagi asal menanam seperti sebelumnya. Pertanian harus terintegrasi dari lahan sampai ke meja makan.

Jika pertanian menjadi usaha komersial, perlu juga strategi mempertahankan kelangsungannya. Produk legendaris seperti pasta gigi, mi instan, atau minuman ringan pun terus berinovasi meski mereknya menjadi nama generik. Mereka selalu mendesain ulang kemasan, menjaga kualitas dan rasa, serta melakukan promosi gencar untuk menjaga ingatan publik. Semakin banyak dan dalam orang ingat, semakin efektif suatu promosi.

Baca juga:  Bedah Model Bertingkat

Demikian juga seharusnya produk pertanian. Dahulu orang mengenal merk IR sebagai beras kelas bawah. Sekarang muncul rojolele sebagai perwakilan beras berkelas. Jangan lupa, kualitas produk juga harus ajek. Kalau berubah-ubah, pembeli pasti berpaling. Saat ini konsumen bergeser ke kelas menengah yang tumbuh pesat. Pola konsumsi mereka bergeser dari dominan karbohidrat menjadi dominan nilai. Dahulu sekadar kenyang sudah puas, sekarang citarasa, penampilan, sampai kebersihan menjadi tuntutan.

Kelas menengah
Konsumen kelas menengah bersedia dan mampu membayar harga yang pantas untuk makanan yang bebas efek samping terhadap kesehatan. Pertumbuhan kelas menengah memicu tren wisata kuliner. Konsumen kelas itu bersedia membayar lebih tinggi sepanjang memperoleh kualitas yang setara. Konsumen kelas menengah itulah yang menjadi bidikan wirausahawan pertanian. Mereka tidak segan membelanjakan uang untuk kepuasan.

Di Thailand, wirausaha pertanian melahirkan banyak kelas menengah baru. Di luar Bangkok, banyak rumah di tepi kebun buah memajang mobil kabin ganda dengan ban besar. Tidak sekadar menggambarkan kelas ekonomi dan penghasilan, mobil itu memang bermanfaat di lahan. Itu alasannya mereka tidak memilih sedan atau mobil kota seperti yang banyak melintas di jalan raya kita sekarang. Sektor pertanian yang menjadi andalan Thailand memang banyak dimotori kaum muda eks kantoran yang melihat peluang di kebun, banting setir, dan sukses.

Tren itu kini menyebar ke Indonesia. Wajar ada tentara beternak kambing, pegawai bank keluar untuk beternak ulat hongkong, atau sarjana nonpertanian menekuni bisnis bibit tanaman. Mereka semua market driven: melihat peluang pasar, menganalisis risiko, lalu mengeksekusi. Perlu dipahami bahwa pertanian adalah bisnis yang sangat tergantung alam. Ketersediaan air, sinar matahari, atau serangan hama penyakit adalah faktor pembatas yang harus diperhitungkan.

Bisa saja meniru pabrik yang tertutup sama sekali, tapi pasti investasi dan biaya operasional tinggi. Saat ini pertanian modern menganut prinsip berkelanjutan dan minim pemberian bahan tambahan (LEISA, low external input sustainable agriculture). Contohnya pemanfaatan pupuk organik atau pestisida nabati. Tujuannya meminimalkan residu bahan kimia yang terbawa hingga meja makan.

Baca juga:  Waspada Curah Hujan

Untuk meningkatkan nilai tambah, pertanian modern bisa saja tidak hanya menjual produk. Membuat paket liburan kembali ke alam untuk anak-anak, menyediakan tempat pembelajaran atau sekolah lapang, atau memproduksi sarana produksi pertanian organik untuk lahan di sekitarnya bisa menjadi alternatif. Wirausahawan yang jeli melihat peluang memasok sarana produksi tani, contohnya alumnus Institut Pertanian Bogor di Jawa Timur yang sukses berusaha pupuk organik.

Dr Ir Arief Daryanto MEc

Dr Ir Arief Daryanto MEc

QQDC
Hasil pertanian modern tidak cocok masuk ke pasar becek. Lebih pas ke pasar modern. Kini pertumbuhan pasar modern—termasuk minimarket—melebihi kecepatan pertumbuhan ekonomi. Pertambahan jumlah gerai pasar modern 15% per tahun, lebih cepat ketimbang pertumbuhan ekonomi yang hanya berkisar 3—5%. Namun, produk yang bisa masuk harus memenuhi syarat qqdc: quality, quantity, delivery, continuity (mutu, jumlah, penyampaian, dan kesinambungan).

Artinya, produk pertanian bisa menembus pasar modern kalau mutu dan jumlahnya ajek, pengiriman dari sentra ke gudang lancar, serta tersedia terus-menerus. Kaum urban di kota pun bisa memanfaatkan lahan yang ada untuk bertani. Tren hidroponik sekarang ini contohnya. Tujuan awalnya meningkatkan nilai nutrisi untuk keluarga, itu sebabnya biasanya pelakunya adalah kaum ibu. Sayuran dari kebun sendiri dianggap lebih enak dan bersih.

Setelah produksi meningkat, mereka mulai menawarkan kepada tetangga sekitar. Tanggapan bagus, permintaan meningkat, produksi kurang sehingga mereka memperluas lahan. Saat itulah mereka mulai berhitung. Konsep pertanian perkotaan semakin populer di kota-kota besar seluruh dunia. Semua tempat terbuka diisi, mulai dari tembok gang sempit sampai atap gedung pencakar langit.

Urban farming berperan mengurangi polusi udara di sekitarnya, menyediakan udara segar, dan menjadi sumber nutrisi. Itu semua menggambarkan agribisnis semakin menarik bagi khalayak. Gambaran pertanian yang kotor, bercucuran keringat, dan hanya memberi sedikit penghasilan, kini berubah. Pengusaha menerjuni agribisnis dengan perhitungan matang. (Dr Ir Arief Daryanto MEc, Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor, Ketua Asosiasi Program Magister Manajemen Indonesia)

FOTO:
>

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments