Kulit Rambutan Jaga Hati 1
Kulit buah rambutan menjaga hati dari paparan radikal bebas.

Kulit buah rambutan menjaga hati dari paparan radikal bebas.

Kulit buah rambutan mencegah kerusakan lever akibat stres oksidatif.

Nasib kulit buah rambutan hanya teronggok di tempat sampah. Paling banter kulit rambutan dibenamkan ke tanah sebagai tambahan bahan organik. Padahal, kulit itu mengandung senyawa antioksidan golongan flavonoid seperti geraniin dan corilagin. Bahkan, riset terbaru Arifia Kusuma Dewi dan rekan dari Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang membuktikan senyawa kulit rambutan menangkal kerusakan hati akibat stres oksidatif.

Stres oksidatif akibat lemahnya tubuh dalam menetralisasi radikal bebas dari senyawa reaktif oksigen. Senyawa itu di antaranya anion superoksida, hidrogen peroksida, radikal hidroksil, dan peroksinitrit. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) dr Hardhi Pranata SpS MARS, stres oksidatif menyebabkan proses degeneratif seperti aterosklerosis, stroke, penyakit parkinson, alzheimer, jantung koroner, diabetes mellitus, kanker, dan penuaan dini.

dr Hardhi Pranata SpS MARS, ketua umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia.

dr Hardhi Pranata SpS MARS, ketua umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia.

Stres oksidatif
Radikal bebas berupa senyawa atau molekul dengan satu atau lebih elektron tak berpasangan pada orbit luarnya. Oleh karena itu untuk mencapai kestabilan ia mencuri molekul dari sekitarnya. Terjadilah reaksi berantai membentuk radikal baru. Hardhi menuturkan bahwa radikal bebas dapat merusak membran sel, protein, lemak, dan deoxyribose-nucleic acid (DNA).

Menurut dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Gatot Subroto di Jakarta itu, radikal bebas dapat berasal dari dalam tubuh seperti kerusakan sel akibat olahraga berat, stres, proses glikosilasi, metilasi, dan kelainan genetika. Dari luar tubuh, radikal bebas berupa polusi asap, rokok, gizi buruk, pestisida, efek kemoterapi, dan efek radiasi. Untuk mengatasi radikal bebas tubuh butuh antioksidan.

Dalam keadaan normal, tubuh memproduksi antioksidan seperti enzim glutation (GSH) dan super oksida dismutase (SOD). “Enzim itu mampu menetralisasi radikal bebas di dalam tubuh,” kata Hardhi. Namun ketika radikal bebas terlalu banyak, antioksidan tubuh tak mampu mengimbangi radikal bebas. Terjadilah stres oksidatif. Salah satu pilihan untuk mengatasinya adalah konsumsi kulit buah rambutan.

Baca juga:  Seledri Jaga Hati

Arifia Kusuma Dewi menguji coba kulit rambutan terhadap tikus berbobot 320—400 g yang mengonsumi pakan tinggi kalori dengan nilai 3812 kalori per kg. Komposisi pakan itu meliputi 20,5% protein, 5% lemak, 73,9% karbohidrat, 1,6% vitamin plus mineral. Dengan nilai kalori tinggi, tikus menderita obesitas dan mengalami stres oksidatif. Arifia menggunakan 25 tikus jantan terbagi dalam 5 kelompok perlakuan.

Perlakuan pertama sebagai kontrol, kedua hanya diberi akuades. Untuk perlakuan ketiga hingga kelima diberi ekstrak kulit rambutan dengan dosis masing-masing 15 mg, 30 mg, dan 60 mg per kg bobot tubuh. Setelah 12 minggu perlakuan, Arifia mengambil hepar tikus dengan membedahnya. Ia hendak menguji kadar malondialdehyde (MDA) setiap hewan uji itu. Senyawa MDA salah satu produk akhir peroksidasi polyunsaturated fatty acid (PUFA) di dalam sel.

