Daging burung belibis hasil budidaya di Kalimantan Selatan.

Daging burung belibis hasil budidaya di Kalimantan Selatan.

Menjelang hari Lebaran, Juli 2015 terkuak penyelundupan daging trenggiling beku yang nyaris lolos dari Bandar Udara Juanda, Surabaya. Petugas pabean menyita dan memusnahkan 455 trenggiling Manis javanica berbobot 1,3 ton yang sudah dikemas dalam 43 boks dan disamarkan sebagai ikan segar. Kabarnya harga satu kilogram daging trenggiling mencapai Rp2,5-juta di pasar internasional.

Pantaslah sejak 2010 kita berulang-ulang membaca penangkapan atau penggagalan penyelundupan trenggiling, baik berupa daging maupun masih hidup dalam kantong plastik. Tercatat juga 106 ekor trenggiling dari Bengkalis, Provinsi Riau dengan tujuan Malaysia dan 85 ekor trenggiling dalam keranjang. Itu masih dalam bus malam di Medan, Sumatera Utara, tak jelas siapa pemiliknya.

Peluang pasar
Yang jelas trenggiling diminati dan sering jadi berita. Tentu kita harus prihatin, bagaimana kalau penyelundupan itu sukses. Berapa banyak ekspor daging trenggiling yang lolos ke luar negeri, sementara di kampung halaman hampir punah. Anteater alias pemakan semut (dan rayap) itu seyogyanya sudah lama dibudidayakan. Dari sisi agribisnis, kuliner ekstrem sebetulnya membuka peluang besar.

Kita memang tidak melihat daging trenggiling ditawarkan di restoran. Namun, banyak masakan lain yang tak kurang dahsyatnya. Ada satai biawak, keripik siput, rempeyek laron, bothok tawon, kelelawar rica-rica, ulat sagu dan ulat jati, belalang goreng, tongseng penyu, tikus panggang, sup kupang, semur kelinci, daging buaya, dan seterusnya. Khusus untuk buaya—karena banyak peternakan dan dibudidaya—beberapa pasar swalayan di Tiongkok menjualnya secara legal.

Harga dagingnya dirinci mulai kepala, jeroan, kaki dan tangan, sampai ekornya. Sementara di Indonesia, yang paling kaya ragam daging eksotis adalah Provinsi Sulawesi Utara. Kita dapat memesan aneka daging, termasuk dari hewan kesayangan, teristimewa anjing dan kuda yang sebaiknya: jangan! Teman-teman saya di Kotamadya Tomohon, Sulawesi Utara, berkata, “Semua yang berkaki, kecuali meja bisa dikonsumsi asal pintar masaknya.”

Masalahnya terbesar adalah: siapa yang dengan sengaja beternak satwa kesukaan itu? Perburuan aneka ragam sumber protein hewani, membuat anak cucu tak lagi menyadari bahwa Nusantara adalah rumah bagi mayoritas jenis hewan di Bumi, baik darat, air maupun udara. Mari kita mulai dari yang sederhana, burung punai Treron curvirostra. Di restoran besar sekelas Medan Baru, kita bisa ditraktir goreng burung punai yang harganya tak lebih dari Rp25.000 seporsi.

Baca juga:  Anjing Jumbo Asal Tibet

Burung punai dalam bahasa Jawa disebut manuk jowan adalah semacam merpati liar berbulu hijau. Tentu, rasanya lebih gurih daripada daging ayam. Sayangnya semakin lama semakin jarang. Hal serupa terjadi dengan burung-burung air sejenis belibis yang disebut ayam-ayaman. Sepanjang dasawarsa 1970 hingga awal 1990-an kita bisa menikmati burung goreng di jalan-jalan kota Jakarta.

Penjualnya memakai gerobak dengan lampu stromking dan kompor gas menyala. Dagangannya sekilas mirip ayam goreng, tapi sebenarnya burung rawa-rawa. Berjuta-juta ekor burung bermigrasi dari daratan Asia menuju Australia dan singgah di pesisir Indramayu utara, Provinsi Jawa Barat. Dengan mudah burung-burung itu bisa dijaring dan dijual murah ke Jakarta. Akibatnya, di kancah konservasi internasional ada istilah “The Indramayu Massacre” pembantaian yang membuat populasi belibis dan aneka burung rawa-rawa menurun drastis.

Unggas pedaging
Perdagangan daging burung punai, belibis, bebek liar, entok, dan angsa masih kita temukan di berbagai kota. Namun, sudah saatnya ada upaya yang jelas dan terencana untuk menjamin keberlanjutannya pada masa depan. Masyarakat internasional juga menerima perniagaan daging buruan kalkun, burung puyuh jepang, bebek dan burung unta atau ostrich.

Burung unta pernah diupayakan diternakkan di Nusa Tenggara Timur. Pada April 1996 dimulai investasi 500 anakan burung unta di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Harga satu porsi bistik burung unta di Jakarta Rp50.000 waktu itu. Publik juga mulai suka dan kita bisa menikmatinya di hotel berbintang maupun membeli daging mentahnya di beberapa pasar swalayan. Sayang, peternakan burung unta kesulitan mendapat kedelai, makanan pokok burung itu. Setelah krisis moneter 1998, kita sulit mencari daging burung unta untuk konsumsi dalam negeri.

Padahal burung unta Struthio camelius sangat potensial sebagai pemasok daging unggas. Maklum bobot dagingnya bisa mencapai 80 kg seekor dengan tinggi tubuh 2,5 meter. Seekor betina burung unta bisa menghasilkan 75 telur setahun. Masuk akal bila sampai sekarang burung unta diandalkan sebagai primadona ekspor dari Nusa Tenggara Timur. Pasar utamanya adalah Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

Daging burung unta lebih disukai karena kolesterol rendah. Tidak kurang dari Walikota Kupang, Paul Lawa Rihi ikut mempromosikan peternakan burung unta dan menyediakan lahan sekitar 450 hektar. Kini peternakan burung unta juga dikembangkan oleh Malaysia dengan tujuan penyediaan daging unggas yang sehat dan praktis. Secara intensif tiap setengah hektar lahan cukup untuk memelihara 40 ekor burung raksasa itu.

Eka Budianta

Eka Budianta

Peternakan eksotis
Kuliner ekstrem semestinya mendorong lahirnya peternakan eksotis. Hal itu sudah dimulai ketika krisis moneter mendera Indonesia dan negara-negara Asia pada umumnya. Di desa-desa Gunung Kidul, Yogyakarta, peternakan burung puyuh berjalan secara massal dengan produksi telur dan daging secara reguler. Rumah-rumah untuk burung walet juga dibangun di berbagai kota, teristimewa untuk “Kota Walet” seperti Kisaran, Sumatera Utara.

Baca juga:  Besar Berkat Burung Cinta

Sejalan dengan itu kita melihat peternakan semut dan jangkrik ikut menggerakkan ekonomi. Rumah-rumah semut bermunculan di Bogor, Jawa Barat, menghasilkan panen telur untuk pakan burung. Bermacam semut, rayap, dan ulat kini mulai dibudidaya bahkan diternakkan besar-besaran. Persediaan pakan unggas– baik untuk burung hias maupun burung pedaging seperti unta, kalkun, dan angsa merupakan kunci sukses agribisnis ini.

PT Royal Timor Ostrindo yang beternak burung unta di Camplong—45 km timur kota Kupang, kesulitan mendapat kedelai karena sedikit sekali penanamnya di sana. Para petani terpatok pada produk tradisional dan kurang berani menanam komoditas baru. Direktur perusahaan itu, Arsul Sutana berkata, “Sebenarnya kehadiran peternakan burung unta di daerah ini memberikan peluang usaha kepada masyarakat sekitarnya. Sayangnya, peluang itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.”

Revolusi mental di bidang agribisnis diperlukan untuk menghadapi tantangan yang baru, teristimewa menyangkut kuliner ekstrem. Dengan menjadi peladang, peternak, dan petani, seharusnya kita meninggalkan kebiasaan berburu yang cenderung distruktif dan tidak ramah lingkungan. Satu generasi (25 tahun) yang lalu, burung punai dada abu-abu Treron griseicauda mudah sekali dilihat di sekitar Kampus Institut Teknologi Bandung.

Biasanya burung punai datang dalam kawanan besar sampai 100 ekor. Kini sudah jarang–meskipun sesekali masih dapat kita temukan di perkotaan yang rimbun termasuk kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tantangannya tentu menyediakan pakan yang berlimpah– dan selekasnya dibudidaya. Burung rawa-rawa termasuk belibis sudah mulai dikembangkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Peternakan rayap, ketonggeng, lintah, cacing, capung, aneka ulat (kupu-kupu), dan belalang sebagai mata rantai protein hewani selalu menunggu kepeloporan. Itulah jalan menuju peternakan alternatif baik untuk kuliner ekstrem, maupun teristimewa bertujuan melestarikan alam. ***

*) Kolumnis Trubus, budayawan, pengurus Tirto Utomo Foundation dan mitra utama Senior Living @D’Khayangan.

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d