Polusi udara bisa menjadi pemicu radikal bebas.

Polusi udara bisa menjadi pemicu radikal bebas.

Flavonoid
Senyawa MDA bersifat toksik kepada sel. Oleh karena itu jumlah MDA dapat digunakan sebagai indikator kerusakan sel atau jaringan karena stres oksidatif akibat peningkatan aktivitas peroksidasi lipid. Hasilnya, tikus yang mengonsumsi ekstrak kulit rambutan berdosis 15 mg memiliki kadar MDA hanya 90 ng/ml, sementara kontrol memiliki kadar MDA mencapai 125 ng/ml.

Menurut Arifia, senyawa flavonoid pada kulit buah rambutan yang berperan menekan kerusakan hati akibat stres oksidatif. “Flavonoid diduga mampu menghambat proses peroksidasi lipid pada tahap inisiasi, sehingga radikal bebas tidak dapat berkembang menjadi radikal bebas yang baru,” ujar Arifia. Namun pada dosis 60 mg/kg bb, kadar MDA kembali tinggi mencapai 105 mg/ml.

“Hal itu akibat antioksidan berupa flavonoid diduga aktivitasnya menurun bahkan berperan sebagai prooksidan (kebalikan antioksidan, red.),” ujar Arifia. Konsentrasi antioksidan yang ditambahkan dapat berpengaruh pada laju oksidasi. Pada konsentrasi tinggi, aktivitas antioksidan grup fenolik sering lenyap bahkan menjadi prooksidan. Artinya penggunaan ekstrak kulit rambutan Nephelium lappaceum tak boleh berlebihan.

Baca juga:  Pandan Wangi 25 Hektare

Aktivitas antioksidan kulit rambutan juga sudah teruji oleh Oentarini Tjandra dari Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanegara, dan rekan dari Universitas Negeri Jakarta. Oentarini menggunakan kulit rambutan jenis rapiah yang ia potong tipis-tipis lalu dikeringkan dan dijadikan serbuk. Serbuk kering kulit rambutan sebanyak 1 kg ia ekstraksi selama 3 hari dengan pelarut metanol. Hasil ekstraksi itu kemudian ia keringkan lagi hingga menjadi kering. Ekstrak kering kulit rambutan itulah yang ia uji fitokimia dan aktivitas antioksidannya.

Hasilnya, serbuk kulit rambutan mengandung senyawa golongan steroid, terpenoid, fenolik, dan flavonoid. Sementara ekstrak metanolnya hanya mengandung steroid, fenolik, dan flavonoid. Pada uji aktivitas antioksidan, ekstrak metanol kulit rambutan memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC-50 0,412 µg/ml.

Rimpang temumangga juga berkhasiat pelindung lever.

Rimpang temumangga juga berkhasiat pelindung lever.

Herbalis di Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ujang Edi meresepkan kulit rambutan untuk mengatasi penyakit hati secara tunggal. Caranya dengan mengeringkan kulit buah rambutan yang sudah tua, berwarna merah, selama 3—4 hari. Tumbuk bahan itu hingga hancur menjadi serbuk. Untuk mengonsumsinya, seduh 1 sendok teh serbuk kulit rambutan dengan setengah gelas air panas.

Konsumsi seduhan kulit buah tanaman anggota famili Sapindaceae itu secara rutin sehari tiga kali. Menurut Ujang Edi keunggulan herbal kulit rambutan adalah dari segi rasa yang lebih netral. Tidak pahit, getir, atau langu. “Rasanya hampir tidak ada, sehingga lebih mudah masuk ke mulut dan lambung,” ujar Ujang. Namun kekurangannya karena buah rambutan ada musimnya, sehingga tidak selalu tersedia. “Alternatifnya bisa konsumsi herbal daun sembung, temumangga, atau temulawak yang sudah lazim di masyarakat,” ujarnya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments